
Sekuat apapun kau menolak jika dia yg ditakdirkan maka dia selalu ada, tapi sekuat apapun kau genggam dia, jika dia tidak ditakdirkan makan dia akan pergi...
@mahaayu
Sudah hampir empat bulan Zahra bertugas di Puskesmas kota kecamatan dan Bidan desa di kampung Padasuka, Zahra orang yang mudah bergaul dan supel itu, cepat sekali akrab dengan semua orang kampung tersebut.
Bahkan ketika musim panen pun tanpa segan Zahra pergi ke sawah hanya sekedar menyapa dan bersenda gurau, bahkan dia tidak risih sama sekali ketika makan bersama para petani di pematangan sawah.
Begitu juga dengan keluarga Rehan, bidan yang mempunyai ciri khas tersendiri yaitu selalu memakai hijab berwarna biru itu, semakin akrab dengan keluarga tersebut.
"Selamat pagi Bu Bidan, mau kemana Bu pagi-pagi begini?" tanya salah satu warga menyapa Zahra yang baru saja memasuki gang.
"Selamat pagi juga Bu, eh ini mau ke rumah Umi Kinan untuk pesan rengginang dan beberapa kue untuk acara nanti di puskesmas, permisi bu," timpal Zahra sambil berlalu.
"Assalamualaikum Kang Rehan, selamat pagi," ucap Zahra dengan senyum manis nan ramah lingkungan, setibanya ditempat yang dia tuju dan kebetulan yang sangat menyenangkan ternyata orang yang sedang dia cari tengah memanaskan motor matic kesayangannya.
"Waalaikumsalam, and Goodmorning juga Teh Zahra, tumben pagi-pagi udah mampir aja, ada apakah gerangan Sang Bidan Primadona desa Padasuka singgah di rumah sederhana kami ini," ucap Rehan sambil bercanda.
"Ish.. Akang mah pagi-pagi udah ngejek aja, ngomong-ngomong Umi Kinan kemana Kang?" timpal Zahra sambil menanyakan keberadaan ibunya Rehan.
"Hehehe .. Betulkan, siapa sich yang tidak kenal sekarang sama Teh Zahra bidan cantik yang terkenal baik hati dan pandai menabu-, Aw aw" ucap Rehan yang masih jahilnya mengolok Zahra, hingga cubitan dipinggang pun mendarat dari jari lentik sang bidan.
"Eh ada Neng Zahra, ada perlu apa?" sapa Umi, ketika dia mendengar keributan dari depan, yang ternyata itu adalah kelakuan anaknya dan Bidan muda tersebut, memang dalam dua bulan ini, Zahra selalu menyempatkan mampir di rumahnya meski hanya sekedar bermain bersama Kinan.
"Ini Umi, Zahra mau pesan rengginang sama beberapa kue kukus untuk acara nanti di Puskesmas lebih tepatnta sich besok siang, jadi pagi-pagi Zahra kesini lagi untuk mengambilnya," ucap Zahra, menjelaskan maksud kedatangannya pagi ini.
__ADS_1
"Mepet amat? tapi untunglah masih banyak stok dan kalau kue kukus bisa sekarang dikerjakannya, jadi besok pagi insyaallah sudah siap, gak usah biar Rehan aja yang anterin, sekalian dia nanti pergi buka rukonya pagi-pagi, kalau gak salah konternya Rehan sama Puskesmas cukup dekat ya? jadi sekalian aja," timpal Umi.
"Hmmz... Ngerepotin Kang Rehan gak?" ucap Zahra sambil melirik ke arah Rehan yang tengah bersiap-siap.
"Nggaklah, santai aja Teh Zahra mah, tau-tau besok pagi udah nyampe di meja tunggu puskesmas," ucap Rehan menjawab keraguan perempuan tersebut.
"Jadi, sudah beres soal siapa yang bakal nganterin, jadi Umi permisi dulu, mau siapkan bahan-bahan untuk buat kuenya," ucap Umi kemudian pergi menuju tempat kerjanya yaitu dapur tercinta.
"Kinan ambilin dulu air minum untuk Teh Zahra," teriak umi dari dalam menyuruh Kinan mengambilkan air, tanpa diteriaki dua kali Kinan langsung gesit membawa segelas Teh manis anget kesukaan Zahra.
"Kang hari minggu sibuk gak?" tanya Zahra setelah suasana cukup lengang.
"Hmmz.. Nggak kayaknya, emang ada apa, mau ngajak kencan?" ucap Rehan blak-blakan, sikap Rehan sungguh berbeda ketika berhadapan dengan Rena, ketika itu bahkan untuk sekedar memulai ngobrolan saja dia selalu canggung, apa mungkin karena sikap Zahra yang selalu supel dan selalu riang, beda dengan Rena yang terlihat ceria tapi ada sendu yang selalui di tutup-tutupi.
"Yaa bisa dibilang begitu, jadi deal ya? bisa temenin Zahra hari minggu ini, awas aja kalau gak mau, biar ku suntik sama suntikan gajah" ucap Zahra memastikan dengan nada bercanda tapi mengancam.
"Widiihhh.... Yang lagi ngebahas soal kencan, sampai gak tau adik imutnya ini udah bawa minuman buat Teh Zahra, sungguh cinta membuat dunia dan seisinya teralihkan," seru Kinan yang mengagetkan mereka berdua.
Sementara keduanya hanya tertawa mendengar keluhan dari si bungsu ini, tapi dalam hati Kinan bersyukur melihat kakaknya kembali ceria, tidak seperti setengah tahun yang lalu ketika kakaknya dirundung sedih yang dia tidak tahu apa penyebabnya.
Tapi sekarang dia mengerti dan bisa membayangkan apa yang terjadi, karena semenjak kakaknya dirundung sedih dan berakhir dengan jarum infus menempel dilengannya, dia tidak pernah melihat lagi Kak Rena datang ke rumahnya, bahkan dia baru tau bahwa Kak Rena tidak lagi menjadi bidan di desanya lagi.
***
Pagi yang cerah dihari minggu, dengan sisa-sisa kabut yang mulai menipis dihempaskan oleh cahaya mentari, terlihat seorang perempuan keluar dari gerbang, lalu dia mulai memainkan handphonenya dan langsung menelpon.
__ADS_1
"Ish.. Kok gak diangkat, jangan-jangan Kang Rehan lupa lagi," gerutu Zahra dan langsung mengetik sms ke nomernya Rehan, tapi baru selesai dia mengetik, yang ditunggu sudah datang dan dengan iseng mengagetkannya dengan bunyi klakson.
"Hehehe.... Maaf gak diangkat, soalnya kan lagi berkendara," ucap Rehan sambil nyengkir karena geli melihat bidan tersebut sedikit loncat karena kaget.
"Ish... Rese amat sich, udah telat bikin jaget lagi, makan nasi uduk dulu yu Kang," gerutu Zahra, tapi sedetik kemudian dia mengajak untuk sarapan.
"Ayo, tapi Teh Zahra yang traktir ya," timpal Rehan sambil memberikan helm.
"Yey... Enak aja, masa bos bengkel elektronik minta ditraktir sama pekerja honor, kebalik donk," seru Zahra.
Setelah mampir sebentar di warung nasi uduk untuk sarapan, mereka berdua pun berangkat ke tempat yang dituju, yaitu ke daerah puncak bogor.
"Kang nanti kita berhenti dulu di pertigaan ya, nungguin teman-teman saya," seru Zahra cukup keras karena suaranya terbawa oleh hembusan angin.
"Iya, siap," jawab singkat Rehan, dan terus fokus mengendarai motor.
"Oi... Udah dari tadi ya?" seru Zahra menegur teman-temannya, ketika Rehan merapatkan motornya ke bahu jalan, dan terlihat tiga motor dengan beberapa orang tengah beristirahat.
"Hei Zahra, nggak juga baru sepuluh menit yang lalu," ucap Lena dan langsung menghambur peluk ketemannya itu.
"Mau langsung apa istirahat sebentar?" tanya suaminya Audy, dia terus mengamati Rehan, karena seperti pernah melihatnya.
"Istirahat aja dulu, sambil ngedinginin mesin," jawab seorang pria berperawakan kekar meski terlihat masih muda, yang ternyata itu adalah pacarnya Lena yang seorang tentara.
"Baiklah, teman-teman perkenalkan ini pacar gue," ucap Zahra penuh senyum, dan itu membuat Rehan yang tengah minum air mineral mendengarnya langsung tersedak.
__ADS_1
"Haa... Yang benar? tapi syukurlah akhirnya geng kita sudah gak ada yang jomblo lagi," seru Audy.
Setelah hampir 20 menit, mereka pun kembali berjalan, sementara Rehan masih mencerna dengan maksud perkataan perempuan yang tengah diboncenginya.