
Setelah Rehan menjelaskan tentang bagaimana permintaan kedua dari tuan Benjiro, yaitu bila dia membutuhkan alat-alat elektronik hubungi saja Pak Ichirou, karena mereka akan menjadi produsen gerainya mulai saat ini, dan akan mendapatkan diskon khusus, lalu bila Rehan berencana membuat home industri para pemimpin perusahaan tersebut siap menjadi mitra bisnisnya kapanpun itu.
"Nah kalau itu baru Umi setuju, kan kita jadinya gak perlu repot-repot beli kesana-kemari yang kadang suka kehabisan atau selalu dibatasi dalam pembeliannya, apalagi dapat diskon pula, kan mantapp tuch," ucap Zahra setelah mendengar penjelasan dari Rehan.
"Huh... Dasar ibu-ibu kalau denger diskon, langsung gercep," timpal Rehan pura-pura bingung akan perilaku para cucu hawa itu.
"Ya iyalah, kan buat menghemat uang suami juga," timpal Zahra sambil menjulurkan lidahnya.
"Iya juga sich, eh ngomong-ngomong Abi juga mau menyampaikan ini pada Umi," ucap Rehan sambil memperlihatkan aplikasi M-Banking dilayar ponselnya, karena ketika perjalanan pulang dia menyempatkan mampir ke Bank untuk mendaftarkan diri agar bisa mengakses fitur tersebut, itupun atas saran dari Pak Ichirou.
"Widiihhh... Udah punya M-Banking nich, sombong amat," ucap Zahra ketika suaminya memperlihatkan aplikasi tersebut.
"Ish... Bukan gitu, nich lihat dulu," ucap Rehan sambil mengetik sebuah kata sandi dan muncullah jumlah uang yang ada di rekening ayah dari anaknya itu.
"Masyaallah... Ini seriusan Bi? dari mana Abi dapat jumlah uang sebesar itu Bi? perasaan baru nyampe puluhan, jangan-jangan ini juga ulahnya Pak Benjiro?" tanya Zahra heran, hari ini sungguh dia dibuat kaget berkali-kali oleh Rehan, hingga membuatnya sport jantung saja, dan dirinya hanya menganguk membenarkan pertanyaan sang istri.
"Hmmz... Umi Kadang bingung sama pak Benjiro, dia memberi kita uang sebanyak itu seperti kayak ngasih permen ke anak kecil, seolah uang segitu mah sehari juga bisa dapet lagi, lihat aja waktu kita disana, dia sungguh royal terhadap kita, memang susah ditebak jalan pikir orang kaya," ucap Zahra yang bingung dengan jalan pikir ayahnya Keiko tersebut.
"Tandanya tuan Benjiro itu orangnya Dermawan," timpal Rehan.
__ADS_1
"Bisa jadi sich, terus uang sebanyak itu mau Abi apaakan?" tanya Zahra.
"Nah, ini pertanyaan yang Abi tunggu-tunggu dari Umi,"Seru Rehan, sementara Zahra malah tambah bingung dengan ucapannya.
"Begini Umi, inikan uang pemberian dari tuan Benjiro untuk kehidupan kita, jadi bukankah Rena juga mempunyai Hak atas uang ini, karena dia kan pernah dirugikan oleh salah satu bawahannya, bagaimana kalau kita bagi rata sama Rena?" tanyanya.
"Ya itu harus, bahkan bila perlu Abi juga nikahin dia juga gak apa-apa kok, Umi ikhlas lillahitaala," seru Zahra dengan senang.
"Ish.... Masih aja bahas hal yang begituan, kalau masalah itu kita bicarakan lain kali saja, berarti besok kita jadi ya ke rumah Bi Ijah," ucap Rehan mencoba menghindar apabila Zahra membicarakan hal tersebut.
"Iya, bukankah senin memang jadwal ngebagiin sembako ke kampung Tegalbungur, jadi sekalian besok aja, lagian aku juga udah kangen sama Rena, udah hampir dua minggu sejak kita pulang dari negeri jepang belum pernah nengokinnya lagi, eh sakalian saja kita kasih salah satu ini," timpal Zahra menyarankan pendapatnya.
"Kagak ada besok mah bagian libur, tapi sekarang aku kebagian jadwal sampai jam sepuluh malam, makanya aku sekalian bawa baju ganti, agar habis dari sini langsung ke tempat kerja," ucap Zahra.
Zahra dan Rina sibuk membantu membereskan barang-barang elektronik dan suku cadangnya yang baru saja datang, sementara Rehan tengah menyervice televisi yang katanya akan diambil sore hari, jadi dia bergegas mengerjakannya.
***
Keesokan paginya Rehan dan Zahra juga putri mereka pergi ke kampung Tegal Bungur untuk menengok keadaan temannya yaitu Rena dan sekalian membagikan sembako pada orang-orang lansia di kampung terebut.
__ADS_1
"Assalamualaikum pak Rt, selamat pagi, bagaimana kabar bapak dan sekeluarga?" ucap Rehan setelah mereka tiba di depan rumah pemangku jabatan di wilayah tempat tinggal Rena sekarang itu.
"Waalaikumsalam bos Rehan, pagi juga Bos, Alhamdulillah sehat, bos sendiri gimana?" timpal pak Rt yang berusia sekitar 40 tahunan itu dengan penuh ceria, karena dia sudah bisa menebak kalau pemuda yang sudah terbilang sukses itu datang ke rumahnya, dia akan ketiban rejeki pula, memang jika Rehan hendak membagikan sembako dia selalu mengunjungi dirinya terlebih dulu.
Selain kurang etis apabila Rehan langsung memberikan sembako pada warga sekitar tanpa memberitahunya, itu juga dapat membantu memperingan tenaga, karena pak Rt akan membantunya membagikan sembako tersebut, karena bagaimanapun data-data lansia dan orang yang kurang mampu yang belum terjangkau oleh program pemerintah itu juga dari dirinya.
"Ah pak Rt bisa aja panggil saya bos, bos mah noh orang-orang yang berpakaian parlente baru namanya bos," ucap Rehan sambil membuka pintu belakang mobil dan terlihat ada sekitar 30 lebih sembako yang sudah disiapkan yang terbungkus rapi dalam kantong kresek merah berukuran besar dan juga ada karung beras dengan berat sekitar 10kg, yang mana dia beli setelah pulang dari rukonya.
"Hehee... Tidak usaha parlente untuk jadi bos, tapi kalau sudah peduli terhadap orang lain baru itu namanya bos, kayaknya kalau Kang Rehan nyalon jadi kepala desa pasti bakal menang dech, iya gak bu Bidan," seloroh Pak Rt sambil membantu menurunkan sembako tersebut, sementara Zahra hanya tersenyum mendengarnya.
"Aih... Ngomongannya makin ngelantur, eh ngomong-ngomong kok cuman Pak Rt doang, kemana anak sama istrinya?" timpal Rehan.
"Ouh.. Istri dan Anak-anak saya lagi pergi ke ladang, tapi sebentar lagi juga pulang kok, karena sayapun habis dari sana, tuch mereka baru nyampe," seru Pak Rt sambil menunjuk kearah jalan, terlihat tiga orang tengah berjalan kearah mereka.
"Eh ada Kang Rehan sama teh Zahra dan si cantik Rina, gimana kabarnya?" tanya Istri pak Rt sambil menyalami Rehan dan diikuti oleh kedua anaknya.
"Alhamdulillah sehat bi, bi Een habis dari pagi-pagi begini," timpal Rehan.
"Habis metik cabe sama daun bayam, minum dulu atuh kang," seru bi Een sambil memperlihatkan hasik panennya.
__ADS_1
Setelah selesai menurunkan semua sembako, yang hendak di bagikan pada warga lansia dan keluarga kurang mampu, yang sudah Rehan catat dan tinggal dibagikan oleh pak Rt dan putranya, juga tidak lupa Rehan menyisihkan satu kantong kresek sembako serta beras untuk pak Rt sekeluarga, selain memberikan uang sebagai timbal balik karena bersedia membantunya dalam membagikan sembako.