Asa Di Ujung Lembayung

Asa Di Ujung Lembayung
Izin Pamit


__ADS_3

"Neng kenapa kok nangis?" seru Bi Ijah yang baru saja tiba dari pasar untuk menjual sayuran dan membeli kebutuhan dapur.


"Enggak Bi enggak apa-apa," jawab Rena, lalu Bi Ijah mengambil kertas yang ada disebelahnya Rena, dia hendak membacanya tapi sayangnya bola matanya sudah mulai kurang jelas bila harus membaca tulisan, padahal dirinya terbiasa berjalan dipagi buta ketika hendak pergi ke ladang ataupun pasar.


***


"Bagaimana ini kak, apa yang harus kita katakan pada Papa nanti?" Tanya Daniel sambil mengemudikan kendaraannya yang mulai menjauhi perkampungan Desa Padasuka.


"Ya katakan saja apa yang dia katakan pada kita, toh dia Sendiri yang tidak mau menerimanya, gitu aja repot," jawab Rudy santai.


"Tapi apakah, Papa dan Kak Keysa akan percaya begitu saja?" Tanyanya lagi yang masih merasa cemas.


"Cih.... Kau nich penakut betul, tenang saja tanda tangan dan rekamannya juga ada sebagai bukti, jadi Papa dan Keysa tidak akan menyalahkan kita, lagi pula kita tidak mengancamnya, dia dengan sukarela menandatangani dan menyatakan semuanya dalam keadaan sadar, jadi santai saja," ucap Rudy dengan senyum penuh kemenangan, karena harta yang dia miliki dari warisan papanya tetap utuh meski itu masih ada hak saudarinya yang dia rebut.


***


"Tak apa-apa Neng, mungkin mereka masih kurang dengan yang mereka miliki saat ini, ikhlaskan saja, toh rejeki mah Tuhan yang ngatur," ucap Bi Ijah menenangkan Rena setelah mendengar cerita yang sebenarnya.


"Iya Bi, saya juga gak peduli dengan harta warisan tersebut, tapi yang membuat sakit sikap mereka pada saya yang seperti menganggap saya ini bukan adik mereka saja," timpal Rena, Bi Ijah yang tidak bisa berkata apa-apa lagi karena sangat heran dengan sikap saudaranya itu yang begitu tega merampas hak adiknya.


"Sudahlah lupakan saja, kan masih ada Non Keysa yang peduli terhadap Neng, juga ada Bibi disini, lebih baik kita makan siang bareng yuk, karena bersedih itu pasti menguras banyak tenaga dan kalori," ucap Bi Ijah.


Sementara di rumah Dokter Nathan terlihat dia tengah bersiap-siap berangkat tapi bukan untuk berangkat kerja, tapi dia hendak pergi ke negeri kangguru untuk Menjemput anaknya yang dia titipkan pada mertua yang ada di negara tersebut.


"Pak, Bu, Nathan pergi dulu ya," ucap Nathan sambil memasukan cover ke dalam mobilnya.


"Iya, hati-hati di jalan, tapi apa kamu sudah menghubungi Rena bahwa kamu akan pergi ke luar negeri hari ini?" Tanya Ibunya.

__ADS_1


"Belum sich, soalnya ini juga mendadak karena Nathan pun di telpon oleh neneknya Amira tadi malam, tapi nanti saya hubungi dia lagi, karena tadi tidak diangakat sepertinya dia masih sibuk kerja," ucapnya.


"Dan ingat kau juga harus sekalian minta izin pada kedua mertua mu itu, bahwa kau akan membawa anakmu tinggal disini, selain itu bapak juga ingin melihat cucu kami, karena kami belum pernah bertemu dengannya juga istri pertamamu itu," timpal Pak Alfarizy Bapaknya Nathan tersebut, karena pada pernikahan pertamanya, mereka tidak bisa datang selain jarak juga mereka juga tidak bisa libur kala itu, bahkan sampai Nathan sudah punya seorang putri kedua orang tuanya hanya bisa mengetahui kabar cucunya melalui telpon saja.


Kali ini mereka tidak sabar ingin melihat cucu pertamanya dan juga ingin menyaksikan pernikahan kedua anaknya dengan mata kepala mereka sendiri.


Setelah menyalami kedua orang tuanya Nathan pun berangkat membawa mobil yang baru dia beli ketika sebulan setelah tiba di tanah air, dia terus melajukan mobilnya ke arah bandara.


"Hmmz.. Kok gak diangkat-angkat sich?" gumamnya, karena tak diangakat dia pun meletakan ponselnya ke jok sebelah dan kembali fokus ke jalanan.


"Teh Rena, Teh Rena permisi...." Seru Nida yang lari tergopoh-gopoh sambil memegang ponsel di tangan sebelah kanannya.


"Eh.. Nida ada apa Neng?" Tanya Rena setelah mengetahui siapa yang berseru-seru dari luar.


"Hosh... Hosh... Ini, ini teh ponsel teteh ke tinggalan tadi, juga tadi ada panggilan masuk berkali-kali," seru Nida yang masih mengatur nafas yang tersengal karena dia berlarian dari depan gapura sampai ke rumah Bi Ijah.


"Iya teh makasih, haus banget nich abis lari marathon, tapi lumayan sich buat ngebakar lemak yang menumpuk, hehehh..." Ucapnya dan langsung menimum air yang disuguhkan oleh Rena.


"Glupp... Glupp... Glupp... Ahhh, segernya," Seru Nida setelah menghabiskan minuman tersebut.


"Kalau begitu, Nida ke pabrik lagi ya teh," ucap Nida.


"Loh... Cepet amat, bukankah istirahatnya masih setengah jam lagi? Sini aja dulu," tanya Rena penuh heran.


"Iya sich istirahatnya masih setengah jam lagi, tapi Nida udah pesen karedok di Bi Mumun, kasian nanti nungguin lagi," Ucap Nida dan langsung pamit lagi.


"Ouh... Iya dech kalau begitu, terimakasih sebelum dan sesudahnya karena mau repot-repot bawain ponsel teteh," seru Rena.

__ADS_1


"Iya teh, cincai aja, yang penting mah ntar kalau gajian traktir Nida mie ayam baso yang ada di kota kecamatan ya? hehee..." Timpal becanda teh.


"Oke siap, tenang aja," Ucap Rena tersenyum mendengar permintaannya.


"Nathan ada apa, tumben dia nelpon berkali-kali," gumam Rena melihat notifikasi dilayar ponselnya, lalu dia pun menekan tombol dilayar ponselnya.


"Assalamualikum, hallo..." Ucap Rena setelah tersambung.


"Waalaikumsalam, hallo juga cantik,ada yang bisa saya banting, eh bantu," jawab Nathan yang sekarang sudah berada di bandara.


"Ish... Kau nich, malah aku yang mau nanya tumben nelpon berkali-kali, ada apa? Sebentar kok rame ya dan ada suara panggilan keberangkatan, kamu lagi dibandara?" Timpal Rena yang balik bertanya.


"Kangen aja emang gak boleh?" seru Nathan tersenyum.


"Ish... Serius aku nanya, kamu beneran lagi ada dibandara?" Ucap sebal Rena.


"Hehee... Jangan cemberut gitu dong, iya aku lagi di bandara, tadinya aku menghubungi kamu, mau minta izin untuk pergi ke negeri kangguru untuk menengok sekaligus menjemput putriku, kamu izinin kan?" Timpal Nathan.


"Ouh... Begitu, iya aku izinin kok, aku juga ingin segera bertemu dengan Amira, hati-hati semoga selamat sampai tujuan dan kembalinya juga selamat," ucap Rena mendoakan calon suaminya tersebut.


"Aamiin, terimakasih ya doanya, Muachhh..." seru Nathan dan panggilan untuk pesawat yang ditumpanginya mulai terdengar.


"Ish apaan sich," timpal Rena meski begitu dia sebenarnya sangat senang dengan perlakuan dari Nathan tersebut.


#Yuks dukung mimin dengan like atau comen, juga biar mimin semangat updetnya bisa kasih bunga atau hadiah vote.


#Biar gak jenuh nunggu part selanjutnya, mimin ada Rekomendasi novel yang tidak kalah kerennya, yuks segera cekidot..

__ADS_1



__ADS_2