
Awalnya Keysa tidak percaya dengan apa yang dia lihat, berkali-kali dia mengucek-ucek matanya dan juga berkali dia mencubit lengannya sendiri, dari arah jalan setapak Keysa melihat seseorang mirip dengan adiknya diantara rombongan ibu-ibu, dia sempat mengutuk diri menyakahkan matanya yang mungkin letih akibat kurang istirahat.
"Apa ini hanya ilusi dikepalaku lantaran akhir-akhir ini aku terlalu berharap bisa bertemu kembali dengan Rena," gumam Keysa sambil terus mengamati perempuan yang mirip dengan adiknya meski kulitnya terlihat agak sao yang terlalu matang, tidak seperti adiknya yang dia kenal mempunyai warna kulit yang kuning langsat nan bersih meski tak bermake up sekalipun.
Terlihat rombongan itu sambil bercakap-cakap mulai melewati mobilnya, Keysa hanya duduk dan terus memandangai dari balik kaca mobil.
"Wah mobil siapa ini bagus sekali ya," seru ibu-ibu sambil melirik mobil yang ditumpangi Keysa tanpa berani menyentuhnya, seolah tangan meraka takut akan mengotori mobil bagus tersebut.
Keysa menghela nafas berat, mengingat-ingat potongan-potongan peristiwa saat dia dan ayahnya pergi ke negeri sakura lima tahun yang lalu dan percakapannya dengan Rehan beberapa minggu yang lalu.
tepat saat setelah rombongan itu sempurna telah melewati mobilnya, lantas dia tergesa-gesa membuka pintu mobil.
"Tiiiiiiiddddddiddddd"
Suara klakson mobil bak terbuka mengagetkannya dan dia dengan replek membanting kembali pintu mobilnya agar tidak terserempet, karena bagaimanapun jalanan yang menuju kampung Tegal Bungur tidak selebar jalan protokol ibukota, apalagi disamping kanan dan kiri bahu jalan ada sebuah sungai yang mengalir, jadi bila ada kendaraan roda empat yang berhenti dibahu jalan, pengguna lainnya harus lebih hati-hati.
"Sialll... Aku kehilangan rombongan itu," umpat Keysa kesal, karena tanpa dia ketahui rombongan itu telah memasuki kampung Tegal Bungur.
Baru saja dia hendak menginjak gasnya untuk melanjutkan perjalanannya, tiba-tiba suara ponselnya berdering.
"Tskk... Ganggu saja, Hallo ada apa Pa?" tanya Keysa setelah mengangkat telpon dari ayahnya.
"Maaf Bu Keysa, ini saya perawatnya Pak Wijaya-," balas seseorang yang ternyata bukan ayahnya yang menelpon.
"Ada apa, kok pake ponsel Papa nelpon saya, apa kalian tidak punya ponsel sendiri?" ucapnya geram.
__ADS_1
"Maaf Non saya gak punya nomer ponsel ibu Keysa, anu Bu, Pak Wijaya jatuh dari tempat tidur, dan sepertinya kepala beliau terantuk dengan sudut meja sewaktu mengambil air minum dan sekarang masih belum sadarkan diri, kami sudah menghubungi Pak Rudy juga pak Daniel tapi dari tadi tidak diangkat sama sekali, dan saat ini kami sedang dalam perjalanan ke rumah sakit," ucap Perawat memberitahu tentang keadaan ayahnya saat ini, yang ternyata telah mengalami kecelakaan.
"Tsk.. Kerja kalian apaan sich, sampai bisa papa saya terjatuh dari tempat tidurnya, bawa saja ke rumah sakit keluarga mungkin Rudy lagi ada disana," seru Keysa memaki perawat ayahnya itu.
"Arrghh... Mungkin besok saja aku datang lagi kesini," gumamnya, kemudian dia menginjak pedal gas tapi tidak menuju kampung Tegal Bungur, melainkan parkir dan kembali ke ibukota karena bagaimanapun dia lebih cemas dengan keadaan ayahnya saat ini.
***
"Bi, ini mau langsung dibawa ke pasar sekarang apa besok pagi?" tanya Rena setelah meletakkan keranjang berisi cabe rawit yang lumayan banyak.
"Besok pagi saja neng, kita istirahat saja sekarang mah," timpal Bi Ijah, memang setelah pulang dari pasar Rena dan Bi Ijah juga ibu-ibu yang lainnya langsung berangkat lagi ke ladang untuk bekerja paruh waktu yaitu memetik cabai rawit yang ada disebelah selatan kampung tersebut dan upahnya yaitu sistem bagi hasil cabai yang telah dipetik.
Rena tidak menyadari bahwa ketika dia pulang dari ladang bersama Bi Ijah, ada sepasang mata yang memperhatikannya dari dalam mobil yang dia lewati, kalau orang tersebut turun dari balik mobilnya mungkin Rena akan sangat mengenalnya.
"Tok tok tok"
"Waalaikumsalam..." jawab Rena dan Bi Ijah bersamaan, dan Rena langsung melangkah menuju ruang depan untuk membukakan pintu, untuk melihat siapa yang datang bertamu.
"Zahra, kalian...?" seru Rena tertahan, yang kaget melihat teman-temannya yang bawa oleh Zahra.
"Ren, maaf tapi mereka memaksa ingin bertemu denganmu," ucap Zahra pada Rena, karena bagaimanapun dia takut Rena teesinggung dengan membawa teman-temannya, yang mana melihat keadaannya saat ini.
"Renaa...." seru ketiga temannya yang langsung menghambur peluk pada Rena dan langsung berderai air mata dari ketiganya, apalagi saat dalam perjalanan kemari Zahra menceritakan sesungguhnya hal yang telah menimpa sahabat mereka itu.
Sementara anak-anak Mia dan Audy hanya terpaku melihat ibu mereka sesenggukan dan menangis dihadapan orang yang belum mereka kenal.
__ADS_1
"Kalian ayo ikut Ateu ke belakang rumah ada banyak tanaman bunga loch," ucap Zahra mengajak anaknya Mia dan Audy untuk melihat halaman belakang rumah Bi Ijah, diapun melirik Rina dan yang dilirikpun mengerti dan langsung memegang tangan keduanya untuk diajak bersamanya melihat tanaman di belang rumah.
Hampir dua jam lebih mereka berbagi cerita mengenang masa-masa kuliah dulu, tawa ceria terkadang diselingi candaan disetiap obrolan mereka, meski awalnya mereka berniat ingin bertanya tentang keadaan dan kejadian yang menimpa Rena pasca pernikahannya dengan Niko, tapi pertanyaan itu mereka urungkan, karena takut melukai perasaan temannya itu.
"Ren, kami pamit pulang dulu ya, lain waktu kita akan berkunjung lagi, sehat-sehat ya plend," ucap Lena sambil berpelukan dan kemudian disusul oleh kedua temannya.
"Zah, yakin gak mau barengan pulangnya?" tanya Mia.
"Iya, nanti aku jalan kaki juga bisa, aku mau melihat pabrik persiapan pabrik kerupuk dulu, didepan sana," timpal Zahra.
"Pabrik kerupuk?" tanya Audy yang heran.
"Iya, kan Zahra sekarang mau bangun pabrik aneka kerupuk di kampung ini, dia yang jadi bu bosnya," timpal Rena sambil tersenyum.
"Wah, masa? berarti nanti kalau kita datang lagi kesini, bisa sekalian masak alias ngaliwet lalu kerupuknya gratis dech tinggal minta ke bu bos Zahra," seru Lena sambil bercanda.
"Iya, iya, tenang saja nanti di beri kerupuk reject," ucap Zahra.
"Yey... masa yang reject sich, gak enak atuh harusnya yang paling bagus dong buat temen mah," timpal Mia.
"Hahaa.... Maunya, minta gratisan pengen yang paling bagus," lanjut Zahra dan tawapun pecah kembali, meski bahan obrolannya hanya sebatas kerupuk saja.
"Bi, kami pamit pulang dulu ya, assalamualaikum" seru Lena pada Bi Parijah.
"Iya neng hati hati, Waalaikumsalam," timpal Bi Ijah, merekapun akhirnya meninggalkan kediaman Bi Ijah untuk kembali ke rumahnya masing-masing, hanya tinggal Zahra yang masih berada di rumah tersebut.
__ADS_1
"Ren, maafin aku ya karena telah memberitahu keberadaanmu saat ini," ucap Zahra setelah ketiga temannya itu pergi.
"Tidak apa-apa Zah, bahkn aku senang, ternyata kalain masih mengangapku sahabat meski keadaanku sekarang ini, itulah yang membuatku lebih bahagia," timpal Rena.