
Maaf kak mau beli sesuatu?" tanya Jamilah pada Keysa yang sejak dari turun dari mobil hanya melihat sekitar, dia cukup kagum dengan pencapaian Rehan yang sudah mempunyai usaha sendiri, meski tanpa dukungan materi keluarga, tidak seperti dirinya dan juga kedua saudara.
"Hmmz... Pantas saja dulu Rena begitu sangat mencintainya, memang tipikal pria yang pekerja keras," gumam Keysa dalam hati.
"Eh, enggak, saya mau nanya apa benar ini rukonya Rehan?" ucap Keysa menanya balik.
"Iya Benar, memangnya ada perlu apa? mau service ponselkah?, tapi mohon maaf kak Rehannya sedang pergi keluar,"
"tidak, saya hanya ada perlu saja, sedang keluar? kalau boleh tau kemana ya?"
"Kurang tau, tapi katanya kak Rehan lagi membangun pabrik pembuatan kerupuk di kampung Tegal Bungur, mungkin Kak Rehan sedang disana," ucap Jamilah.
Setelah menanyakan dimana kampung Tegal Bungur, Keysa kembali masuk dan segera menuju tempat yang disebutkan oleh Jamilah tadi, karena dia bertekad hari ini harus bertemu dengan Rehan bagaimanapun caranya, Keysa seperti mempunyai firasat bahwa Rehan tahu keberadaan Rena saat ini.
"Jam, kamu sadar gak? kakak yang tadi mirip banget sama Bu Bidan Rena yang pernah tugas di kampung kita dulu," ucap Siti yang sejak tadi hanya memperhatikan dan mendengarkan percakapan antara Saudarinya dan Keysa sambil membolak balikkan kertas yang sedang difotocopy.
"Hah... masa sich? aku gak terlalu memperhatikan, karena dianya banyak nanya mulu," timpal Jamilah.
"Apa jangan-jangan yang tadi itu beneran Bu Bidan Rena? kan dulu Bu Rena pernah dekat dengan kak Rehan, wah bisa-bisa bahaya kalau teh Zahra tau mantan pacarnya kak Rehan ingin clbk, kayak difilm gitu," ucap Siti berspekulasi sendiri.
"Huss... Mengada-ada aja, lagi pula itu bukan urusan kita, eh itu udah bereskan? kita nyari jajan siomay dulu yuk," seru Jamilah.
"Udah tinggal dirapiin, tapi nanti siapa yang jaga? timpal Siti sambil membereskan kertas foto fotocopy kertas ujian sekolah dasar.
__ADS_1
"Kamulah yang pergi, biar aku yang jaga," ucap Jamilah dengan senyum usil.
"Enak aja, mentang-mentang seorang kakak maen nyuruh-nyuruh aja, minggu kemaren aku masa sekarang aku lagi," timpal Siti gak terima disuruh pergi beli siomay.
"Baik, kali ini aku ngalah dech, sini mana uangmu?" ucap Jamilah, dan setelah Siti memberinya uang lima ribuan, diapun pergi membeli makanan pengganjal perut, yang mana memang hari ini mereka tidak membawa bekal dari rumah, dan kebetulan yang sangat menyenangkan tadi sebelum pergi Rehan memberi mereka uang makan.
***
"Hey... Diajak ngobrol malah bengong," seru Lena sambil menepuk tangannya dekat wajah temannya itu, membuat Zahra terperanjat dalam lamunan.
"Seandainya ya, kalau aku bilang yang kau temui itu beneran Rena, apa kalian percaya?" ucap Zahra dengan wajah serius, dia berniat memberitahu hal yang sebenarnya kepada teman-temannya itu.
"Apa? yang bener kamu Zahr? tapi itu tidak mungkin, diakan sudah menetap di negeri sakura sejak sehari setelah pernikahannya, bukankah kita semua juga tau hal itu?" seru Audy yang kaget mendengarnya.
"Tsk... Nyebelin orang aku serius malah diajak becanda," gerutu Lena sambil mecipratkan air pada tubuh temannya itu.
"Hahahaa... Lagian kau ini dibilangain itu hanya imajinasimu saja," tawa Audy yang melihat raut wajah temannya itu.
"Tapii..." gumam Zahra menghentikan kalimatnya membuat ketiga temannya tawa.
"Tapi apa? bicaramu misterius sekali kayak film horor aja," ucap Mia yang kali ini malah penasaran dengan sikap dari Zahra seolah ada sesuatu yang dia sembunyikan.
"Bagaimana jika Rena yang dulu kita kenal dan yang baru saja kita ketahui bahwa dia adalah anak orang kaya, tapi tiba-tiba keadaanya sangat memprihatikan, apa kalian akan menganggapnya teman seperti dulu atau akam meninggalkannya?" tanya Zahra serius sambil menghela nafas berat.
__ADS_1
Semua temannya terdiam karena Pertanyaan tersebut menambah rasa penasaran mereka, Zahra seperti tau tentang keadaan dan keberadaan Rena selama ini.
"Tentu saja aku akan tetap menjadi temannya apapun yang terjadi," ucap Lena bersungguh-sungguh, sambil menatap wajah temannya itu
"Kalau begitu akan aku ceritakan apa yang terjadi pada Rena yang sebenarnya," lanjutnya sambil menatap lurus kearah bukit batu yang menjulang kokoh, yang tegar meski dihantam badai ataupun terik panasnya matahari.
"Apaa, kamu serius berarti selama ini, kau tau Rena sekarang berada, jangan-jangan apa yang aku lihat adalah benar?" tanya Lena serius, kedua teman lainnya juga langsung menatap Zahra seolah meminta penjelasan.
"Ya kemungkinan itu memang Rena yang kau kenal Len, sepertinya dia baru belanja dari pasar atau menjual hasil kebun," ucap Zahra.
"Tunggu-tunggu, apa yang sebenarnya yang tidak kami ketahui, tolong ceritakan pada kami," ucap Mia ingin tau apa yang terjadi pada Rena selama ini.
"Baiklah akan kuceritakan, tapi akupun tidak tau hal apa yang telah terjadi selama Rena tinggal di negeri sakura sana," timpal Zahra, lalu dia menceritakan ketika dia dan keluarganya berlibur selama satu minggu lebih di negeri tersebut.
"Wow.... Kau dan keluargamu pernah liburan ke negeri jepang? serius?" tanya Audy yang kagum sekaligus setengah tidak percaya.
"Itu benar, kami mendapatkan liburan tersebut secara cuma-cuma," timpal Zahra, lalu Lena memelototi Audy, karena bukan itu inti dari rasa penasarannya dan setelah Audy terdiam dan tidak menyela ceritanya, diapun melanjutkannya lagi saat ketika bagaimana mereka menemukan Rena terlantar didekat pintu masuk kuil yang berada di gunung fuji.
"Pada saat itu mental dan jiwanya sungguh sangat memprihatinkan, waktu itu dia tidak kenal padaku sama sekali, yang dia gumamkan hanya permintaan tolong pada Kang Rehan, dan setelah itu kami membawanya ke hotel kami menginap, untungnya kenalan Kang Rehan disana bersedia menyembuhkan Rena dengan melakukan terapi kejiwaan selama beberapa hari," ucap Zahra sambil menghela nafas, sebelum melanjutkan ceritanya.
"Hatiku sangat pedih ketika mengetahui apa yang telah menimpa Rena, ternyata itu sebab dari kelakuan badjingan Niko terhadapnya hingga membuat menderita sampai menjadi stres dan terlunta-lunta di negeri orang," lanjut Zahra dia mengepalkan tangan seolah sangat membenci Niko dan ingin menamparnya berkali-kali.
"Ini semua terjadi akibat perjodohan yang dilakukan oleh keluarganya, yang hanya memandang harta dan jabatan saja tanpa mempedulikan kebahagian anak mereka," gumam Zahra.
__ADS_1
"Baiklah, nanti sepulang dari sini kita akan menemuinya," ucap Zahra kemudian berdiri menghampiri Rina yang melambaikan tangan padanya, meninggalkan teman-temannya yang tengah merenung setelah mendengar penuturan darinya, tidak terasa air mata jatuh dari pipi ketiga temannya itu