Asa Di Ujung Lembayung

Asa Di Ujung Lembayung
Menghadiri Pernikahan Rijal


__ADS_3

Bersamaan dengan detak alunan waktu, Beriring langkah penantian berbalut rindu.


Senyuman teduh menghiasi kasih yang telah berlabuh, Pada nama yang selalu disebut diantara untaian doa, Kemudian langit mengsemogakan pinta, lewat semilir angin sore. Dan Sinar lembayung jingga turut mengaminkan segala asa, Maka merekahlah doa dan ucap Syukur atas apa yang terpatri dalam hati, Ejaan nama dalam bait janji suci yang terlontar dari madyapada hingga Swargaloka, Menghantar dua insan mendayung harap dalam mengarungi mahligai kehidupan bersama.


.


.


"Dar"


"Der"


"Dor"


Suara petasan mengiringi langkah rombongan besan dari calon mempelai pria, terlihat wajah-wajah berseri diselingi canda tawa terpancar dari orang-orang yang mengantar sang calon mempelai pria.


Ya hari ini adalah hari bahagia untuk Rijal yang akan melaksanakan Ijab Qobul, dalam rangka menghalalkan sang kekasih Maryati anak dari juragan sapi, meski raut wajahnya berseri-seri tapi terlihat cukup tegang karena gugup dalam menghadapi penghulu, bahkan ketegangan itu sudah terasa dari semalam.

__ADS_1


"Hati-hati Jal, kalau kau salah pengucapan sampai tiga kali bisa-bisa ditunda loh pernikahan sampai tahun depan," ucap Akbar menggoda dengan menakut-nakuti temannya itu, ketika semalam dia menemani Rijal bersama Azis juga Rehan setelah acara pengajian yang diadakan di rumah orang tuanya Rijal.


"Ah masa, jangan nakut-nakutin kau Bar," seru Rijal dengan tampang tidak percaya.


"Jangan didengar si Akbar mah, gak mungkin ditundalah, paling diganti pengantin laki-lakinya, hahahha..." timpal Azis yang seolah berbicara serius tapi ujung-ujungnya dia juga langsung tertawa, karena tidak kuat melihat tampang pias Rijal yang malah tambah tegang, dia pun mengumpat dalam hati dengan kelakuan dua kampret ini, mentang-mentang sudah pernah melakukan ijab-qobul dan merasa sudah berpengalaman dengan seenak jidat mengolok-olok dirinya.


Sementara Rehan hanya terdiam karen dia pun sama seperti Rijal, bahkan jalan kisahnya masih jauh dan terkesan masih abu-abu apalagi mengingat kejadian pengeroyokan terhadap dirinya waktu itu, dia berprasangka bahwa orang-orang tersebut adalah suruhan ayahnya Rena atau pemuda yang pernah dilihatnya ketika mereka bertemu di depan gerbang puskesmas kala itu.


Apakah cinta mereka akan berlanjut hingga ke pelaminan seperti halnya dua sejoli yang tengah melangsungkan akad nikah ini, hanya tuhan yang tau, tapi dia akan terus berusaha mempertahankan hubungannya dengan bidan muda tersebit, meski saat ini Rena tengah pulang ke rumahnya yang ada di ibukota disuruh oleh ayahnya dan tidak bisa menemaninya menghadiri acara besok.


"Wahai saudara Rijal bin Sanusi, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya, Siti Maryati binti Zakaria kepada engkau dengan mas kawin seperangat alat sholat dan emas seberat satu kilogram dibayar tunai," ucap Sang Penghulu sambil memegang erat tangan Rijal.


"SAH"


Seru orang-orang yang menghadiri prosesi ijab-qobul tersebut dengan penuh semangat dan diiringi tepuk tangan meriah.


Setelah acara Ijab-qobul, selanjutnya para tamu undangan mulai berjajar untuk mencicipi hidangan yang disediakan oleh tuan rumah.

__ADS_1


"Rehan, kapan nyusul nih? tinggal kamu doang loh diantara pemuda yang seangkatan denganmu yang belum menikah," seru seorang ibu-ibu yang membuat Rehan hanya tersenyum kecut, ini adalah sebuah pertanyaan klasik di kalangan masyarakat yang kadang kala tanpa di sadari akan membuat seseorang terluka.


"Doakan aja Bu mudah-mudah disegerakan sama Allah," ucap Rehan dengan senyum sedikit dipaksakan, karena bagaimana pun meski perkataan itu sudah sering dia dengar, ketika menghadiri acara pernikahan atau setiap menjelang hari raya, tetap saja kalimat tersebut bagai anak panah beracun yang langsung menghujam hati kecilnya, apalagi sekarang teman senasibnya sudah mempunyai tambatan hati meski itu melalui proses perjodohan kedua orang tua mereka.


***


Sementara di dalam ruang tamu yang begitu luas dan megah, yang dilengkapi dengan ornamen-ornamen dengan nilai seni yang begitu tinggi terpampang disetiap sudut, beberapa orang tengah duduk di sofa sambil sesekali memainkan handphone seolah-olah untuk sejenak orang yang ada di dekatnya tidak ada.


Orang yang ada di ruangan tersedut adalah Rena, beserta Papa dan kedua Kakaknya, sementara kakaknya yang ketiga tidak hadir karena sedang memimpin rapat dikantornya, mereka berempat tengah membahas hal yang cukup serius terlihat dari suasana seolah-olah canggung bahkan untuk Rena sendiri.


"Apa tekadmu sudah bulat dengan apa yang kau putuskan Rena?" tanya Kak Keysa perihal keputusan adiknya itu, sebenarnya banyak pertanyaan dalam benak kakak kedua Rena tersebut, siapa orang yang membuat adiknya begitu sangat jatuh cinta hingga memberanikan diri untuk membicarakan bahwa dia enggan diperjodohkan.


"Tidak, Papa tidak akan membatalkan pertunanganmu dengan Niko apa pun yang terjadi, kamu harus menikah dengannya, dia itu anaknya cukup baik dan sudah mapan serta sudah dipercaya memegang salah satu perusahan milik orang tuanya, jadi dia sudah mempunyai masa depan yang cerah, tidak seperti orang yang kau sebutkan tadi bahkan dia hanya anak kampung, huh, memikirkannya saja membuat harga diriku berasa turun saja," ucap Pak Wijaya memotong perkataan dari Keysa dan langsung menceramahi putrinya dengan penuh emosi.


"Sudahlah berhenti bersikap batu, apa sih yang kau harapkan dari pemuda kampung, apa dia seorang pengusaha tapi seberapa besar sih jadi pengusaha dikampung, itu tidak akan pernah sebanding dengan kita yang notabenya adalah dari kalangan darah biru," timpal Kak Rudy selaku kakak tertua Rena.


Tidak ada yang membela keputusan dari Rena bahkan cenderung menekannya untuk melanjutkan perjodohannya dengan Rehan, dia sempat melirik Kakak perempuannya Rena sedikit kecewa karena kakaknya itu ternyata tidak membelanya kali ini, hingga Kak Keysa angkat bicara kepada Rena bahwa dia ingin melihat orang yang dia pilih dan menyuruhnya datang dalam acara ulang tahunnya yang ke 25 tiga hari lagi.

__ADS_1


Tadinya Papa dan Kakak tertuanya tidak setuju dengan usul yang diberikan oleh Kak Keysa, tapi wanita karir yang berprofesi sebagai dokter kecantikan tersebut menjelaskan alasannya, selain untuk menilai cocok atau tidaknya pilihan dari sibungsu ini, dia juga merasa harus berbuat adil untuk orang yang dipilihnya dengan memberi kesempatan pada Rehan untuk datang dalam acara tersebut.


Lalu terlintas dari benak Kak Rudy untuk mempermalukan orang yang dipilih adiknya itu di depan umum, tapi Rena menolaknya dengan membela Rehan, karena dia berpendapat untuk apa dia mengundang kekasihnya kalau hanya jadi bahan penilaian, tapi Kak Keysa menekan perkataannya kalau dia tidak mau mengajak kekasihnya tersebut, maka dia tidak akan menyetujui hubungan mereka.


__ADS_2