Asa Di Ujung Lembayung

Asa Di Ujung Lembayung
Penolakkan Rehan


__ADS_3

"Hidup adalah serangkaian kebetulan. Kebetulan adalah takdir yang menyamar," -Fiersa Besari


Jalanan ibukota seperti biasa selalu ramai oleh pengendara yang mempunyai agenda maaing-masing, bukan hanya sekedar iseng meramaikan suasana kemacetan jalan protokol, seperti halnya Rehan yang tengah duduk dibalik kemudi, dia sedang menuju suatu tempat yang sudah ditentukan oleh seseorang.


"setibanya di negeri anda tolong berikan ini pada pemimpin perusahaan berikat yang ada disana," bisik Tuan Benjiro pada Rehan sambil menyebutkan alamat salah satu perusahaan, ketika dia menyerahkan sebuah amplop berwarna merah darah dengan simbol naga biru.


Dan Karena seminggu ini dia cukup sibuk, karena pekerjaannya di ruko tempatnya membuka gerai sekaligus bengkel service elektronik, baru kemarin dia bisa menuntaskan amanat tersebut.


Pada awalnya si pemimpin perusahaan tidak percaya dengan perkataan dari Rehan dan hendak mengusirnya, tapi setelah dia memberikan amplop tersebut, lalu si pimpinan yang ternyata juga orang dari negeri sakura meski sudah hampir puluhan tahun berada di negeri ini, memeriksa dengan seksama dan hampir terjengkal karena terkejut.


"Sebentar, biar kita reschedule pertemuan kita ini, karena saya harus mengumpulkan pemimpin perusahaan yang lainnya," ucapnya setelah selesai dari keterkejutannya, diapun memberikan alamat untuk pertemuan selanjutnya.


Dan saat ini dia memasuki wilayah Mall di ibukota bagian selatan, lantas dibelokkan mobilnya untuk memasuki area parkir pusat perbelanjaan modern tersebut.


"Apa gak salah pertemuannya disini, megah bener," gumam Rehan, yang sambil melirik-lirik sekitar, sambil terus melangkah dilorong mall lantai dua.


"Bukk"


"Woy kalau jalan pake mata," seru pria yang tidak sengaja Rehan senggol bahunya, karena dia terus memperhatikan barisan toko yang ada disana, sementara pria tersebut terus saja memperhatikan telpon genggamnya, sementara wanita yang sepertinya istrinya tengah membawa banyak sekali belanjaan.


"Eh, maaf, maaf pak gak sengaja," ucap Rehan sambil memegang tangan pria tersebut.


"Lepaskan, Ouh ternyata eloe" ucap Pria tersebut yang ternyata adalah saudaranya Rena.


"Pantas saja, dasar orang udik, pasti baru pertama ke Mall ya?" ucap Rudy kakak tertuanya Rena itu, memandang hina kepada Rehan.


"Sana pergi jangan dekat-dekat, bisa ketularan miskin gue, bisa ketiban sial lama-lama dekat sama loe," lanjut Rudy yang masih saja melontarkan kata makian dan hinaan sambil mendorong tubuh mantan pacar adiknya, sementara Rehan tidak ingin meributkan hal sepele seperti itu, lalu dia pun pergi sambil terheran-heran dengan sikap sombongnya yang semakin akut.

__ADS_1


"Dasar orang kampung, kenapa hari ini begitu sangat menyebalkan sekali, pertama tadi saat kita hendak masuk restoran malah dilarang, sekarang ketemu cecunguk kampung menyebalkan," gerutu Rudy setelah menepuk-nepuk pakaiannya, seperti sedang membersihkan debu saja, padahal tidak ada noda sama sekali disana.


"Bukankah dia itu orang yang datang diwaktu pesta ulang tahun Rena dan juga mengaku sebagai pacarnya si Rena? sepertinya dia sekarang cukup berbeda penampilannya," ucap istrinya, setelah mereka kembali berjalan.


"Memang benar dia, tapi sebaik apapun perubahan hidupnya bocah kampung itu tidak akan bisa mengimbangi keluarga kita," timpal Rudy dengan percaya diri sekali, meski sekarang perusahaan milik keluarganya tengah limbung.


Ketika Rehan memasuki sebuah restoran yang ada di dalam Mall tersebut terdengar sebuah seruan menyapanya.


"Tuan Rehan... Sebelah sini," ucap pria yang kemarin Rehan temui di perusahaannya itu, kini terdengar panggilan terhadapnya lebih sopan dari pada pertamakali bertemu.


Rehanpun menghampirinya, terlihat hampir ada 30 orang lebih duduk di meja panjang dan direstoran tersebut tidak ada pengunjung lain selain mereka, dia yang melihat pemandangan yang ada didepannya cukup jengah dan merasa minder sendiri, karena Rehan hanya memakai celana jeans serta baju kemeja yang sederhana dan melihat ada beberapa orang yang berjaga diluar pintu masuk membuatnya begitu kaku dalam melangkah


"mari, mari sini, silahkan duduk tuan Rehan, eh maaf saya belum memperkenalkan diri, perkenalkan nama saya adalah Ichirou pemimpin dari perusahaan berikat ini," ucapnya memperkenalkan diri sambil membungkukan badan.


"Dan Saya Xioa Lin, CEO dari perusahaan pembuatan pernak-pernik handphone, dan suku cadang lainnya," ucap seorang pria muda keturunan tionghoa yang sepertinya sedikit lebih tua dari Rehan dan telah menjadi seorang CEO diusianya tersebut.


"Ada apa ini? bukankah aku hanya memberikan surat yang diamanatkan oleh tuan Benjiro, kenapa semua orang penting ini berkumpul dalam satu meja," gumam Rehan yang merasa bingun.


"Maaf pak Ichirou, saya ingin bertanya, ini pertemuan penting apa ya dan kenapa anda mengundang saya? apa saya salah waktu dalam menemui anda?" tanya Rehan.


"Hahaha... Tidak, tidak, ini memang pertemuan yang memang sengaja saya jadwalkan khusus untuk anda," seru pak Ichirou.


"Untuk saya? kenapa?" tanya Rehan sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Hmmz... Sepertinya Rehan-Kun tidak membuka surat tersebut, memang benar-benar pria yang sangat bisa dipercaya," ucap Pak Ichirou, lalu dia menceritakan isi surat yang Rehan bawa kemarin padanya.


Dan ternyata dalam surat tersebut, Tuan Benjiro menawarkan Rehan untuk menerima 10% keuntungan hasil dari perusahaan yang dipimpin oleh mereka setiap tahunnya.

__ADS_1


Kalian bisa bayangkan 10% dari hasil perusahaan yang minimal satu milyar saja, berapa uang yang diterima oleh Rehan dari hampir 30 lebih perusahaan tersebut tiap tahunnya.


"Tidak saya tidak bisa menerima hal tersebut, karena saya ingin berhasil dengan usaha saya sendiri bukan dengan cara seperti itu, karena saya takut nantinya saya akan jadi orang ketergantungan akan dari hasil kerja keras bapak-bapak sekalian," ucap Rehan setelah mendengar penuturan dari pak Ichirou.


"Tapi kami tidak bisa menolak perintah dari tuan Benjiro, karena perintahnya adalah mutlak," timpal Pak Park Ji Ho, yang merasa khawatir akan penolakkan Rehan tersebut.


"Hummz... Kalau begitu saya mohon pak Ichirou, tolong hubungi tuan Benjir, karena saya ingin berbicara dengan tuan Benjiro terlebih dahulu," ucap Rehan.


"Baiklah, kalau itu maunya Rehan-kun," timpal Pak Ichirou, lalu diapun mengisyaratkan anak buahnya membawakan sebuah laptop ke hadapannya, setelah tersambung terlihat wajah tuan Benjiro terpampang dilayar komputer tersebut.


"Ada apa Ichirou, kau menghubugiku? apa ada masalah?" tanyanya.


"Tidak tuan, tapi Rehan-kun sepertinya ingin berbicara dengan anda, perihal surat perintah tersebut, setelah itu Pak Ichiro mempersilahkan Rehan berbicara dengan Bos dari pemimpin perusahaan berikat tersebut.


"Salam tuan Benjiro, bagaimana kabar anda dan keluarga?" tanya Rehan membuka percakapan.


"Baik, sangat baik malah, ada apa nak Rehan apa kau tidak mau menerima penawaranku itu?" tanya tuan Benjiro padanya.


"Maaf tuan Benjiro, saya tidak bisa menerima hal tersebut, karena saya ingin menikmati hasil dari usaha dan jerih payah sendiri, meskipun hasilnya tidak terlalu besar tapi saya sangat bahagia dengan semua itu,"


"Lagipula pemberian yang waktu itu saja masih belum saya pergunakan, karena itu saja lebih dari cukup, jadi mohon maaf bukannya saya menolak pemberian tapi saya tidak ingin menjadi orang yang ketergantungan dengan hal tersebut, sekali lagi saya mohon maaf sebesar-besarnya karena tidak bisa menerima penawaran tersebut," ucap Rehan.


"Hahahaa..... Kau memang sungguh pemuda yang sangat berbeda, tidak salah Keiko berguru pada orang sepertimu, baiklah aku tidak akan memaksa lagi," timpal tuan Benjiro yang tertawa lepas mendengar alasan darinya.


"Tapi, aku dengar kau mempunyai sebuah gerai dan bengkel elektronik, jadi bagaimana kalau mereka menjadi distributor utamamu dan dengan catatan kau boleh membelinya, karena aku tau bila kau mendapatkan secara percuma, pastinya kau akan menolak lagi bukan? jadi Ichirou urusan ini aku serahkan padamu," lanjutnya lagi dan langsung menutup pembicaraan tersebut.


Setelah memberikan penawaran terakhirnya pada Rehan, yang tentunya tidak bisa dia tolak karena takut melukai perasaannya, akhirnya menerima usulan tersebut dan lagipula dia jadi tidak susah-susah mencari distributor elektronik nantinya, karena dia mendapatkan langsung dari pabriknya.

__ADS_1


__ADS_2