
Terik matahari menghantarkan panas yang begitu menyengat, andai mobil yang dikendarai Keysa tidak memiliki air conditioner mungkin dia akan membuka kaca sampingnya untuk membiarkan udara jalanan yang pengap masuk.
Jalanan ibukota begitu padat merayap diiringi bunyi klakson yang saling sahut-sahutan, barisan kendaraan yang terjebak pada satu jalur bak ular itu sedang menanti lampu rambu lalulintas berubah warna, Keysa begitu jengkel menunggu lampu itu berubah.
Pikirannya tengah ramai meski saat ini dalam kesendirian, menatap kosong jalanan padat yang ada dihadapnya, tapi dalam keramaian dibenaknya itu, dia seperti tengah menyingkap sunyi dalam sudut hati terdalam, kini waktu bagai luka yang mengerogoti hati dan jiwa, seolah lambat laun bahkan sepertinya mulai terasa cepat bersamaan dengan kepedihan dan penyesalan yang selalu menghantui sejak kehilangan adik bungsunya itu.
Seolah semua itu baru terasa setelah keluarganya mengalami kemunduran dalam finansial, dia baru menyadari ada sebuah hal lebih penting dari sebuah materi belaka, yaitu sebuah ketenangan dan kehangatan keluarga.
Seperti yang dia lihat sewaktu berkunjung ke desa tempat tinggal Rehan mantan kekasih adiknya, Keysa melihat sebuah keluarga yang tengah makan bersama meski hanya dipemetangan sawah dengan pakaian yang masih kotor, tapi tawa bahagia terpancar dari keluarga tersebut, ketika melihat semua itu dia merasa ada sebuah rasa iri dalam hatinya.
Hampir lima menit lampu lalu lintas itu berubah warna dari merah menjadi hijau, setiap pengendara mulai memainkan pedal gasnya, sedkit demi sedikit mulai mengurai simpul-simpul kepadatan jalanan yang seringkali menguras emosi.
"Di ruang mana Papa? juga dimana Rudy?" tanya Keysa setelah dia sampai disebuah rumah sakit milik keluarganya.
"Pak Wijaya berada di ICU dan sedang menjalani perawatan, sementara Dokter Rudy tengah libur," timpal seorang perawat penjaga kasir.
"Tsk... Dasar kurang ajar, kalau soal pembagian harta saja pada cari muka dan pengen cepat, giliran Papa sakit tidak ada satupun yang datang," ucap Kesal Keysa, memang setelah ayahnya tidak bisa lagi mengurus bisnisnya lagi, kedua saudaranya sudah menentukan seenaknya sendiri mana bagian mereka, saudara tertuanya yaitu Rudy dia meminta Rumah sakit yang sekarang ini Keysa berada, sementara adiknya Daniel dia memilih untuk mengurus Universitas terakhir milik keluarganya itu, dengan alasan bahwa dia lebih cocok menjadi dekan, karena sudah terbiasa dan juga cocok dengan gelarnya saat ini.
__ADS_1
Dan Keysa sendiri dia hanya mendapatkan rumah yang sekarang ditinggali oleh ayahnya dan beberapa pembantu juga perawat yang menjaganya, sementara rumah sakit pertama dan juga terbesar sekarang dipegang oleh anak asli dari ayah angkatnya Pak Wijaya.
Lalu Keysa merogoh tas kecil yang bermerk terkenal itu untuk mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi kedua saudaranya itu.
"Cih... Masih tidak diangkat, pada kemana sich liburannya? masa iya ke pluto," gumam jengkel Keysa, lalu diapun mengetik pesan pada dua saudaranya itu.
"Sepertinya besok aku harus kesana lagi," ucap Keysa dalam hati dan tanpa terasa dia tertidur dikursi tempat menunggu pasien, meski sebenarnya dia bisa saja mendapatkan ruangan untuk tidur di rumah sakit itu yang notabenya adalah milik keluarganya, tapi Keysa enggan melakukan hal tersebut karena dia hanya sebentar disana.
***
"Terus, terus.... Ambil kiri dikit, yups terus, huuups... Stoopppp...." seru seorang kernet yang tengah memarkirkan mobil truck untuk merapat ke sebuah rumah yang nantinya akan dijadikan sebagai home industri pembuatan kerupuk.
"Santai aja mang, kita ngopi aja dulu, Pak Rt kopi sama makanannya apa sudah disiapkan?" seru Rehan pada pak Rt.
"Sudah.... Sekarang lagi dibawa sama istri dan anak saya," timpal Pak Rt, beberapa menit kemudian makanan dan minuman telah datang dibawakan oleh istri dan kedua anak pak Rt.
"Zis...Ayo makan dulu, itu mah biarin aja dulu," seru Rehan pada temannya itu yang tengah membongkar muatan dalam truck, setelah Azis menghampiri merekapun makan siang bersama dan Rehanpun mengambil bekal makan siang dalam tas yang disediakan istrinya itu.
__ADS_1
"Jadi kapan kau akan memulai membuka pabriknya bro?" tanya Azis setelah dia selesai mencuci tangannya.
"Mungkin hari senin atau selasa juga sudah bisa, tergantung pegawainya juga sich, jadi... Bagaimana tentang pegawainya pak?" ucap Rehan dan dia langsung bertanya pada pak Rt, karena bagaimanapun perihal penanganan pegawai Rehan sudah menyerahkannya pada ketua wilayah kampung tersebut.
"Sepertinya mereka sudah antusias sekali Bos dan itu semuanya warga sekitar sini juga dan juga ada dari kampung tetangga, termasuk kampung bos sendiri, sesuai yang dikatakan Bos Rehan, tapi kendalanya mereka akan sering libur apabila memasuki masa panen, jadi bagaimana apa kita tetap menerimanya?" ucap pak Rt menjelaskan.
"Hmmzz... Gak apa-apa juga sich, saya memakluminya, tapi bilangin jangan libur semua, atau begini saja kalau lagi musim panen bagaimana kalau kita rolling saja liburnya, selang satu hari lima orang yang boleh libur, lalu besoknya lima orang lagi, dan dua minggu menjelang musim panen akan menetapkan lembur wajib bagi setiap karyawan minimal satu jam, dan mungkin seninnya saya akan langsung menginterview semua calon pegawai, jadi beritahu mereka semua," Ucap Rehan sambil memeriksa jumlah pekerja yang ternyata hampir mencapai 20 orang termasuk kedua anaknya pak Rt sendiri.
Metode tersebut dia pikirkan setelah berdiskusi dengan Pak Ichirou, ketika dia membicarakan rencana membuka usaha tersebut padanya, bahkan Pak Ichirou merekomendasikan mesin alat-alat pembuatan kerupuk padanya yang diprosuksi oleh salah satu perusahaan berikatnya itu, yang ternyata Rehan mendapatkan diskon sesuai yang mereka janjikan.
"Waw... Sepertinya itu kebijakan yang bagus, dan pasti akan diterima oleh semua pegawai, Bos Rehan memang paling pengertian, baiklah nanti saya akan menghubungi mereka semua," seru senang pak Rt mendengarnya.
"Ah bisa aja, saya juga kan seorang petani, jadi saya mengerti hal-hal tersebut," timpal Rehan dan mendadak ponselnya berdering ada panggilan masuk dari istrinya.
"Assalamualaikum... Ada apa Umi?" tanya Rehan setelah mengangkat telpon.
"Waalikumsalam... Nggak apa-apa Abi, Umi cuman mau nanya, apa Abi sudah ada di kampung Tegak bungur?" timpal Zahra sambil balik bertanya.
__ADS_1
Rena yang berada disampingnya sedikit iri mendengar percakapan mesra suami-istri tersebut, yang mana tidak pernah dia dapatkan dari Niko dulu, terlintas dalam khayalnya andai dia dulu melanjutkan hubungannya dengan Rehan ketingkat pernikahan, mungkin dialah yang akan merasakan panggilan mesra tersebut.
Tapi khayalan itu segera ditepisnya, karena bagaimanapun Rehan telah mendapatkan wanita terbaik disisinya, yaitu sahabat terbaiknya pula maka dari itu tidak pantas baginya merasa iri pada keduanya yang kini dia anggap sebagai saudara sendiri.