Asa Di Ujung Lembayung

Asa Di Ujung Lembayung
Perkataan Menohok Terhadap Keysa


__ADS_3

Kita tidak ditakdirkan untuk disukai banyak orang, Yang benci biarlah benci dengan alasannya sendiri, Tidak perlu berupaya meyakinkan, sebab ia akan tetap yakin pada kebenciannya" - @dindahumaiira


~


Setelah menyetujui penawaran tuan Benjiro, Rehan dan semua para eksekutif itu mulai menyantap hidangan yang telah disediakan, makanan terbaik restoran tersebut semuanya dikeluarkan dan kini mereka mencoba beramah tamah dengannya, karena mereka merasa bila dekat dengan Rehan akan membuat karir mereka dalam dunia bisnis akan melejit.


"Rehan-kun apa benar anda membuka gerai elektronik seperti yang dibilang tuan Benjiro?" tanya Park Ji ho.


"Benar sekali pak Ji Ho, tapi itu cuma gerai yang sederhana, meski begitu itu sudah cukup buat saya," ucap Rehan.


"Anda memang pemuda yang punya potensi namun tetap rendah hati, baiklah saya akan menawarkan hp buatan pabrikan saya dan karena anda tidak suka diberi secara percuma maka saya akan memberikan diskon 60%, bagaiman?" ucap Park Ji Ho menawarkan diri lebih dulu dari yang lainnya.


"Oi Oi Oi... Sepertinya ada yang langsung nyuri star nich!" seru Xiao Lin yang juga mulai menghampiri Rehan dengan gelas berisi minuman ditangannya.


"Hai saudara Rehan, karena anda seorang mekanik elektronik, maka saya juga ingin menawarkan anda pernak-pernik suku cadang elektronik, dan saya jamin anda akan mendapatkan diskos 65%, kalau berminat hubungi saya," lanjutnya lagi sambil menawarkan.


"Oi apa maksudmu Xiao Lin, bukankah aku yang lebih dulu menawarinya, dan lagi pula suku cadang hp kami ya harus dari pabrik kami juga," timpal Park Ji Ho tidak terima karena si Eksekutif muda itu mencoba menyalip penawarannya.


"Sudah-sudah, kalian jangan bertekar kayak anak kecil begitu, lebih baik dengarkan dulu pendapat dari Rehan-kun, bagaimana apa keputusanmu?" ucap Pak Ichirou menyela perdebatan kedua CEO tersebut, lalu menatap Rehan yang asik memakan buah pirr, yang dari tadi dia berpikir apa boleh buah-buahan ini dibawa pulang, karena akan mubazir kalau makanan dan buah-buahan hanya dimakan sedikit lalu dibiarkan begitu saja.


"Hmmz.. Aku jadi bingun sendiri, tapi baiklah akan ku putuskan seadil mungkin, ah ini semua gara-gara tuan Benjiro, andai aku tau isi dalam surat itu lebih awal, mungkin aku tidak akan mau menerimanya, padahalkan aku cuman menolong putrinya hanya sekali saja, tapi dia malah memberi hadiah berkali-kali," gumam Rehan dalam hati.


"Sebenarnya saya berencana membeli suku cadang sebagian dari pabrik tuan pak Lin dan sebagian lagi dari pak Ho, lagi pula saya mungkin tidak akan membeli terlalu banyak, karena saya tidak ingin memonopoli penjualan barang elektronik di daerah saya, karena itu akan merusak ke stabilan perdagangan nantinya, tapi saya berencana membuat sebuah home industri di desa tempat tinggal saya nanti, jadi suatu saat mungkin saya bakal meminta saran bapak-bapak semua," ucap Rehan, rencana tersebut disambut baik oleh para pemimpin perusahaan tersebut.


"Kalau anda berminat, saya bisa memberikan anda sebuah ruko di Mall ini, untuk anda membuka usaha disini, bagaimana saudara Rehan?" timpal seseorang yang ternyata adalah pemilik dari Mall tersebut, yang bernama Pak Bambang, dia adalah orang pribumi asli tapi masuk dalam barisan perusahaan berikat yang dipimpin oleh Pak Ichirou dan perusahaannya bergerak dalam bidang property sama seperti Pak Bramono, meski tidak sebesar ayah dari Niko tersebut, karena pak Bambang lebih fokus ke usaha pengembangan jalan tol.


"Ah... Maaf Pak Bambang kalau itu saya nanti dulu, karena ingin fokus mengembangkan perekonomian kampung halaman sendiri," ucap Rehan menolak secara halus.


Setelah acara perjamuan selesai, dan semua petinggi perusahaan itu ada sebagian yang pamit pulang, Rehan menyerahkan kertas cek uang yang dulu pernah diberikan oleh tuan Benjiro padanya, dan karena dia belum pernah melakukan pencairan dengan kertas cek, maka Rehan meminta tolong pada pak Ichirou untuk mencairkannya.

__ADS_1


"Baiklah, akan saya lakukan sekarang juga, jadi saya minta norek anda Rehan-kun," ucap Pak Ichirou setelah memeriksa kertas berharga tersebut dan Rehan menyebutkan noreknya, tidak lama kemudian pemimpin perusahaan Berikat tersebut menyuruhnya mengecek saldo di atmnya.


Dan setelah dicek saldo tabungannya, dia hampir saja terlonjak kaget, karena tabungannya sekarang hampir mendekati 2M, padahal tadinya Rehan hanya mempunyai tabungan puluhan juta saja, itupun hasil menabungnya selama beberapa tahun.


"Apa ini gak salah? sepertinya ini terlalu besar, " tanya Rehan pada Pak Ichirou, setelah menyerahkan bukti transferannya pada Rehan yang ternyata berjumlah satu milyar setengah.


"Tidak... Benar segitu jumlahnya," timpal pak Ichirou, sambil mengangkat satu tangannya sebagai isyarat jangan menolak lagi, karena dirinya takut kena marah Bos besarnya tersebut.


Rehanpun pamit untuk pulang setelah urusannya selesai, karena dia ingin mengabarkan kabar bahagia yang begitu mengejutkan ini pada keluarganya.


"Ichirou-san, sebenarnya apa hubungan dia dengan tuan Benjiro?" tanya Park Ji Ho setelah Rehan sempurna pergi dari restoran tersebut.


"Saya tidak tau, hanya pak Benjiro yang tau, karena beliau tidak menjelaskannya pada saya secara rinci, namun kata beliau kita juga jangan memberitahu tentang siapa sebenarnya tuan Benjiro itu pada pemuda tersebut," ucap pak Ichirou pada rekan kerjanya itu, ternyata mereka adalah orang-orang kepercayaan tuan Benjiro dalam melakukan bisnis resmi alias legal.


"Tapi dia begitu polos atau bodoh ya, padahal mendapatkan penawaran yang sangat menguntungkan, bayangkan saja 10% dari setiap perusahaan tanpa melakukan apapun itu sangat menggiurkan kau tahu," timpal Xiao Lin merasa heran dengan penolakkannya itu.


***


"Hmmzz... Oh iya benar juga ya, ngapain dia keluar dari restoran tempat para pimpinan perusahaan berkumpul," ucap saudara Rena, yang memang tadinya mereka berencana makan ditempat tersebut, tapi telah dibooking oleh orang lain bahkan dijaga ketat segala, yang ternyata orang yang membookingnya adalah para CEO perusahaan besar, karena mereka sedikit banyaknya mengenal para pengusaha tersebut.


"Ah... Mungkin dia hanya bekerja disana sebagai pelayan, udah jangan bahas orang rendahan itu gak level" ucapnya kemudian.


Rehan tidak mengetahui bahwa ada mata dan mulut yang memandang serta membicarakannya dengan penghinaan, dia terus melangkah menuju tempat terparkir mobilnya, namun ketika di parkiran dia berpapasan dengan Keysa, kakak perempuannya Rena.


"Hey kau, namamu Rehan kan, mantannya Rena?" seru Keysa yang langsung menghampirinya.


"Bagaimana kabarnya?" lanjutnya menanyakan kabar.


"Hmmzz... Sepertinya kau berbeda dari terakhir kita bertemu, kali ini kau lebih berwibawa, apakah kau sekarang sudah masuk jajaran kelas menengah? itu mobilmu ya? lumayan juga meski ini sepertinya belian second" ucap Keysa yang terus bertanya tanpa jeda terhadap Rehan.

__ADS_1


"Hmmz.. Tadi saudara laki-lakinya sekarang saudara perempuannya bertemu disini, apa mereka sedang berbelanja bersama, apa mereka tidak melakukan pencarian terhadap adik bungsunya itu" gumam Rehan dalam hati.


"Hey... Malah melamun," seru Keysa sambil tertawa dan mengibaskan tangannya di depan muka Rehan.


"Ah maaf Kak, saya baik-baik saja kok, alhamdulillah tuhan selalu bersama orang-orang yang sabar," jawab Rehan setelah tersadar dari lamunannya.


"Bagaimana kabar Rena?" ucap Rehan balik bertanya membuat senyum Keysa terbungkam seketika.


"Ah anu, anu.. Dia baik-baik saja kok, dan hidup bahagia di negeri sakura sana," ucap Keysa yang langsung berubah nada bicaranya menjadi parau, yang berusaha menyembunyikan kebenarannya terhadap Rehan.


"Benarkah? ternyata kalian memang tidak peduli terhadap adik kalian sendiri, dan sekarang kalian malah asik berbelanja, apa kalian pernah memikirkan bahwa adik kalian hari ini atau beberapa tahun kebelakang mendapat kehidupan yang layak" ucap Rehan menatap sinis pada Keysa dan diapun berlalu sambil membuka pintu mobilnya.


"Hey apa maksud perkataanmu itu?" seru Keysa yang sempat tertegun dengan ucapan yang keluar dari mulut mantan pacar adiknya itu.


"Heh... Pikirkan saja sendiri, saudara macam apa kalian,-"


"Rehan-kun anda melupakan ini," seru Pak Ichirou memotong perkataannya, yang berlari kecil menghampiri dan dibelakangnya ada beberapa anak buahnya membawa sebuah kardus.


"Ini apa?" tanya Rehan dan mengabaikan Keysa yang masih termangu, karena dia heran dari mana Rehan mengenal tuan Ichirou yang memang orang yang terkenal di dunia bisnis di negara ini.


"Ini adalah barang-barang yang memang sengaja kami sediakan untuk anda, kalian cepat bawa masuk ke mobilnya Rehan-kun," seru pak Ichirou, yang ternyata itu adalah barang-barang elektronik keluaran terbaru.


"Tapi saya kan belum membuat orderan?"


"Tidak apa, anggap saja ini sebagai jaminan kerjasama kita," timpal pak Ichirou, lagi-lagi Rehan hanya pasrah atas pemberian tak terduga itu.


"Aah... Bukankah anda Dokter Keysa? dokter langganan istri saya, maaf saya kurang memperhatikan anda, tapi ngomong-ngomong apa anda kenalannya Rehan-kun?" tanya pak Ichirou setelah menyadari keberadaan orang lain disana.


"Tidak, kami hanya satu dua kali saja bertemu, Pak Ichirou saya mohon pamit dulu ya, terimakasih untuk semuanya," ucap Rehan kemudian dia menyalakan mobilnya dan meninggalkan parkiran.

__ADS_1


"Dokter Keysa, saya juga permisi dulu," ucap Pak Ichirou dan langsung menaiki mobil yang telah menghampirinya.


"Anu, pak, pak," ucap Keysa terbata karena keterkejutannya membuat dia seperti baru saja tersambar petir disiang bolong, apalagi ketika dia mengingat ucapannya Rehan barusan.


__ADS_2