Asa Di Ujung Lembayung

Asa Di Ujung Lembayung
Obrolan Bersama Istri


__ADS_3

Selepas kepulangan Jamilah dan siti, Rehan mulai menata sebagian barang-barang yang baru saja dia beli, lalu dia melirik dus.


"Hmmz... Ini apa ya, tadi dibawanya aja cukup berat, kardusnya juga terlihat bagus," gumam Rehan memeriksa barang-barang pemberian dari Pak Ichirou.


"Wow... Ini sih kalau aku sengaja beli bisa ngabisin duit puluhan juta," serunya kaget, karena barang pertama adalah beberapa ponsel keluaran baru yang masih tertutup rapih dusbook dengan jumlahnya hampir 20 buah dan dari berbagai merk.


"Hah... Bisa-bisa sport jantung berkali-kali ini mah," gumamnya lagi setelah membuka kardus kedua yang ternyata berisi laptop dan setelah membongkar semua dus pemberian para pemimpin perusahaan berikat yang di ketuai oleh Pak Ichirou, keseluruhan barang yang diterima oleh Rehan diantaranya: 15 ponsel dari berbagai merk, 3 kamera, 2 laptop dan berbagai suku cadang elektronik, lalu karena ada yang perusahaannya tidak bergerak dalam bidang elektronik, mereka memberi Rehan batu mulia dan logam mulia.


"Abiiiii.... Abis ngerampok dari mana ini?" seru Zahra yang baru saja datang bersama putrinya sambil membawa rantang makanan untuk makan siang suaminya, sementara Rina tengah berada di ruangan depan, yang mana langsung menuju rak cemilan, dan Zahra langsung menyelinap masuk ke ruangan bagian belakang tempat penyimpanan sementara dan juga sebagai ruang istirahat.


"Astagirullah... Umi, udah bikin kaget, malah main sembarangan nuduh nyuri lagi," timpal Rehan yang terkejut akibat teriakan istrinya.


"Hehee.... Ya maaf Abi, udah bikin Abi kaget mah, terus kalau itu tidak nyuri, Abi ngabisin semua tabungan ya?" ucap Zahra sambil tersenyum geli, karena melihat ekspresi suaminya yang hampir terjengkal.


"Hummz... Lama-lama tingkahmu kayak Kinan aja suka ngedadak usil, jangan-jangan udah pada ketularan sama Kinan, lagian Abi gak ngabisin tabungan kok apalagi nyuri, amit-amit tujuh turunan tujuh tanjakan dech kalau sampai melakukan hal begituan," timpal Rehan.


"Ahahaha.... Tapi meski kadang bikin jengkel Kinan kan selalu membuat kita selalu tertawa karena tingkah ceria yang bahkan orang-orang kampung menyebutnya, sebagai gadis peri pembawa kecerian dari desa Padasuka, dan mungkin sebutan karena sikapnya yang baik juga periang membuat semua orang suka padanya," ucap Zahra membela adik ipar yang sangat dia sukai sejak pertama kali melihatnya.


"Wah, dari mana perinya tuch anak usil," ucap Rehan, tapi dia mengakui Kinan adalah sosok adik yang selalu menguatkannya dan selalu memberi semangat ketika dia sedang mengalami kesedihan dan dihinggapi rasa ingin menyerah.


"Terus ini dari mana? masa jatuh dari langit?" tanya Zahra lagi sambil melihat ke atas langit-langit ruangan, seperti sedang memastikan sesuatu saja.


"Ya bisa jadi sich jatuh dari langit," timpal Rehan tersenyum.


"Hah... Yang benar Abi? jangan becanda dech," seru Zahra tidak percaya.


"Yey.. Gak percaya, ini tuch rejeki dari Sang Penguasa langit, ini semua pemberian dari Pak Ichirou beserta teman-temannya yang semuanya seorang pemimpinan perusahaan," ucap Rehan mulai menjelaskan pada istrinya.

__ADS_1


"Terus dari mana Abi kenal sama para pengusaha tersebut?" tanya Zahra semakin penasaran.


"Gimana ya menceritakannya, hmmz... Makan dulu aja dech biar nyeritainnya lancar tak terganggu dengan para pendemo yang bekerja didalam perut, hehehe..."


"Hmmmz... Ah udah mau menurusin cerita aja malah mengalihkan pada hal lain, bikin orang penasaran aja tentang kelanjutannya, abi mah kayak penulis yang udah famous aja, pinter bikin plot twist, (padahal Author yang nulis cerita abi kan masih author remahan😂)"


Gerutuan Sang Istri tidak digubris oleh Rehan, karena dia begitu lapar meski pagi tadi dia makan bersama dengan para pemimpin perusahaan, tapi karena perjalanan cukup lama membuatnya lapar lagi.


Diapun dengan lahap menyantap masakan buatan istrinya, sementara Zahra mulai memeriksa barang-barang elektronik yang ternyata semuanya adalah merk ponsel terbaru yang bahkan masih terpajangan dimajalah yang dia baca kemarin.


"Wahhh... Banyak banget Abi belanjanya," seru Rina yang tiba-tiba masuk karena bosan menunggu kedua orangtua.


"Eh... Putri Abi yang cantik, udah makan siang belum?" tanya Rehan yang habis mencuci tangannya sehabis memakan bekal yang dibawakan oleh istrinya.


"Heheee... Udah dong Bi, sebelum berangkat kesini," timpal Rina.


"Jadi ada tenaga dong buat bantuin Abi? jadi mohon maaf sebesar-besarnya dan tolong dengan seikhlas-ikhlasnya, tolong bantuin menata kartu voucher yang baru datang ini ke etalase depan ya," ucap Rehan sambil bergaya memohon pengampunan pada sang tuan putri raja seperti di film-film kolosal saja.


"Terimakasih Bidadari kecil Abi yang cantik," puji Rehan sambil tersenyum menyanjung anaknya tersebut.


"Sama-sama Abi," seru Rina.


"Jadi bisa jelaskan tentang semua ini?" tanya Zahra setelah Rina keluar dari ruangan tersebut, sambil menunjuk ke alat-alat elektronik keluaran terbaru, yang masih belum dirapikan sepenuhnya.


"Sebenarnya waktu kita mau pulang, ayahnya Keiko selain memberikan cek uang, dia juga menitipkam surat untuk disampaikan ke bawahannya yang memimpin sebuah perusahaan cabang di negeri ini," ucap Rehan mulai menjelaskan pada istrinya.


"ternyata isi surat tersebut, menyuruh pak Ichirou untuk memberikan 10% pendapatan perusahaannya setiap tahunnya pada Abi, terus bukan hanya satu perusahaan lagi tapi hampir 30 perusahaan yang ada dibawahnya, yang harus bersedia memberikan pendapatannya tersebut,"

__ADS_1


"Aappaaaa... Seriusan?" seru kaget Zahra mendengar penuturan dari suaminya.


"Heboh banget dech, kagetnya kayak artis sinetron yang sedang beradu akting, yang kurang hanya musik jengjengnya saja," timpal Rehan berseloroh dan langsung dilempar kardus kosong oleh Zahra.


"Tsk.. Orang serius malah diajak becanda," ucapnya sebal.


"Bayangain aja Abi, 10% dari hasil pendapatan sebuah perusahaan, misalnya pendapatan perusahaan tersebut 100juta pertahun, berarti Abi bakal kebagian 10juta dikali 30, bisa-bisa dalam 10 tahun Abi bisa jadi Konglomerat baru di negara ini,"


"Terus apa Abi menerimanya?" tanya Zahra.


"Enggaklah-," ucap Rehan.


"Kenapa?" tanya Zahra memotong perkataan suaminya.


"Soalnya, Abi takut nantinya kita menjadi ketergantuan dengan uang yang didapat secara mudah, dan takutnya ada hati yang menjadi dengki akibat rasa iri, karena bagaimanapun kita hanyalah orang yang baru kenal kurang dari dua bulan dengan ayahnya Keiko, jadi Abi menghubungi tuan Benjiro dan menolak niatannya tersebut," ucap Rehan.


"Hmmm... Mantap itu baru suaminya Zahra," seru Zahra sambil mengacungkan dua jempol kearah Rehan.


"Terus, barang-barang mewah ini?" tanyanya kemudian.


"Terus, terus mulu kayak tukang parkir supermarket saja," timpal Rehan sambil tersenyum menggoda, membuat istrinya cemberut.


"Iya, iya, jangan cemberut gitu dong, ntar Abi cium nich,"


"cepetan iih-," seru Zahra tambah sebal.


"Cepetan apa, ciumnya," ucap Rehan masih menggoda.

__ADS_1


"Iiiiihhhh.... Abiii..." seru Zahra dan langsung menyubit pinggang Rehan.


"Aduddududu.... Iya, iya sabar napa," ucap Rehan sambil menahan sakit karena cubitan jari lentik sang istri.


__ADS_2