Asa Di Ujung Lembayung

Asa Di Ujung Lembayung
Mencari Informasi


__ADS_3

"Selamat pagi dokter," sapa dua perawat ketika berpapasan dengan Nathan.


"Selamat pagi juga," balasnya, sepulang dari tempat Rena, Nathan langsung merebahkan diri dan langsung tertidur pulas, karena seluruh badannya sudah terasa letih, bahkan dia tak sempat makan malam bersama ayah dan ibunya.


"Pagi Bro, kayak yang cape banget loe? habis kuli panggul dimana?" sapa Audy yang baru saja keluar dari ruangan pentry, semenjak kenal siapa dokter baru dan juga telah bertunangan dengan Rena, kini dia dan Mia tidak pernah lagi menyebutnya pak dokter, tidak seperti pertama kali Nathan datang ke rumah sakit tersebut.


"Pagi juga, emang bener gue abis kuli panggul kemarin," jawab Nathan.


"Hah, serius? Apa belum cukup gaji loe yang seorang dokter juga bos dari sebuah kafe yang tersebar di berbagai kota di negeri kanguru sana, ckckckc.... Loe maruk bener cari uang," timpal Audy.


"Tsk... Sue loe bilang gue maruk, gue itu kemarin bantuin Bi Ijah dan Rena memanen kacang tanah di ladangnya Rehan," ucap Nathan menjelaskan, tidak seperti saat berbicara dengan Rena ataupun Keysa yang hampir tidak pernah mengatakan elo-gue, tapi bila bertemu dengan Audy ataupun Mia dirinya selalu menggunakan kata tersebut, karena memang gaya bicaranya mereka yang seperti itu, jadi Nathan hanya menyesuaikan saja.


"Ouh...." Seru Audy yang hanya menimpali dengan satu kata saja.


"Udah gitu doang, sana loe pergi, cek tuch pasien di ruangan ICU," ucap Nathan dan mendorong bahu teman tunangannya tersebut.


"Siap Pak Dokter Jonathan Alfarizy," ucap Audy.


"Cie... Yang bakal jadi suaminya teman gue, kayaknya mulai menyesuaikan dengan lingkungan sekitarnya, semoga lancar sampai hari H ya dan jadi keluarga yang bahagia," lanjutnya sambil terus melangkahkan kaki diantara lorong-lorong rumah sakit.


"Dasar temen rempong," gumam Nathan, lalu diapun pergi ke ruangan pentry untuk menyeduh segelas kopi agar rasa kantuknya bisa berkurang.


Sementara di parkiran rumah sakit tersebut, dua orang yang baru saja memarkirkan mobilnya terus memperhatikan bangunan yang ada dihadapannya, dua orang itu tidak lain adalah Danie dan juga kakaknya yang bernama Rudy.


"Apa benar ini tempatnya?" Tanya Rudy pada adiknya agar dia memastikan kembali.


"Benar kayaknya, kita masuk saja dulu ke dalam," jawab Daniel, hari ini mereka tidak pergi ke kantor, karena mereka ingin segera bertemu dengan Rena, agar Mereka bisa cepat menuntaskan masalah hak waris dengan adiknya itu.

__ADS_1


Butuh waktu cukup lama bagi mereka menemukan tempat kerja teman adiknya itu, untungnya salah satu perawat yang bekerja ditempatnya adalah mantan teman se kampus mereka meski tidak terlalu akrab dan perawat tersebut memberikan nomer ponsel Mia yang dia ambil dari grup kampus.


Mia yang terkejut bahwa nomer yang menghubunginya sore kemarin adalah kakak laki-lakinya Rena dan langsung meminta untuk bertemu dengannya, lalu dia pun meminta saran pada Audy dan temannya itu menyarankan untuk bertemu di tempat kerja saja diwaktu jam istirahat, apalagi kvemarin memang adalah acara family time.


Tapi sayangnya mereka tidak sabaran dan sekarang mereka sudah ada di tempat kerjanya mereka, "Hubungi orangnya," perintah Rudy.


"Tin awa fWdak diangkat," ucap Daniel setelah beberapa kali menghubungi nomer ponsel Mia.


"Mungkin dia sedang bertugas, hmmz... ramai juga," timpalnya


"Mas, tempat kantinnya sebelah mana?" tanya Daniel pada salah satu satpam yang tengah berkeliling di area koridor.


"Ouh... Sebelah sana Pak," tunjuk sang satwWpam, mereka berdua pun berjalan kearah yang ditunjuk tanpa mengucap terimakasih.


"Heh.... Mentang-mentang kaya, gak ada basa-basinya sama sekali, perasaan pemilik yayasan saja gak gitu-gitu amat" gerutu sang satpam yang melihat sikap dua orang tersebut.


"Akhirnya beres juga, waktunya ke pentry buat nyegerin tenggorokan," gumam Mia yang baru saja selesai mengganti cairan infus dan memeriksa keadaan pasien.


~Kami sudah menunggu di kantin rumah sakit, cepat.


"Waduh... Perasaan gue janjinya nanti siang dech, pake nyuruh cepat segala, kayak gue yang butuh aja, kalau bukan kakaknya Rena udah gue maki tuch orang," gerutu Mia.


"Eh, tapi gue takut, mereka kan orkay yang suka emosian, tsk... Mana si Audy masih melakukan pengecekan lagi," gumam Mia sambil mondar-mandir seperti orang yang gelisah.


Dan pada akhirnya Mia tetap menemui mereka berdua di kantin rumah sakit.


"Selamat pagi menjelang siang pak," sapa Mia setelah dia menghampiri kedua kakak Rena, penampilan mereka memang cukup ganteng tapi sayang tertutup oleh sifat sombong dan suka merendahkan orang lain.

__ADS_1


"Ya" jawab singkat Rudy.


"Baiklah jangan basa-basi lagi, kami ingin kau memberikan alamat tempat tinggal Rena," ucap Daniel to the point.


"Cih.. Menyebalkan sekali, maen langsung ke intinya aja, nyuruh gue duduk dulu kek," gerutu Mia dalam hati.


"Untuk apa kakak-kakak ini meminta alamatnya Rena sekarang?" seru Audy yang baru saja datang.


"Heh...Kakak? Emangnya aku pernah mempunyai adik sepertimu?" tanya balik Rudy dengan sinis.


"Hmmz.... Ternyata kalian memang tidak berubah, hanya ini umur saja yang bertambah tapi kelakuan kalian masih arogan, saya jadi takut bila kami memberitahukan tempat tinggal Rena kalian akan berbuat yang tidak-tidak," ucap Audy tajam.


"Apa maksud dari perkataanmu itu," seru Rudy tak terima.


"Sudah kak, tahan emosimu," ucap Daniel menahan amarah dari kakaknya.


"Maafkan perkataan kakakku ini, dia sedang tidak dalam mood baik, karena kak Rudy sangat ingin mengetahui keadaan adik kami, karena kami sangat mengkhawatirkannya sejak dia menghilang, jadi saya mohon kerjasamanya untuk memberitahukan keberadaannya,"lanjut Daniel mencoba meyakinkan kedua teman adiknya itu.


"Hmmz... Baiklah kalau memang itu alasannya, tapi kalau kalian benar-benar mengkhawatirkannya kenapa tidak bertanya saja pada Keysa ataupun pak Wijaya, kenapa harus pada kami?" Ucap Audy kembali membuat kedua kakak-beradik itu bungkam.


"Memang benar apa yang kamu katakan, tapi alasan kami tidak meminta pada Kak Keysa karena kami tak sempat bertemu dengannya akibat kesibukan kami, dan saat ingin bertanya padanya dia sudah pulang ke singapura, dan ayah, kami sempat bertanya pada beliau tapi kami disuruh mencarinya dengan usaha sendiri, jadi mau tidak mau kami hanya berharap pada kalian," ucap Daniel kembali menjelaskan.


"Hmmz... Kalau memang itu alasannya, kami bersedia memberikannya, tapi saya ingatkan kalian menyakiti perasan Rena lagi, apalagi bila kalian mencoba menghalangi pernikahannya," ucap Audy.


"Tidak, kali ini kami tidak akan pernah mencampuri kehidupannya, karena kami sadar dia berhak mendapatkan kebahagian yang akan dipilihnya," timpal Daniel, perkataan tersebut membuat Audy cukup percaya pada kakaknya Rena tersebut, dan pada akhirnya dia memberikan alamat tempat tinggalnya yang sekarang.


#Jangan lupa kasih like dan komen, supaya Author semangat upnya boleh kasih hadiah bunga atau vote.

__ADS_1


#Dan biar gak jenuh nunggu part selanjutnya mimin ada Rekomendasi karya yang tidak kalah menarik, yuks cekidot.



__ADS_2