Asa Di Ujung Lembayung

Asa Di Ujung Lembayung
Perkataan Menohok Sang Putri Kedua


__ADS_3

Pandangan Pak Wijaya terus mengarah keluar jendela mobil, menatap pohon-pohon yang terlihat bergerak seolah-olah saling berkejaran beriringan, jalanan ini terasa asing baginya, karena dia baru pertama kali datang ke daerah terpencil ini, kendati mantan ARTnya berasal dari daerah ini.


"Dari pertama kita keluar ibukota ku kira kau akan membawa Papa ke daerah puncak Key, dan mengira Rena tinggal di bekas rumah neneknya yang ada di bogor kota sana," ucap Pak Wijaya sambil terus memandang keluar yang kali ini viewnya didominasi oleh pesawahan dan terlihat pula gunung-gunung berjejer dari kejauhan.


"Ini adalah tempat dimana Rena pernah bertugas ketika masih seorang Bidan," ucap Keysa.


"Apa mungkin pria yang akan menikah dengan Rena adalah orang yang pernah datang ke pesta ulang tahunnya itu? Kalau memang pemuda itu Papa juga harus meminta maaf atas apa yang pernah Papa perbuat padanya," timpal Pak Wijaya.


"Bukan dia pak, Rehan sudah mempunyai keluarga dan terlihat sangat bahagia sekarang, tapi tetap saja Papa harus meminta maaf padanya bagaimana pun juga, karena Papa dan kedua putra Paap pernah membuatnya sakit hati dengan menghinanya di depan orang banyak, dan asal Papa tau kalau bukan karena Rehan, mungkin kita tidak akan pernah bertemu lagi dengan Rena," ucap Keysa, perkataan yang terlontar dari mulut putrinya tersebut sontak membuat Pak Wijaya terdiam untuk beberapa saat.


"Hummz... Ya memang seharusnya Papa meminta maaf pada semua orang yang pernah tersakiti oleh perkataan maupun perbuatan Papa dimasalalu, berarti kalau bukan pemuda tersebut siapa yang ingin mempersuntingnya? Dan juga apa maksud kalimat terakhirmu itu? Papa masih belum paham semuanya?" Ucap Pak Wijaya dan dia bertanya pada Keysa maksud ucapannya itu.


"Orang yang akan mempersunting Rena adalah seorang dokter yang dulu pernah di panggil ke rumah oleh Rudy, dan setibanya dia disana kalian malah memutuskan hubungan mereka dengan seenak jidat kalian, Papa dan kedua putra Papa sejak dulu memang tidak bisa menghargai orang lain kecuali orang yang sama derajatnya dimata Papa, mungkin andai dulu suami Keysa tidak berasal dari keluarga terpandang mungkin Papa juga akan melakukan hal yang sama pada Keysa, Tapi orang tersebut sekarang kembali, karena dia yakin sudah merasa pantas dimata keluarga kita," ucap Keysa yang mana perkataannya begitu menohok.


"Dan untuk Rehan, dia adalah orang yang menyelamatkan Rena ketika dia terkena malapetaka di negeri sakura sana, yang mana ketika itu kita semua sudah pasrah dengan apa yang telah si bungsu itu alami, dan dia juga yang membawa Rena kembali ke tanah air, perihal kenapa dia tidak membawa Rena kembali ke keluarga kita dan malah membawanya ke desa ini, itu adalah kemauannya Rena sendiri mungkin dia masih kecewa dengan kita semua, nah sepertinya kita sudah sampai, persiapkan mental Papa karena akan ada kejutan masalalu yang mungkin sudah Papa lupakan," Lanjut Keysa, kata-katanya sungguh tajam bak anak panah yang dilesatkan beberapa kali ke arah ayahnya itu.


Tidak terasa meraka sudah sampai di tempat tujuan dan mobil yang dikendarai Keysa pun berbelok masuk ke kampung Tegal Bungur, tapi sebelum masuk gapura dia berhenti sebentar, "Permisi kang, Bosnya ada?" tanya Keysa pada salah satu pegawai Rehan yang tengah mempersiapkan krupuk yang akan di kirim.


"Belum datang bu, mungkin ke gerainya dulu," Jawabnya.

__ADS_1


"Kalau Rena ada?" tanyanya lagi.


"Rena? Rena mana ya bu? yang bagian administrasi apa bagian produksi?" timpal pemuda tersebut dan balik bertanya.


"Hmmz... Jadi ada dua ya nama yang sama, Rena yang tinggal bareng sama Bi Ijah itu kang," ucap Keysa, Pak Wijaya yang tenah mengamati rumah produksi dari dalam mobil langsung menoleh terkejut pada anaknya itu, seolah dia tidak asing dengan nama tersebut.


"Ouh... Teh Rena yang bagian admin, katanya dia sama Bi Ijah gak masuk hari ini, karena ada acara di rumahnya," ucap pemuda itu menjelaskan.


"Ouh.. Begitu ya, terimakasih Kang informasinya, kalau begiti saya permisi dulu," ucap Keysa dan dia pun kembali ke mobilnya.


"Key, nama yang kamu sebutkan tadi apa dia adalah Bi Parijah mantan pembantu kita dulu?" tanya Pak Wijaya setelah Keysa kembali duduk dibalik kemudinya.


"Nanti juga Papa tau sendiri," jawab Keysa singkat dan langsung melajukan mobilnya ke pintu masuk kampung tersebut.


"Dang, Kang Rehanny ada?" seru Zahra yang baru saja datang dengan pakaian dinasnya.


"Ada di belakang Bu, kayaknya lagi benerin laptop dech," jawab Adang singkat sambil terus dengan cekatan tangannya memainkan kertas diatas mesin fotocopy.


"Terimakasih Dang, kalau begitu saya ke belakang dulu," ucap Zahra sambil terus melangkah.

__ADS_1


"Mau dibuatin minum gak bu?" tanya Adang lagi.


"Gak usah, lanjutin aja kerjaanmu lagian tinggal ambil sendiri aja gak perlu ngerepotin kamu," timpal Zahra.


Sesampainya di halaman belakang terlihat Rehan tengah duduk di atas rumput dekat kolam mini tempat dia memelihara beberapa ikan hias, "Awas nanti jatoh laptop orang ke dalam air," seru Zahra yang cukup mengagetkan Rehan yang tengah khusus memperbaiki ponsel milik pelanggan dan sementara dua leptop sudah selesai diperbaiki.


"Eh Bu Bidan cantik istri Akang, ngagetin aja ya," ucap Rehan dan langsung mencubit hidungnya dengan manja ketika Zahra sudah ikut duduk di dekatnya.


"Ish.. Maen pencet hidung aja, dikira bel sekolah kali ya? " timpal Zahra yang langsung menarik tangan suaminya dari hidung yang cukup mancung itu.


"Hehee... Soalnya ngegemesin, ngomong-ngomong tumben Umi jam segini udah nongol kemari, kangen ya?" ucap Rehan tersenyum menggoda istrinya tersebut, sambil memajukan kepala dan mengedi-ngedipkan mata genitnya.


"Hmmzz... Geer banget ya," seru Zahra sambil mengusap dengan kasar wajah suaminya, meski begitu memang harus dia akui tingkah jail dan manja juga terkadang konyol sang suami adalah salah satu obat penghibur ketika dia merasa lelah dalam bekerja.


"Hehehee... Kirain," ucap Rehan sambil menyengir.


"Eh Abi, ngomong-ngomong bukannya Abi di undang ke rumahnya Bi Ijah ya, sama Kak Keysa?" tanya Zahra mengingatkan.


"Ouh... Iya ya, hampir lupa tapi apa harus abi pergi ke sana? Bukankah itu acaranya Dokter Nathan dan Rena?" ucap Rehan.

__ADS_1


"Ish... Jangan gitulah apalagi kalau tidak ke sana, kita bakal gak enak hati sama Bi Ijah apalagi pada Rena, atau jangan-jangan Abi ada rasa cemburu ya liat mantan kekasih menikah dengan orang lain," timpal Zahra kembali menggoda suaminya tersebut.


"Ish... Enak aja mana mungkin cemburu, malahan Abi senang ngeliatnya, lagian Abi kan udah punya bidadari yang sangat cantik udah menemani Abi selama ini, apalagi bidadari tersebut telah memberi Abi seorang malaikat kecil yang sangat manis dan lucu," ucap Rehan menatap penuh kasih sayang pada Zahra, membuat dirinya tersenyum mendengar perkataannya itu.


__ADS_2