Asa Di Ujung Lembayung

Asa Di Ujung Lembayung
Membicarakan Hak Waris


__ADS_3

Dua hari setelah acara pertunangan Rena dengan Dokter Nathan, Pak Wijaya memanggil kedua putranya untuk menemui dirinya, sementara Keysa sejak pulang dari kampung Tegal Bungur langsung kembali ke negeri singapura, karena dia harus segea kembali bekerja menjalankan klinik kecantikannya, meski ada pegawai yang bekerja padanya tapi semuanya bukanlah ahli dalam masalah kulit dan kecantikan, mereka hanya perawat biasa.


"Ada apa Papa memanggil kami kemari secara mendadak?" tanya Rudy pada ayahnya itu, Rudy adalah anak tertua dari keluarga Wijaya, dirinya menjalankan yayasan rumah sakit yang kini hanya satu-satu yang keluarga Wijaya miliki saat ini.


"Iya pah ada apa? Kami sangat sibuk akhir-akhir ini," timpal Daniel anak ketiga Pak Wijaya yang mengurus Yayasan di universitas yang pernah dikelola oleh ayahnya dan selain ketua yayasan dia pun menjabat sebagai seorang dekan di universitas tersebut.


"Heh... Sesibuk itukah kalian? Sampai lupa pada orang tua ini, padahal bisnis yang kalian jalankan tidak seberapa dengan apa yang pernah aku jalankan dan rumah kalian pun hanya sepelemparan batu dari sini," ucap Pak Wijaya begitu tajam, perkataan tersebut membuat keduanya terdiam beberapa saat.


"Bukan maksud kami mengabaikan Papa, bagaimana pun kami sedang berjuang mengembalikan kejayaan keluarga kita seperti dulu," sanggah Rudy mencoba berdalih, dan Daniel hanya menganggukan kepala menyetujui perkataan dari kakaknya itu.


"Mengembalikan kejayaan ya?" gumam Pak Wijaya sambil manggut-manggut.


"Terus bagaimana perkembangannya? Dari yang aku lihat, kalian belum menghasilkan apa-apa, selama satu setengah tahun ini," ucap Pak Wijaya.


"Sebenarnya kalau aku ingat-ingat kalian jugalah yang memintaku untuk memperkenalkan anak dari Bramono itu pada adik kalian kan? Dan menyuruhku untuk menginvestasikan saham pada proyek keluarga tersebut, yang mana pada akhirnya malah membuat kita hancur, ya meski itu sepenuhnya bukan salah kalian, karena waktu itu pun aku juga menyetujuinya karena si Niko itu datang dari keluarga kaya raya sama seperti kita dulu, dan proyek yang dikerjakan mereka pun terlihat menggiurkan," lanjutnya lagi yang sedikit banyaknya mencoba mengingatkan kesalahan mereka berdua.


"Ayah lupakan saja masalalu yang buruk itu, karena keluarga kita masih beruntung tidak sehancur keluarga Bramono, ya meski kita kalah dalam perebutah hak waris atas yayasan dari saudara angkat Papa itu," ucap Rudy yang terlihat tidak terima terus dipojokan oleh ayahnya.

__ADS_1


"Mungkin saat ini kami masih belum bisa memetik hasilnya, tapi kami akan terus berusaha semaksimal mungkin, dan kami telah membeli beberapa hektar tanah di daerah industri bekasi untuk dijadikan rumah hunian bagi kelas menengah yang mana itu akan menjadikan bisnis baru bagi kita," timpal Daniel mengungkapkan rencananya.


"Hmmz... Baiklah itu terserah kalian lagian aku sepenuhnya sudah tidak ikut campur dalam bisnis kalian jalani karena aku sudah mewariskannya pada kalian, tapi ada satu hal yang ingin ku katakan," ucap Pak Wijaya.


"Apa itu Pah?" Seru Daniel tak sabaran memotong perkataan dari ayah.


"Aku ingin kalian segera memberikan hak pada adik kalian, karena bagaimana pun Rena mempunyai hak atas itu semua," ucap Pak Wijaya.


"Rena? Maksud papa Rena sudah ditemukan?" tanya Daniel dengan ekspresi terkejut, dan sebagai jawabannya ayah mereka itu hanya mengangukan kepala saja.


"Kukira kemarin Keysa hanya bergurau, ketika dia bilang akan menghadiri pertunangan Rena, karena Aku hanya menganggap dirinya terlalu berlebihan dalam berangan-angan akan kembalinya adik kita itu, jadi itu semua benar ya," ucap Rudy yang tidak percaya akan perkataan Keysa dua hari yang lalu.


"Hmmz... Kami setuju saja, tapi kami hanya akan memberinya berupa uang saja-,"


"Itu juga tak mengapa, dan aku ingin masing-masing dari kalian memberikan satu milyar kepada Rena," ucap Pak Wijaya memotong perkataan Daniel.


"Haaa... Itu tidak mungkin.." Seru Rudy tak terima untuk dirinya memberikan uang sebesar itu pada adiknya.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" Timpal Pak Wijaya ingin tau alasan kenapa putra sulungnya langsung menolak usulan tersebut, padahal itu memang seharusnya yang diterima oleh Rena.


"Alasan pertama sudah Daniel sebutkan diawal, kami sedang mengembangkan bisnis baru, jadi kami butuh modal yang tidak sedikit, dan juga apa Papa tidak khawatir bila kita memberikannya sekaligus itu malah akan dimanfaatkan oleh suaminya nanti," ucap Rudy mengemukakan alasan kenapa dia keberatan dengan rencana ayahnya.


"Hmmz... Kalau itu alasannya aku bisa menerimanya, baiklah kalian tidak usah memberikannya sekaligus, kalian bisa menyerahkannya secara bertahap," timpal Pak Wijaya.


"Tapi Papa, apa itu tidak terlalu besar baginya dengan jumlah sebesar itu, apalagi Rena tidak pernah membantu bisnis keluarga kita selama ini," ucap Rudy yang masih mengemukkan keberatannya dan mencoba mempengaruhi ayahnya.


"Stop... Jangan lagi kau mencoba tawar-menawar, karena itu memang sudah haknya Rena, padahal aku sudah memberikan kalian keringanan, jadi jangan banyak alasan lagi," timpal Pak Wijaya dan langsung meninggalkan tempat pertemuan tersebut.


"Kak bagaimana tindakan kita selanjutnya?" Tanya Daniel pada kakaknya itu.


"Hmmz... Entahlah lebih baik kita bertemu dulu dengan adik kita itu," Tukas Rudy dan dia pun meninggalkan rumah tersebut, sambil memikirkan sesuatu.


 


#Sambil menunggu part selanjutnya, ada cerita yang juga menarik dari karya Author senior, yuk kepoin lebih lanjut.

__ADS_1



__ADS_2