Asa Di Ujung Lembayung

Asa Di Ujung Lembayung
Ulang Tahun Rena


__ADS_3

Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan, ketika rasa kecewa itu hadir dari ekspektasi yang terlalu tinggi.


.


.


Mobil-mobil mewah dari berbagai merk terkenal silih berganti berdatangan ke rumah yang memang selaras dengan suasana acara yang begitu megah nan elegan, bagai sebuah acara kontes memamerkan kekayaan melalui mobil-mobil tersebut yang berjejer rapi di area parkir yang sangat luas.


Memasuki pekarangan terlihat banyak hiasan-hiasan dengan bunga dari berbagai jenis yang menebarkan semerbak wangi melalui semilir udara malam, suasana di dalam pun begitu ramai bahkan hidangan-hidangan mewah telah tersedia disetiap meja.


Keramaian yang terjadi di kediaman salah satu konglomerat ibukota yang bergerak dibidang kesehatan yaitu Pak Wijaya, tengah melangsungkan acara hari ulang tahun putrinya yaitu Rena yang ke 25 tahun, Pak Wijaya sengaja mengundang kolega bisnisnya dalam acara malam itu, selain acara perayaan ulang tahun putrinya dia pun berencana memperkenalkan calon tunangannya Rena yaitu Nicholas Bramono yang juga sama-sama dari kalangan darah biru.


"Gila baru kali ini gue menghadiri acara ulang tahun semegah ini," ucap salah satu gadis yang baru turun dari mobil sambil celingukan kesana kemari, karena takjub melihat suasana acara yang begitu meriah.


"Iya, tidak disangka orang selalu terlihat sederhana dalam penampilan ternyata anak seorang dari kalangan Konglomerat bahkan ternyata ayahnya adalah seorang pemilik rumah sakit dan beberapa universitas kedokteran ternama di negeri ini," seru temannya yang memakai kacamata.


"Tapi kenapa Rena memilih menjadi seorang bidan ya?, kenapa tidak menjadi seorang dokter dan kuliah di universitas milik keluarganya, dan sekarang dia lebih memilih menjadi bidan disuatu desa yang cukup jauh," ucap heran gadis berambut bergelombang tersebut.


"Mungkin Rena punya pandangan sendiri, lagi pula kita mengenalnya selama ini dia punya sifat sederhana, bahkan ketika dia tinggal di rumah neneknya yang ada di bogor dia tidak pernah bercerita apa-apa tentang keluarganya, mungkin untuk menjaga perasaan kita," timpal gadis yang memakai jilbab tersebut.

__ADS_1


"Benar juga sih apa yang dikatakan oleh Zahra," timpal gadis yang memakai kacamata yang bernama Audy.


"Huh... Berasa pengen pulang gue lihat semua mobil ini," gumam lelaki yang baru saja turun dari balik kemudi, dia langsung berasa kena mental melihat mobil-mobil mewah yang terparkir rapi.


"Sama gue juga, berasa jadi batu koral diantara jajaran mutiara, pantas saja tadi kita ditanya sama security disangka kita salah alamat kali ya, untung Rena ngasih kartu undangan," ucap lelaki satunya lagi yang juga baru turun dari mobilnya.


"Zahra, Audy, Lena, Mia, aduh... udah lama kita gak ketemu, pada sehatkan semuanya, hmmm.. kalian berdua seperti pernah lihat deh?" seru Rena yang baru saja keluar dan berasa senang melihat soulmate semasa kuliah dulu.


"Alhamdulillah kami sehat, iyalah pasti kenal dia kan Senior kita yang di jurusan perawat juga, yang sekarang sudah jadi suaminya si Mia dan ini suami saya, yang juga mantan senior kita," ucap Audy memperkenalkan dua lelaki tersebut, yang ternyata salah satunya adalah suaminya.


"Hmmz.... Bentar, bentar dulu friends, ini beneran Rena yang kita kenalkan?" ucap Zahra sambil memandang Rena dari segala sudut.


"Ih... kalian ini masa sama teman sendiri saja sampai lupa," seru Rena sambil mencubit pinggang kedua temannya, yang membuat kedua temannya itu cekikikan sambil menghindari cubitan dari sang ratu pesta pada malam ini, memang tidak bisa dipungkiri Malam ini Rena terlihat sangat berbeda, pesona kecantikannya begitu terpancar bahkan kedua lelaki yang ada dihadapannya yang notabenya sudah mempunyai istri, berusah menelan ludah berkali-kali dan membuat Audy serta Mia menjewer kuping pasangan mereka.


"Kalian masuk saja duluan ya, nikmatin dulu hidangan yang tersedia, untuk kalian sudah ada meja khusus yang aku sediakan tanyakan saja pada pegawai yang memakai baju maidnya," Ucap Rena kemudian sambil mempersilahkan teman-temannya masuk terlebih dahulu, sementara dia masih celingukan ke arah gerbang.


"Nunggu seseorang?" tanya Zahra.


"Iya," jawab singkat Rena dan masih menyapu pandangan kearah depan.

__ADS_1


"Jangan-jangan nunggu Jonathan ya?, udah jangan di tunggu dia kan sudah tidak tinggal di negara ini dan bukannya kalian sejak semester dua sudah putus?" ucap Audy sambil melirik kearah pandangan yang Rena tuju.


"Ish... Dia kan sudah masalalu, aku juga udah ngelupain dia sejak saat itu, tapi yang aku tunggu itu masa depan ku," seru Rena agak jengkel karena mengingatkan mantan yang pernah mengkhianatinya dulu dan berpaling ke wanita yang lebih cantik dan kaya saat itu.


Beberapa saat setelah teman-temannya pergi, Rena masih menunggu seseorang yang sangat dia tunggu kehadirannya, dan beberapa menit lalu dia menelpon tapi tidak diangkat, hingga sebuah pesan masuk bahwa dirinya sedang di jalan dan terjebak macet, jadi dia mungkin agak telat.


"Rena, ayo cepat masuk, acaranya akan segera dimulai, cepat jemput dia," teriak kakaknya, membuat Rena menghentikan langkah ketika hendak ke tempat sekuriti yang ada di depan untuk memberi tahu bahwa kedatangan orang yang spesial yang tidak lain adalah Rehan, tapi ternyata kakaknya keburu keluar dari dalam ruangan perjamuan dan menyuruh pengawalnya untuk membawanya.


***


"Hey mas nyari siapa, apa saudara mas kerja disini, tapi besok saja jemputnya, sekarang banyak tamu penting, jadi pulang saja sana," seru sekuriti dengan tatapan galak ketika Rehan datang dengan membawa motornya, dan baru saja dia mengucap permisi, dia langsung diberhentikan oleh penjaga gerbang tersebut.


"Maaf Pak saya diundang oleh Rena," ucap Rehan dengan nada sopan, tapi sekuriti malah semakin curiga dan melihatnya dari ujung kaki sampai kepala.


"Hey, mas jangan bohong kamu, perasaan Non Rena tidak punya teman macam mas, sana pergi" seru sekuriti sambil mendorong bahu Rehan dengan kasar dan tampang galaknya masih saja menghiasi wajahnya.


Keributan di depan gerbang tersebut cukup menarik perhatian sebagian tamu-tamu yang baru saja datang, hingga beberapa sekuriti lainnya menghampiri.


"Sudah-sudah, lebih baik periksa saja apa dia punya kartu undangan apa tidak," ucap sekuriti yang pernah melihat Rehan ketika pertama kali datang kerumah yang dia jaga, yaitu ketika tiga minggu setelah meninggalnya Mamanya Rena, lalu Rehan pun menyerahkan kartu undangan yang dikirim oleh Rena melalui kantor pos.

__ADS_1


Masih sedikit tidak percaya dan curiga serta ada sedikit iri, sekuriti tersebut terus memandang ke arah Rehan yang sekarang berjalan menuju tempat acara dilangsungkan.


__ADS_2