
Satu jam sebelum menaiki pesawat tujuan keberangkatan Sydney-Djakarta Rena sempat dihubungi oleh Nathan melalui telpon, mereka berbincang hampir setengah jam lamanya.
"Mommy tunggu Amira disana ya," seru gadis kecil dengan cerianya, meski aksen bahasa indonesia yang dia gunakan masih belepotan.
"Iya sayang cepet ke sini nanti kita jalan-jalan melihat air terjun di dekat bukit yang berada dipinggir desa," timpal Rena yang tidak kalah bahagia dan tidak sabar berjumpa dengan calon anak tirinya itu.
Pagi itu Rena berangkat ke bandara internasional kebanggaan negeri ini seorang diri, dia hendak menjemput calon suami dan anak tirinya, suasana bandara terlihat begitu ramai ada begitu banyak orang-orang yang hilir-mudik, terliha juga ada beberapa keluarga terlihat cemas bahkan sebagian lagi mulai menitikan air mata.
Rena yang melihatnya pun merasa terenyuh, dalam benaknya mungkin keluarganya menangis karena melepas keberangkatan salah satu anggota keluarga yang akan bekerja atau mungkin melanjutkan pendidikannya ke luar negeri, entahlah Rena hanya bisa menebak.
Dirinya terus menelusuri koridor bandara, karena kakinya mulai merasa pegal akibat berjalan mengelilingi koridor bandara yang begitu luas, dirinya pun duduk disalah satu bangku panjang yang berjejer, kepalanya menengadah menatapa atap bandara sedekit kemudian memejamkam mata.
"Ah, kenapa aku tak sabar untuk melihat Amira ya?" gumam Rena dalam hati.
Baru beberapa menit memejamkan mata dan sedang terbuai dengan segala hal yang bakal dia lakukan bersama Amira, dirinya dikagetkan dengan suara tangisan yang cukup keras tepat disamping tempat duduknya.
__ADS_1
Rena pun menatap orang-orang yang ada disampingnya yang entah sejak kapan berada disebelah tempat duduknya, dua dari empat orang itu kantung matanya terlihat sembab, sementara dua lainnya yang seorang perempuan yang sudah lanjut usia dan perempuan yang sepertinya sebaya dengannya terlihat menangis tergugu pilu menyayat kalbu.
Karena rasa gelisah yang membuncah dan rasa penasaran yang tak dapat dibendung, akhirnya Rena memberanikan diri untuk bertanya pada keluarga tersebut.
"permisi pak, maaf kalau saya sedikit agak kurang sopan dan lancang, kenapa dengan si ibu dan juga kakaknya itu juga sangat bersedih hati, dan saya lihat tampaknya ada beberapa anggota keluarga pula yang terlihat sangat bersedih?" Tanya Rena pada pria yang seumuran dengan ayahnya itu.
"Hey Nak, kami semua bersedih karena kami telah kehilangan salah satu anggota keluarga kami yang menjadi salah satu korban kecelakaan pesawat," jawab bapak itu.
"Innalillahi..." Seru Rena tertahan, rasa khawatir pun menyelimuti hatinya, dia sangat enggan bertanya lebih lanjut tapi rasa penasaran membuat dia memberanikan diri bertanya kembali.
"Pesawat jurusan Sydney-Djakarta yang rencananya akan tiba pagi ini, tapi katanya pada jam 4 dini hari pesawat tersebut hilang kontak ketika sesaat memasuki wilayah perairan negeri ini," ucap Bapak tersebut kembali menjelaskan pada dirinya.
Seketika Rena tertegun, tak lama kemudian dia memekik dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, meski tak pingsan seperti orang lain yang pertama kali mendengar kabar pilu yang mengejutkan tersebut, tapi badannya terasa lemas seperti semua tulang-tulang yang ada diseluruh tubuhnya dilolosi satu persatu.
Setelah pemrosesan selesai dan telah dikonfirmasi bahwa Nathan dan Amira termasuk salah satu korban dari hilangnya pesawat keberangkatan Sydney-Djakarta tersebut.
__ADS_1
Rena masih terduduk lemas, perasaan sedih, terpukul oleh keadaan yang begitu pahit bercampur dengan pikiran yang mulai kalut, bagaimana dengan rencana-rencananya yang akan mengajak Amira jalan-jalan menelusuri setiap jengkal tanah di kampung tempat tinggalnya, bagaimana dengan pernikahannya yang akan dilaksanakan beberapa bulan kedepan? Sungguh rasa sesak yang memenuhi rongga hatinya begitu menyakitkan.
Waktu berlalu, sore itu terlihat langkahnya gontai menelusuri jalanan kampung Tegal Bungur yang menuju ke ladang, bagi Rena rasa hari ini terasa begitu panjang dan hari-hari panjang lainnya akan yang lebih berat untuk dilalui, Rena terduduk diantara pemetangan sawah dia menekukkan lutut dan membenamkan kepala, air matanya mulai meleleh, semakin deras lantas dia menangis sejadi-jadinya, meraung sekeras-kerasnya.
"Aarrrghhh.... Tuhan kenapa kau selalu berikan kebahagian padaku hanya sesaat, apa kau hendak samakan aku dengan Lembayung senja yang hanya dapat menikmati keindahan cahayanya dalam waktu singkat lantas Kau tenggelamkan dia dalam kegelapan, apakah itu yang kau coba lakukan padaku Ya Tuhan.... Arrrghhh," pekik Rena dengan penuh emosional, memaki.
Kemudian dirinya terbangun dengan mata sembab, sejurus kemudian dia melirik ke arah jam dinding yang berada di kamarnya, yang mana masih menunjukan jam tiga dini hari.
Bulir-bulir keringat membasahi kening dan seluruh wajahnya, mimpi buruk yang begitu sangat terasa nyata, lalu Rena pun mengangkat kedua tangannya dan menengadahkan kepala untuk berdoa kepada Sang Maha Kuasa atas semua takdir yang makhluk semesta miliki.
"Yaa Rabb ampunilahi dosa kedua orang tuaku dan keluargaku, juga ampunilah hambamu ini yang berlumur dosa, Yaa Rabb... Aku tau segala keputusan-Mu adalah yang terbaik, tapi bila keadaan nestapa menimpa hamba-Mu ini, tolonglah kuatkan hati dan imanku untuk mengikhlaskan segala apa yang telah Kau gariskan," gumam Rena, lalu diapun bangun dari dipannya untuk bergegas membantu Bi Ijah di dapur menyiapkan segala keperluan hari ini.
#Yuks tinggalkan jejak dengan Like or coment, agar mimin semangat updetnya bisa kasih mimin Bunga atau Vote.
#Biar gak bosen nungguin part selanjutnya mimin ada rekomendasi novel yang tidak kalah kerennya karya dari senior saya, Yuks segera cekidot.
__ADS_1