
Selepas kepergian Rena, Keysa hanya termenung menatap lantai tanah dibawah pijakan kaki jenjangnya, menekuri apa yang telah terjadi, tapi dia hanya bisa kecewa lagi dan lagi pada diri sendiri maupun keluarganya, Dari sekian kekacauan lantaran ego dan keserakahan akan sebuah status, Keysa pun hanya bisa berharap semoga ini jadi yang terakhir agar tidak ada lagi yang terluka dan dikecewakan.
"Yang sabar Non Keysa, mungkin Non Rena butuh waktu untuk menenangkan diri, mungkin kecewanya masih terasa terlalu dalam dan menyakitkan, karena sepertinya diapun tidak sadar sedang mengutarakan rasa sakit yang membelenggu hatinya," ucap Bi Ijah memahami apa yang tengah dipikirkan oleh mantan anak majikannya itu.
"Iya Bi, saya memakluminya, tapi ngomong-ngomong dimana anak Bi Ijah yang seumuran dengan Rena itu? siapa namanya? apa dia juga sedang pergi keluar?" timpal Keysa dan langsung menanyakan anaknya Bi Ijah, yang dia tidak tau bahwa anaknya sudah lama meninggal.
"Maksud non Keysa Fitri ya? maaf non dia sudah lama meninggal," ucap Bi Ijah datar, karena bagaimanapun itu malah membuat luka lamanya terbuka kembali.
"Eh... Maaf Bi saya gak tau, tapi kapan meninggalnya?" tanya Keysa kembali.
"Hmmz... Tidak lama sejak kami diusir secara menyakitkan oleh papa non Keysa yang menuduh saya mencuri,"
"Maafin kami Bi, mungkin kejadian sekarang juga sebab dari papa yang telah mendzolimi Bi Ijah dulu," gumam Keysa setelah mendengar penuturan tersebut, dirinya semakin menjadi merasa bersalah, air matapun sedikit merembas dari sudut mata indahnya itu,
Helaan napasnya begitu berat, ia terduduk lemas, perasaan bingung, marah dan sedih bercampur dengan pikiran yang mulai kalut akan akan rasa bersalah, terlintas kenangan masalalu bagaimana keluarganya mempermalukan Bi Ijah dengan sebuah tuduhan, yang hanya karena anaknya akrab dengan Rena kala itu, tapi sekarang lihatlah Bi Ijah tanpa pamrih rela merawat adiknya itu, setelah mereka sangka telah tiada.
__ADS_1
"Gak apa-apa Non, ibarat kata pepatah lama juga, nasi sudah menjadi bubur, toh saya juga sudah lama memaafkan dan melupakan kejadian tersebut, dan karena Non Keysa sudah tau keadaan sebenarnya dari Non Rena lebih baik untuk saat ini kita fokus dia saja, karena bagaimanpun Non Rena harus selalu diperhatikan agar trauma kejiwaannya yang sempat dia alami jangan sampai terulang kembali," ucap Bi Ijah.
"Lalu perihal keberadaannya disini, untuk saat ini lebih baik Non Keysa jangan dulu memberi tahu ayah dan juga saudara-saudara Non yang lainnya, bukan apa-apa tapi sepertinya Non Rena masih belum bisa memaafkan kalian semuanya," lanjut Bi Ijah mencoba memperingati kakaknya Rena tersebut, dan Keysa pun hanya mengangguk setuju karena memang itulah jalan terbaik untuk saat ini.
Tiga puluh menit kemudian dilalu tanpa percakapan, lalu dari jauh terlihat Rehan melangkah kaki menuju rumah di Bi Parijah.
"Assalamualaikum, eh sedang ada tamu ya Bi?" sapa Rehan ketika sudah sampai ditempat yang dituju, karena ketika sudah memberi arahan pada calon pegawainya, Rehan menanyakan keberadaan Bi Ijah dan juga Rena pada pak rt, karena keduanya tidak ada ketika acara bagi-bagi nasi bungkus yang diberikannya setelah melakukan pengarahan sebagai bentuk syukuran atas perusahaan pertamanya.
Rehan cukup terkejut dengan penampakan Keysa yang tengah menatapnya tanpa ekspresi, dalam benaknya dia hanya menduga-duga apa kakaknya Rena tersebut marah padanya, karena dia tidak terus terang tentang keberadaan mantan kekasihnya tersebut.
Setelah menerima bungkusan nasi kotak pemberian Rehan, Bi Ijah langsung mempersilahkan dia untuk duduk, sementara Bi Ijah bergegas ke dalam rumah untuk membawa air minun sekalian menyimpan makanan yang diberikannya.
"Jadi, kenapa kamu tidak jujur saja pada saya waktu itu bahwa Rena sudah ada disini?" ucap Keysa setelah Bi Ijah pergi ke dalam rumah.
"Seingat saya, bukankah anda tidak menanyakan hal tersebut, anda hanya mengomentari kendaraan saya yang menurut anda mobil second bukankah begitu?" timpal Rehan dengan nada dingin, membuat Keysa kembali terdiam untuk beberapa saat.
__ADS_1
"Terimakasih," ucap Keysa pelan sambil menatap Rehan dengan berkaca-kaca.
"Maafkan atas segala salah dan penghinaan yang pernah saya dan keluarga lakukan terhadap dirimu di masalalu, bahkan kau yang dianggap sebelah mata oleh keluargaku telah sukses dengan kerja kerasmu sendiri, bahkan kau juga telah menyelamatkan adikku" lanjutnya lagi, mungkin hari ini sudah tidak terhitung lagi kata maaf yang telah keluar dari mulutnya.
"Hmmz... Tak apa, itu hanyalah masalalu, malahan saya sangat berterimakasih, karena itu juga salah satu yang membawa motivasi terhadap hidup saya," timpal Rehan.
"Jadi sejak kapan Kak Keysa mengetahui bahwa Rena berada disini?"
"Aku mengetahui Rena berada disini hanyalah sebuah kebetulan, karena pada awalnya aku berniat menanyakan hal tersebut terhadapmu, karena sejak terakhir kita bertemu waktu di Mall beberapa minggu yang lalu, aku selalu kepikiran perkataanmu waktu itu," ucap Keysa terus terang.
Mereka membicarakan hal-hal mengenai Rena, dan Keysa pun berjanji untuk saat ini, dia tidak akan memberitahu ayah dan juga saudaranya sampai Rena benar-benar bisa membuka hati untuk memaafkan mereka.
Lalu Keysa pamit undur diri untuk kembali ke singapura, tapi dia berjanji akan setiap bulan berkunjung ke rumah Bi Parijah dan sebelum pulang dia memberikan uang kepada mantan pembantunya itu, meski sempat ditolak oleh Bi Ijah tapi Keysa memintanya untuk menerima sebagai balas budi telah merawat Rena.
Keysa pun melajukan mobilnya meninggalkan kampung Tegal Bungur dengan hati yang cukup lega, rasa penasaran yang menyelimuti hatinya kini sedikit terobati, meski tidak bisa mengajak Rena kembali bersamanya, tapi karena dia telah mengetahui bahwa adiknya sekarang baik-baik saja, bahkan terlihat sangat bahagia dan menikmati sebagai orang yang sangat sederhana.
__ADS_1