Asa Di Ujung Lembayung

Asa Di Ujung Lembayung
Kunjungan Keysa


__ADS_3

"Asaalamualaikum, permisi...." Seru Keysa setelah sampai di rumah Bi Ijah, tapi keadaan rumah tampak sepi.


"Apa mungkin mereka pergi ke pasar ya?" gumamnya, karena tidak ada jawaban Keysa pun duduk di balai bambu sambil melihat pemandangan sekitar rumah mantan ARTnya tersebut, meski rumah tersebut sangat-sangat sederhana yang bila dibandingankan dengan rumahnya saat ini sangat jauh sekali apalagi bila dibandingkan dengan rumah mereka terdahulu.


"Eh ada tamu ternyata, udah nunggu lama Non Keysa?" ucap Bi Ijah yang baru datang dan melihat Rena tengah duduk sambil memainkan ponsel genggamnya.


"Ah nggak juga Bi, baru beberapa menit yang lalu, ngomong-ngomong Renanya mana Bi?" timpal Keysa dan langsung balik bertanya, perilakunya terhadap Bi Ijah sekarang semakin ramah tidak seperti ketika Bi Ijah masih sebagai ARTnya, meskipun dulu dirinya tidak separah kedua saudara laki-lakinya dalam memperlakukan perempuan paruh baya tersebut.


"Ouh... Neng Renanya masih di depan tadi dia mampir dulu ke rumah produksi pembuatan krupuk, katanya mau ngecek pengiriman barang hari ini, biar besok bisa direkap, bentar lagi pulang kok," ucap Bi Ijah menjelaskan.


"Rumah produksi? apakah Rena sekarang kerja disana dan apakah jaraknya dekat dari sini? juga siapa pemiliknya?" tanya Keysa dengan sorot mata yang begitu ingin tau.


"Iya... Sekarang Neng Rena kerja disana sebagai bagian dari Staff Admin, tempatnya juga dekat kok, itu rumah yang ada disamping depan gapura kampung ini Non, lagian rumah produksi tersebut pemiliknya adalah Nak Rehan dan tidak hanya Neng Rena, Bibi sekarang juga kerja disana, sebenarnya hari ini libur tapi karena ada yang lembur sebagian jadi Neng Rena menyempatkan mampir ke sana," Jelas Bi Ijah.


"Rehan? Berarti selain punya gerai elektronik dia juga sudah punya usaha yang lain?" seru Keysa yang cukup terkejut bahwa pemiliknya adalah orang yang pernah ia dan keluarganya dipandang sebelah mata, dan sekarang Rehan mulai merintis kesuksesan bahkan dirinya juga kenal dengan orang-orang dari pengusaha besar di negeri ini salah satunya Pak Ichirou-san yang pernah dia temui ketika di parkiran Mall bersama Rehan.

__ADS_1


"Iya Non, bahkan sekarang katanya ladang dan sawahnya juga sudah bertambah, makanya Nak Rehan sering membagikan sembako ke anak yatim serta orang jompo setiap bulannya di sekitar desa Padasuka ini," timpal Bi Ijah kembali menjelaskan.


"Hmmz... Baik juga ya dia meski bisnisnya masih terbilang sederhana," gumam Keysa dalam hati setelah mendengar penjelasan tersebut.


Tidak lama kemudian Rena yang tengah Keysa tunggu akhirnya muncul juga, "Eh Kak Keysa sudah lama Kak? bagaimana kabar papa dan juga kedua kakak yang lainnya?" seru Rena yang langsung mencium telapak tangan saudari perempuannya itu dan diapun masih sempat menanyakan keluarganya, meski dirinya yang mungkin sudah hampir dilupakan oleh kedua saudaranya.


"Hmmz... Alhamdulillah keadaan kesehatan Papi mulai membaik dan juga dua saudaramu juga semuanya pada sehat mungkin, karena kakak gak ketemu dengan mereka, soalnya dari bandara cuma mampir sebentar di rumah apalagi kedua saudaramu itu jarang sekali menengok keadaan Papi karena kesibukan mereka," ucap Keysa setelah Rena mencium telapak tangannya, dia pun langsung memeluk cukup lama adik perempuan satu-satunya itu.


"Ngomong-ngomong kata Bi Ijah, kamu dan Bi Ijah sekarang kerja di home industri yang depan sana ya? tapi emang hari minggu gak libur?" tanyanya setelah melepas peluk.


"Iya Kak, libur sich tapi tadi Rena mampir sebentar untuk mengecek pengiriman barang hari ini," jawab Rena, merekapun asik berbincang menceritakan kegiatan masing-masing selama satu bulan ini, senyum manis selalu tersungging di bibir Rena dan tawa renyah ketika dia menceritakan pengalaman lucu bersama para tetangga ketika memetik hasil panen cabai.


"Bi Ijah bolehkah saya menginap disini?" tanya Keysa setelah mereka makan siang bersama, perkataan tersebut membuat keduanya terkejut.


"Hah, beneran kak?" tanya Rena yang memastikan bahwa ucapan Kakaknya tersebut hanyalah sebuah candaan, tapi di balas dengan anggukan kepala.

__ADS_1


"Beneran, kakak ingin merasakan suasana baru mungpung kakak cuti hingga hari selasa, tapi bila kalian merasa terganggu kakak akan mencari penginapan saja di sekitaran sini," ucap Keysa.


"Tidak, kami tidak merasa terganggu sama sekali malah bibi sangat senang, kalau begitu nanti bibi siapkan kasur sama selimutnya, tapi mohon maaf ya Non bila keadaannya sangat berbeda dengan apa yang Non Keysa miliki," ucap Bi Ijah, dia cukup senang selain Rena ada teman mengobrol karena biasanya Bi Ijah selalu tidur cepat akibat kelelahan sehabis bekerja.


Sementara Rena selalu terjaga hingga tengah malam, dan untuk mengusir bosan Rena selalu membuat sesuatu seperti menganyam keranjang atau merajut syal maupun baju yang dia pelajari ketika tinggal dikuil bersama dua pasangan kakek-nenek yang pernah menolongnya ketika di negeri sakura, meski waktu itu jiwanya tidak stabil tapi ingatan akan cara merajut tersebut masih melekat sampai saat ini.


"Kalau begitu aku mau jalan-jalan kedepan sebentar," ucap Keysa dan langsung turun dari balai bambu.


"Awas jangan terlalu jauh ntar nyasar, hehee..." Seru Rena sambil tersenyum.


"Ish.... Nggaklah cuman ke depan doang, tapi kalau tersesat juga kan ada kamu yang nyariin, mau kan nyariin kakak kalau tersesat di kampung ini," timpal Keysa menanggapi perkataan dari adiknya sambil tersenyum pula, tapi dia langsung tertunduk karena ada rasa bersalah bila teringat masalalu ketika Rena menghilang dulu, dia dan saudara-saudaranya tidak mencari adiknya itu.


"Insyaallah.... Paling nanti kita umumin di balai desa minta sama pak Rt," ucap Rena lagi sambil terus tersenyum menggoda dan hanya dibalas senyuman oleh kakaknya.


Keysapun terus menelusuri jalan kampung dengan berjalan kaki sambil melihat-lihat rumah-rumah sekitar dan sesekali membalas sapa orang yang berpapasan dengannya, dan setelah sampai di rumah produksi dia melihat-melihat suasana pabrik tersebut.

__ADS_1


"Selamat siang Kak Keysa ada yang bisa saya bantu?" ucap seseorang dari arah belakangnya dan Keysapun melirik kearah sumber suara yang ternyata dia adalah sang pemilik rumah produksi tersebut yaitu Rehan.


"Eh Rehan.. Selamat siang juga, bagaimana kabarnya?" timpal Keysa agak terkejut, apalagi terlihat sekarang seperti mempunyai aura yang cukup berwibawa tidak seperti pertama mereka bertemu.


__ADS_2