Asa Di Ujung Lembayung

Asa Di Ujung Lembayung
Menemui Bi Parijah


__ADS_3

Pesawat komersil milik sakura airlinespun terus mengudara membelah cakrawala, melintasi beberapa negara dan sempat transit selama beberapa jam untuk pesawat.


Di dalam kabin pesawat, Rina yang meminta tempat duduk paling dekat dengan jendela terus saja memandang keluar jendala, dia sangat senang melihat hamparan awan putih dan birunya lautan yang ada dibawah sana.


Setelah menghabiskan hampir setengah hari, akhirnya mereka telah tiba di bandara internasional ibukota.


"Pengalaman yang sangat luar biasa, yang tidak akan terlupakan, karena kesempatan yang langka untuk Kinan bisa jalan-jalan keluar negeri," Seru Kinan setelah mereka turun dari pesawat dan menuju tempat penjemputan barang.


Rehanpun mencarter sebuah mobil minibus untuk membawa mereka pulang ke kampung Padasuka, jalanan macet yang tidak asing bagi warga ibukota, menjadi sebuah pemandangan mengiringi perjalanan kembali ke kampung halaman.


"Pak Kita pergi ke wisata bukit batu dulu ya," ucap Rehan pada sang supir setelah mereka memasuki daerah yang tidak jauh lagi ke kota kecamatan.


"Baik Pak, tapi saya baru pertama kali ke daerah sini, jadi tolong tunjukan jalannya ya pak!" timpal sang supir menyetujui dan Rehan pun mengangguk menyanggupi.


"Kak emang masih belum puas jalan-jalannya? Kinan udah cape pengen istirahat pengen segera rebahan," seru Kinan dari jok belakang, sementara Rina yang sudah terlelap dipangkuan ibunya tidak terganggu sama sekali dengan suara ateunya itu.


"Kalau kamu tidak mau, gak ikut turun juga tidak apa dek, karena Kakak ingin menunjukan sesuatu pada Rena, semoga saja dengan begitu ingatan dan rasa traumanya bisa sedikit terobati," ucap Rehan pada adiknya.


Sesampainya di tempat parkir pariwisata, yang turun hanya Rehan serta Zahra dan Rena saja, karena Kinan disuruh menjaga Rina yang tengah tertidur lelap.

__ADS_1


Merekapun sampai ditempat dimana pertama kalinya Rena mengajak Rehan berlibur berdua, dan disana pula pertama kali menyatakan perasaannya pada Rena, pertemuan terakhirnta pun terjadi ditempat yang sama.


Terlihat Rena termenung dan meneteskan air mata seperti mulai mengingat suatu kenangan, kemudian dia mentap Zahra dan Rehan secara bergantian, lalu memegang tangan keduanya untuk menyatukan tangan dari sepasang suami-istri tersebut, dan setelah itu dia pergi tanpa mengatakan sepatah katapun.


"Rena, apa kau mulai mengingat kami?" tanya Zahra dan Rena pun hanya mengangguk, tapi itu sudah cukup bagi Rehan dan Zahra, diapun berlari dan langsung memeluk sahabatnya itu dengan penuh haru.


"Bi Parijah, to tolong antar saya ke sana, saya tidak ingin lagi ke keluarga itu," gumam Rena pelan dan itu cukup terdengar oleh Zahra, diapun mengiyakan permintaan sahabatnya itu.


Dari tempat wisata gunung batu merekapun kembali melanjutkan perjalanan dan kali ini pergi ke kampung Tegal Bungur, dimana kampung tersebut tidak jauh dari kampung Padasuka tempat tinggalnya Rehan dan keluarganya saat ini.


"Assalamualaikum.." Seru Rehan dan Zahra berbarengan mengucap salam disebuah rumah panggung yang nampak sepi.


"Eh.. Nak Rehan, tumben sore mampirnya," lanjutnya setelah mengetahui bahwa yang datang adalah Rehan beserta istrinya.


"Iya Bi, baru pulang dari bandara, Bi Ijah sehat?" ucap Rehan dan langsung menanyai kabar mantan ARTnya Rena itu.


"Alhamdulillah baik, ouh habis jalan-jalan ya?" timpal Perempuan yang hampir menginjak usia 60 tahun itu, memang semenjak usaha Rehan berjalan lancar, setiap bulannya dia selalu mengunjungi Bi Ijah untuk sekedar memberi sembako agar memperingan biaya hidup Bi Ijah, karena bagaimanapun beliau hidup sebatang kara di rumah tersebut.


"Non Rena!" seru Bi Parijah tertahan, ketika melihat siapa yang baru saja datang bersama Kinan dan Rina.

__ADS_1


"Boleh kami duduk dulu?" ucap Rehan.


"Eh iya, maaf silahkan," ucap Bi Parijah tergagap, karena terkejut dengan kedatangan mantan putri majikannya itu yang sudah hampir lima tahun lebih dia tidak pernah datang menemuinya lagi, padahal Rehan pernah berkata bahwa Rena telah menikah dengan orang pilihan ayahnya.


"Bi.." ucap Rena sambil menghambur peluk pada Bi Ijah, lalu dia menangis sejadi-jadinya, raut muka Bi Ijah terihat terheran-heran, karena belum mengerti apa yang teradi.


"Ini sebenarnya ada apa Nak Rehan?" tanya Bi Parijah setelah Rena terlihat tenang dan kembali tatapannya kosong, seolah suasana mentalnya masih labil.


"saya kesini karena ada permintaan terhadap bibi, saya mohon ijinkan Rena tinggal bersama Bi Parijah disini sampai dia benar-benar sembuh dari rasa traumanya," ucap Rehan.


"Trauma? trauma kenapa? bukankah kata nak Rehan bahwa non Rena sudah menikah? apakah suaminya telah melakukan KDRT terhadap non Rena, apakah ayah dan saudara-saudarinya tidak mengetahui hal tersebut?" ucap Bi Parijah dan memberikan Rehan begitu banyak pertanyaan.


Rehan pun menceritakan kronologi bagaimana mereka bisa bertemu Rena dan membawanya kemari, menceritakan bagaimana Rena bisa seperti sekarang ini.


"Hiks..Hiks.. Astaga Non Rena kenapa semua itu bisa menimpa anda? perjalanan hidupmu sungguh sangat berat" ucap sedih Bi Parijah sambil memeluk putri mantan majikannya.


"Baiklah saya akan merawat Non Rena seperti putri bibi sendiri, karena bagaimanapun dia adalah orang yang membela kami, tidak habis pikir bagaimana dia menderita selama lima tahun di negeri orang," lanjutnya lagi dan menyetujui untuk Rena tinggal bersamanya.


Setelah mendengar bahwa Bi Parijah bersedia merawat Rena, Zahra merasa sangat tenang sekarang, lalu merekapun menurunkan pakaian yang sengaja mereka beli untuk Rena dan memberikan sejumlah uang pada Bi Parijah untuk keseharian mereka nantinya, meski sempat menolak, karena dia sangat ikhlas merawat Rena tapi Zahra mencoba meyakinkan Bi Parijah untuk bersedua menerimanya.

__ADS_1


__ADS_2