
Keysa yang bergegas meninggalkan rumah dengan mengendarai mobil miliknya, sekarang tengah melaju dan sudah berada diantara perbatasan ibukota dan bogor yang mulai dipenuhi oleh kendaraan berplat ibukota yang akan berlibur ke daerah puncak dan sekitarnya.
Dan hampir membutuhkan sekitar dua jam untuk Keysa sampai di gerbang bertulisankan selamat datang di kecamatan tempat tinggal Rehan, dia terus mengingat jalan sambil mendengarkan suara penunjuk arah dari google map melalui headseatnya, dan sempay melirik jam dipergelangan tangan yang menunjukan jam setengah sepuluh siang.
"Hmmz... Banyak sekali perubahan di daerah sini, lima tahun yang lalu perasaan tidak seramai ini," gumam Keysa sambil melihat suasana pasar yang dia lewati, memang benar dalam empat tahun terakhir telah bermunculan wisata-wisata baru yang telah berdiri di bogor timur, meski tidak seramai daerah puncak tapi setiap akhir pekan ada saja yang berkunjung dan suasana paling ramai adalah saat hari raya atau libur tahun baru tiba.
"Permisi pak," seru Keysa pada rombongan para petani yang tengah berjalan kaki.
"Eh Mangga Neng," timpal salah satu bapak-bapak yang tidak lain adalah Mang Jaya.
"Bapak tau orang bernama Rehan gak?" tanya Keysa.
"Tau, emangnya ada apa?" tanya balik mang Jaya, dia sempat tertegun karena wajah perempuan yang sedang duduk di balik kemudi tersebut mirip sekali dengan Bu bidan Rena yang dulu pernah bertugas di kampung Padasuka.
"Ini saya mau bertemu dengannya, dan saya lupa lagi dengan rumahnya, bisa bapak beritahu saya disebelah mana rumahnya?" tanya lagi Keysa.
"Ouh... Itu tuch gangnya, neng tinggal parkir saja di dekat garasi itu, dan berjalan kaki sekitar kurang lebih seratus meteran ke dalam gang, nanti ada dua rumah yang ada tamannya, nah di situ rumahnya nak Rehan," seru mang Jaya sambil menunjuk ke arah gang.
"Terimakasih Pak.." seru Keysa.
"Sama-sama neng," timpal Mang Jaya, dan Keysa pun langsung menginjak gas kembali untuk segera menemui Rehan, karena ada sesuatu yang ingin sekali dia tanyakan.
"Permisi, selamat siang," seru Keysa setelah berada di depan rumah Rehan, dia sempat ragu takut salah tempat, karena rumah yang dia kunjungi ketika menyuruh Rehan untuk menjauhi adiknya yang telah dijodohkan dengan Niko, kini rumah yang dulu masih rumah panggung biasa telah berubah menjadi rumah yang begitu asri dengan pemandangan kebun hidroponik juga tanaman bunga di samping kiri dan kanan rumah, hamparan rumput jepang membuat suasana halaman begitu memanjakan mata, tapi ketika dia bertanya pada ibu-ibu yang lewat memang benar itu tempat tinggalnya Rehan.
__ADS_1
"Permisi...." Serunya lagi tapi masih tidak ada jawaban, tapi setelah beberapa lama muncullah Umi Kinan dari dalam.
"Silahkan,maaf lama tadi sedang sholat dhuha, ada keperluan apa? apa mau pesen rengginang?" timpal Umi Kinan, yang belum sadar siapa yang ada dihadapannya.
"Eh, enggak saya ada keperluan sama Rehan, apa Rehannya ada?"
"Eh, ini Rena ya?" ucap Umi Kinan balik bertanya, Umi Kinan memang belum tau bahwa Rena sudah ada di desa ini, tepatnya di kampung Tegal Bungur.
"Bukan Bu, saya Kakaknya Rena," jelas Keysa.
"Ouh, yang waktu itu ya, tapi maaf Rehannya sedang pergi ke ruko, sedangkan anak sama istrinya tadi diajak sama teman masa kuliahya pergi ke tempat wisata gunung batu," ucap Umi Kinan, sementata Keysa tidak tau bahwa istri dari Rehan saat ini adalah teman adiknya.
"Hmmzz... Ternyata dia sudah mempunyai pasangan hidup, ku kira dia tidak akan bisa move on dari adikku," gumam Keysa dalam hati.
"Terimakasih Bu, maaf mengganggu, saya mau langsung aja nyamperin dia kesana," seru Keysa dan langsung pamit undur diri.
***
Sementara di taman wisata gunung batu, Zahra dan teman-temannya tengah menikmati suasana indah sambil berenang di kolam dengan pemandangan bukit yang menjulang.
"Udaranya cukup sejuk juga ya, gak kalah sama puncak, tapi jalaanannua itu loch masih belum mulus seperti paha gue," ucap Mia mengomentari wisata yang baru pertama kali dia kunjungi.
__ADS_1
"Plakkk"
"Aww..." jeritt Mia yang paha putmulnya ditampar cukup keras oleh Audy, sementara si pelaku hanya tertawa memasang muka Watados alias wajah tanpa dosa.
"Hah.. Paha loe? kagak salah tuch, mulusan juga paha gue," timpal Audy sambil memamerkan pahanya juga, memang kedua mahmud itu memakai baju renang yang cukup seksi, sementara Lena dan Zahra hanya memakai training panjang dan kaos lengan pendek, apalagi Zahra yang tetap memakai hijabnya.
"Heh... Kalian ini sudah emak-amak juga, tingkahnya kayak bocah saja, gak malu tuch sama bocil yang kalian bawa?" sindir Lena yang heran dengan tingkah kedua temannya itu.
"Tapi kalau tau ada wisata sebagus ini mungkin dari dulu kita kesini, meski jauhnya juga sama kayaknya dengan perjalanan ke puncak tapi gak terlalu macet," lanjutnya.
"Hahaaa... Kita kan memang masih muda," timpal keduanya sambil berpelukan, yang tadinya sempat kejar-kejaran dikolam renang.
"Dan juga katanya masih ada wisata lainnya di seluruh kecamatan ini, beneran itu Zah?" tanya Mia.
"Iya memang benar ada beberapa lagi tempat wisata daerah sini, meski sudah beda kecamatan tapi jaraknya cukup dekat kok," ucap Zahra yang duduk di tepi kolam sambil mengayunkan kaki didalam air.
"Wah, kita bakal sering-sering dong berkunjung kesini dan Zahra bakal jadi tour guide kita nantinya," seru senang Audy.
"Gak, enak aja disuruh jadi tour guide gratisan," timpal Zahra.
"Zah... Tadi sewaktu menuju rumahmu, sekilas aku seperti melihat Rena berjalan kaki bareng para ibu-ibu melewati jalanan setapak yang mengarah ke pemetangan sawah, apa gue halu ya, karena saking kangen dan belum pernah bertemu selama lima tahun terakhir ini, apalagi semua akun medsosnya juga tidak pernah aktif, gue jadi khawatir sama tuch bocah," ucap Lena menceritakan apa yang dilihatnya itu.
"Deg"
__ADS_1
"Itu pasti beneran Rena yang habis pulang dari pasir, apa saya katakan terus terang saja ya," gumam Zahra dalam hati.