
Kamu tahu, ketika kamu benar-benar menyadari bahwa hidup ini tentang kedatangan dan kepergian, kamu tidak akan terlalu terlarut merasakan pedihnya kehilangan.[ Rumput Ilalang @akaksenja]
~
Sudah hampir enam bulan sejak Rehan memutuskan untuk membuka tempat service elektronik, berarti kurang lebih, sudah delapan bulan sejak dia tidak pernah mengetahui lagi kabarnya Rena mantan kekasihnya tersebut, apakah dia mulai terbiasa dengan situasi tanpa cinta pertamanya itu? atau apakah dia sudah menemukan pelipur dari sosok Zahra cinta keduanya yang tengah ia jalani saat ini.
Mungkin jawabannya antara ya dan tidak, karena terkadang dia selalu terpikir akan apa yang tengah dilakukan oleh mantan bidan desa di kampungnya itu, apakah dia baik-baik saja? apakah dia hidup bahagia (semoga), itulah yang kadang berkecamuk dalam benaknya dikala dia tengah menikmati kesendirian tanpa ada kesibukan, kenangan itu kadang selalu menghampiri dikala sepi.
Karena rasa penasaran sempat tak terbendung, dia pernah menanyakan kabar Rena pada Zahra meski dengan perasaan sungkan, tapi tanpa diduga Zahra malah senang bahwa dia masih peduli dengan sahabatnya itu.
Tapi sayangnya semenjak ke pindahan Rena ke luar negeri bersama suaminya, Zahra tidak bisa lagi menghubungi sahabatnya itu, karena semua nomer handphone, serta akun-akun media sosialnya kini sudah tidak aktif lagi, seolah dia tengah mencoba menghindar dan melupakan masalalunya.
"Permisi, mau fotocopy ktp sama ijazah," seru tiga orang pelanggan, memang sejak dua bulan terakhir, kini ruko Rehan selain pernak-pernik elektroniknya semakin lengkap, dia juga sudah mempunyai mesin fotocopy sendiri.
"Ouh... Iya silahkan, mau berapa lembar Teh?" tanya Kinan yang selalu menyempatkan diri untuk membantu kakaknya sehabis pulang sekolah ataupun waktu hari libur, meski begitu Rehan tidak menyuruh atau pun melarang Sang adik untuk membantunya.
"Masing-masing 4 lembar saja dek, sama amplok coklat 3 ya dek!" seru salah satu gadis yang sepertinya baru lulus sekolah SMA.
__ADS_1
"Ouh... Siap, mohon ditunggu sebentar ya Teh," timpal Kinan yang dengan cekatannya membolak-balikan ktp dan ijazah di dalam mesin pencetak.
"Sudah jadi Teh, sekalian isi pulsanya gak? ngomong-ngomong untuk ngelamar kerja ya Teh?" tanya Kinan basa-basi ingin tau, sementara dia sendiri yang sekarang baru dua bulan naik ke kelas tiga sekolah menengah pertama.
"Nggak lain kali saja, Iya katanya ada lowongan kerja di pabrik permen yang disekitaran daerah wanaherang," jawab gadis tersebut.
"Mudah-mudah langsung keterima ya Teh," timpal Kinan setelah memberikan lembaran fotocopy.
"Aamiin" seru ketiga gadis itu dengan kompak, dan memberikan sejumlah uang untuk membayar.
"Wuihhh... Rajin amat nich adik ipar," seru Zahra yang baru saja datang bahkan masih menggunakan baju dinasnya, yang langsung masuk ke dalam ruko.
"Kok, gak ngasih kabar sama Kinan Teh Zahra udah balik lagi kesini?" tanya Kinan sambil menengadahkan kepala dan masih memeluk manja.
"Ah masa? kan Teteh udah ngomong pada Kak Rehan untuk memberitahu kamu, bahwa teteh sudah kembali lagi, emang gak bilang? kan Kak Rehan sendiri yang jemput Teteh ke rumah," ucap Zahra sambil mengelus lembut rambut adik dari kekasihnya tersebut, karena dia hanya anak semata wayang, jadi dia begitu akrab dengan Kinan bahkan menyayanginya layaknya adik sendiri.
Lalu terdengar suara motor matic merapat yang ternyata itu adalah Rehan yang membawa bekal makanan dari Uminya.
__ADS_1
"Ish... Kak Rehan nyebelin, gak memberitahu Kinan kalau Teh Zahra udah datang lagi kesini," seru Kinan cemberut, yang langsung menyambar bekal makanan yang dia bawa.
"Eh, gimana mau ngabarin kamu, lah semalam kamu udah ngorok waktu Kakak pulang ke rumah habis jemput Teh Zahra," timpal Rehan gak mau disalahkan, sementara Zahra hanya tersenyum melihat tingkah kedua kakak beradik itu.
***
Setelah mengantarkan Kinan pulang (meski tadinya dia bersikukuh ingin ikut bersama mereka) dan menutup ruko selepas sholat dzuhur, karena setiap hari sabtu memang sengaja selalu buka setengah hari dan kadang hari minggu lebih seringnya dia menutup ruko tersebut.
Mereka berdua pergi ke tempat wisata terdekat, yaitu tempat yang pernah dia dan Rena kunjungi, sekarang mereka tengah duduk disalah satu meja yang menghadap kearah bukit batu, sambil mengumpulkan keberanian untuk menatap lekat mata sang bidan, Rehan mulai mengungkapkan apa yang ada dalam benak.
"Asal Teh Zahra tau, saya sempat berpikir bahwa kalian itu bagai Senja dan Purnama yang tuhan kirimkan pada saya, dan Mungkin dia adalah senja terindah dengan semburat lembayung jingga yang selalu kuharap disetiap penghujung hari, tapi sayang dia pergi tanpa mengucap salam sepatah kata pun, dan hanya menyisakan gelap dikala dia sudah berada diperaduannya, dan kau adalah sinar rembulan dengan Purnama yang menyapa dikala diri ini merasa terselimuti oleh gelapnya keputus asaan, jadi saya berterimakasih atas kehadiranmu,"
"Mungkin kau bukan yang pertama yang pernah singgah dalam sanubari ini, tapi aku begitu yakin atas dirimu, Jadi... Zahratunnisa Will you marry me?"
"Mungkin aku bukanlah seorang pria kaya seperti eksmud-eksmud diluaran sana yang sudah bergelimang harta dari sejak mereka lahir, tapi aku akan berusaha untuk selalu membahagiakan dirimu, dengan caraku sendiri," ungkap Rehan sambil menyodorkan sebuah cincin dan diakhir kalimatnya dia seolah seperti tengah menahan nafas.
"Kang Rehan..." ucap Zahra dengan mata sendu penuh haru.
__ADS_1
"Aku tak peduli bahwa aku yang kedua ataupun pertama, juga aku tak peduli kau dari keluarga yang tak kaya sekalipun, karena hati inipun sudah terpatri di dirimu, aku percaya padamu bahwa kau akan selalu berusaha untuk itu,"
"Jadi terimakasih telah memilihku sebagai pelabuhan cinta, tapi jangan pernah kau hapus tentang senja yang pernah menghiasi harimu, karena tanpa senja Purnama tidak akan pernah ada, karena dia adalah bagian dari siklus yang telah tuhan kehendaki sedemikian rupa, karena tanpa permintaannya kita tidak akan pernah saling bertemu," ucap Zahra menitikan air mata haru dan berusaha mencoba tersenyum manis untuk menerima cincin yang diberikan padanya.