Asa Di Ujung Lembayung

Asa Di Ujung Lembayung
Bertemu Dengan Cinta Pertama part 2


__ADS_3

Cinta dan dendam, dengan cara apapun kau memendamnya, kedua matamu akan menampakkannya.


— Zuhair bin Abī Sulmā




"Renaa..?" seru Nathan ketika melihat sosok perempuan yang pernah dekat dengannya.



"Nathan?" seru Rena pula yang terperanjat melihat orang yang sudah lama dia lupakan dan entah mengapa sekarang berada tepat dihadapannya, sejurus kemudian dia pun berlari tanpa mengatakan apapun lagi.



"Ah sue loe orang utan, ngambekkan Rena jadinya, udah dech ningan loe balik aja sana.!" ucap Lena yang marah akibat melihat temannya itu pergi dengan wajah yang seperti ada sebuah rasa kecewa terlukis dari wajahnya.



"Eh... Nathan, mungkin di tempat kerja posisi loe lebih tinggi dari kami, tapi jangan merasa bisa seenaknya, apa loe itu mendengar percakapan kami hanya untuk memastikan bahwa Rena benar-benar sudah kehilangan semuanya? Dan loe bebas untuk menghina setelah dulu loe sakitin perasaannya, apa loe masih belum puas menyakiti Rena?" timpal Audy yang tidak kalah galaknya, sambil menunjuk-nunjuk wajah Nathan karena saking kesalnya.



Sementara Bi Ijah langsung menyusul Rena, setelah melihat mantan putri majikannya tersebut bergegas berlalu dari tempat itu, "Udah dech jangan ladenin dia, lebih baik kita kejar Rena, kasihan dia takut terguncang kembali jiwanya, soalnya dia masih rapuh dengan apa yang sudah dialaminya beberapa tahun belakang ini," ucap Mia yang juga merasa khawatir dengan keadaan sahabatnya itu.



"Dan loe jangan coba-coba ngikutin kita, udah sana pulang aja.!" seru Lena yang langsung mengajak kedua temannya naik mobil, tapi Mia dan Audy sudah terlanjur berlari memasuki gapura kampung Tegal Bungur.



"Hadeuhhh.... Gue malah ditinggal, pada lupa apa mereka berdua sedang bawa anak?" gerutu Lena dalam hati.



"Ateu Lena, Mama kami kenapa kok pada lari, gak naik mobil bareng kita?" tanya anaknya Audy yang heran melihat Mamanya berlari terburu-buru.



"Enggak apa-apa, mungkin Mama kalian mau olahraga sebentar buat nurunin lemak jenuhnya, ayo ah kita susul mereka," timpal Lena ngasal, dia pun melajukan mobilnya memasuki kampung Tegal Bungur, sementara Nathan hanya diam terpaku, seperti ragu antara menyusul mereka atau pulang saja.


__ADS_1


"Tidak, tidak, ini kesempatan aku untuk menjelaskan hal yang sebenarnya, agar Rena tidak membenciku selamanya," gumam Nathan mencoba meyakinkan dirinya yang sempat bimbang antara menyusul atau tidak, dia pun masuk kembali dan menyusul Audy dan teman-temannya ke tempatnya Rena berada, tapi dia tidak memasukkan mobilnya ke dalam kampung, namun hanya memarkirkannya di halaman pabrik kerupuk milik Rehan tersebut.



"Maaf Pak saya, numpang parkir disini ya pak," ucap Nathan meminta izin pada Pak Rt yang baru saja keluar dari dalam rumah produksi tersebut.



"Iya Pak gak apa-apa, aman kok, kayaknya bapak baru ke sini ya, ngomong-ngomong bapak ini dari mana dan mau ketemu siapa?" tanya Pak Rt, sambil mengulurkan tangan pada Nathan.



"Iya saya baru kesini, saya dari ibukota dan mau ketemu sama Rena, katanya dia sudah lama tinggal disini, jadi saya mau silaturahmi, tapi rumahnya sebelah mana ya pak?" ucap Nathan sambil menerima jabatan tangan dari R setempat.



"Ouh... Temannya Bu bidan Rena, kalau begitu silahkan, biar mobil mah disini juga gak apa-apa, ouh rumahnya itu paling kurang lebih seratus meter dari sini," timpal Pak Rt memberitahunya.



"Bu bidan, emangnya dia bidan desa ini ya pak?" tanya Nathan kembali, karena terkejut dan ingin memastikan dengan ucapan pejabat kampung tersebut.




"Zahra, apakah Zahra yang sama? yang pernah aku kenal dan kalau gak salah dia kan temannya Rena juga sama seperti ketiga perempuan tadi," gumam Nathan dalam hati.



"Ouh... Kalau begitu terimakasih pak, saya mau ke sana dulu ya dan ini ada sedikit untuk bapak beli kopi," ucap Nathan sambil menyerahkan uang 50 ribuan pada Pak Rt.



"Eh... Terimakasih banyak kalau begitu pak, jadi gak enak," timpal Pak Rt sambil tersnyum, meski sempat menolak tapi Nathan terus memaksanya, dia bilang itung-itung uang parkir mobilnya, dan setelah memberikan uang tanda terimakasih dia pun menelusuri kampung tersebut.



Sementara setelah Rena sampai di rumahnya Bi ijah yang sekarang menjadi tempat bernaung dirinya juga, dia langsung tertunduk menekuri ke bawah tanah sambil mengingat masalalu yang seolah terlintas kembali sesaat setelah dia melihat wajah orang yang pernah singgah dihatinya, bahkan jauh sebelum dia bertemu dengan Rehan.



Meski kisah cintanya berujung sakit hati dan uniknya beberapa tahun kemudian dialah yang membuat orang lain sakit hati, dan tidak hanya sampai di situ, puncaknya rasa sakit akan kekecewaan terbesar dalam hidupnya adalah tak lepas dari campur tangan keluarganya sendiri, yaitu ketika dirinya dipaksa untuk melangsungkan perjodohan bersama laki-laki badjingan yang bernama Niko, yang berakhir dengan dirinya mengalami kesengsaraan dalam hidup dan terlunta-lunta di negeri orang.

__ADS_1



Hingga kala itu membuat Rena sempat hilang ingatan akibat rasa sakit yang tak tertahankan dari sebuah kekecewa yang terlalu dalam, andai Rehan dan Zahra tidak menemukan waktu itu, mungkin dirinya akan terus menjadi orang yang mengalami Amnesia akut yang terlantar.



"Neng Rena gak apa-apa?" tanya khawatir Bi Ijah setelah dia tiba di rumahnya.



"Tidak apa-apa kok Bi," ucap Rena yang sudah menghapus air matanya sebelum Bi Ijah menghampirinya, karena dia sempat melihat Bi Ijah sudah tiba di depan rumah.



Dan tidak lama kemudian kedua temannya pun tiba menyusul dan beberapa detik kemudian Lena dengan anak-anaknya Mia dan Audy yang tiba belakangan.



"Kau gak apa-apa kan Ren? maaf kami sama sekali tidak tau si orang utan itu mengikuti kami," ucap Audy yang langsung menghampiri temannya itu, yang reflek berlari bersama Mia dan langsung memeluk Rena, butuh beberapa menit untuk mereka saling berbicara, karena selain Mia dan Audy yang masih mengatur nafas akibat berlari mengejar dirinya.



"Apa kau masih membencinya? Kalau memang begitu, besok kami akan risegn dari sana saja, soalnya akan sangat muak bila kami bekerja dalam satu instansi dengan orang yang menyakiti teman kami," timpal Mia.



"Risegn? Kok risegn? Janganlah, ngapain harus risegn segala, aku baik-baik saja kok, tapi memangnya Nathan satu instansi sama kalian?" ucap Rena yang sangat kaget dengan perkataan dari temannya itu.



"Iya begitulah, Si Nathan itu baru saja datang dua hari yang lalu, dan dia sebagai seorang dokter ahli yang baru pindah dari negeri Australi, tapi meski sekarang dia menjadi anak mas yang punya yayasan, kalau beneran maksud kedatangannya kembali ke negeri ini hanya untuk menyakitimu kembali, gue dan yang lainnya pasti gak akan tinggal diam," timpal Audy dengan wajah serius.



"Tidak perlu melakukan sejauh itu, toh aku juga sudah memaafkan dia dan kejadiannya pun sudah aku lupakan," ucap Rena.



"Terimakasih karena sudah mau memaafkanku" seru Nathan yang baru saja datang tanpa mereka sadari dan sudah berjalan dari arah samping mobil.



"Tapi ada hal yang ingin aku sampaikan, itu adalah alasan kenapa aku dulu meninggalkan mu, jadi bisakah kita berbicara secara empat mata," lanjutnya, tapi perkataan tersebut sontak membuat Lena geram, andai tidak ditahan oleh Rena, mungkin tendangan karatenya sudah mendarat bagian tubuh Nathan.

__ADS_1


__ADS_2