
Suasana bandara internasional ibukota meski dimalam hari sangatlah begitu ramai, orang-orang hilir mudik, ada yang berlarian karena panggilan terakhir dari pesawat yang mereka tumpangi, ada yang duduk-duduk saja karena jadwal pemberangkatannya masih begitu lama dan lain sebagainya, begitulah kesibukan masing-masing individu disalah satu bandara paling ramai se asia tenggara tersebut.
"Hmmz... Hampir jam 12 malam, apa sebaiknya aku cari hotel saja ya? dari pada pulang ke rumah, tapi tetap saja nantinya harus ke rumah untuk mengambil mobilku," gumam Keysa sambil berjalan dan membawa sebuah koper berukuran sedang.
"Pak penginapan alam sutera ya," seru Keysa setelah dia sempurna duduk di jok belakang mobil taksi yang dia pesan secara online, pada akhirnya Keysa memutuskan menginap dihotel disekitaran bandara, untuk langsung bisa beristirahat, karena tubuhnya sungguh lelah setelah bekerja dan langsung pulang ke tanah air.
~
tak terasa pekat malam kini telah berganti dengan cerahnya mentari, Rehan yang sudah terbangun dari shubuh, kini tengah santai menikmati kopi hitam pekat cap Mobil si Doel, dia sempat joging sebentar bareng Rina untuk sekedar menjaga kebugaran tubuhnya.
"Idiih... Abi masa habis lari langsung minum kopi, harusnya minum susu kayak Rina, biar sehat," seru Rina sambil membawa gelas berisi susu coklat hangat.
"Gak apa-apa kalau Abi mah, kalau Rina baru gak boleh," ucap Rehan lalu menyeruput kopi miliknya.
"Kenapa emang?" tanya Rina melirik ke ayahnya tersebut.
"Ya... Gak apa-apa juga sich, asal jangan keseringan," timpal Rehan yang bingung mencari kata untuk menjelaskan pada putrinya itu.
"Abi sekarang mau pergi kemana dulu?" tanya Zahra yang baru saja keluar yang hendak menyiapkan keperluan suaminya.
__ADS_1
"Paling ke ruko dulu, soalnya kemarin ada camera yang belum sempat di service, terus setelah itu mau nemuin si Azis katanya dia bersedia menjadi driver untuk mengantar hasil produksi ke setiap warung untuk area kecamatan ini," jawab Rehan.
"Abi nanti Rina ikut ya ke ruko," seru Rina.
"Mau ngapain? lagian Abi disana bakal sebentar cuma memperbaiki camera doang dan akan langsung ke tempatnya mang Azis, nanti kamu pulangnya sama siapa?" timpal Rehan, membuat wajah Rina tertekuk karena kecewa alamat gak bakal di ajak ke ruko.
"Assalamualaikum... Bu Bidan tolongin si sulung panasnya gak turun-turun dari kemarin, meski sudah dikasih obat dari warung," seru seorang ibu sambil membawa anak berusia delapan tahun yang terlihat sangat pucat sekali.
"Waalaikumsalam... Ayo Bi langsung bawa masuk ke dalam saja," seru Zahra sambil bergegas membawa kedua ibu dan anak itu masuk ruangan yang di khususkan sebagai ruang perawatan.
"Umi... Abi langsung pergi ke ruko saja ya kalau begitu, semoga lekas sembuh bi si sulungnya ya," ucap Rehan pamit pada istrinya itu.
"Assalamualaikum.... Umi Rehan pamit pergi ke ruko dulu ya, sekalian nitip Rina katanya dia pengen bantu-bantu Umi," seru Rehan pada orang tua tunggalnya itu yang semakin terlihat gurat penuannya.
"Waalaikumsalam... Iya hati-hati di jalan," timpal Umi Kinan sambil menjulurkan tangan pada anak sulungnya yang kini telah menjadi seorang ayah dan menjadi seorang yang cukup sukses, dia selalu berpikir andai ayahnya masih ada mungkin akan sangat bangga sekali melihat anaknya yang telah berhasil meski hidup dalam penuh kesederhanaan.
"Ayo sayang jangan cemberut mulu nanti cantiknya turun lima senti loch," ucap Umi Kinan tersenyum mencoba menggoda cucunya itu.
"Hummz.. Emak mah bisa aja, masa turun emangnya harga pangan yang suka naik turun," timpal Rina sambil mengulum senyum.
__ADS_1
"Aih... Sudah pandai ternyata cucu Emak, tau tentang harga-harga bahan sembako, ayolah di dalam Emak bikin onde-onde loch," ucap Umi Kinan tersenyum mendengar perkataan dari Rina.
"Iya dong, kan Rina suka nonton berita, haah onde-onde? aasiikkk... Ayo atuh Mak gasskenn," seru Rina sambil berjingkrang senang dan bergegas masuk ke dalam rumah.
***
"Selamat pagi Pah," sapa Keysa pada ayahnya yang sekarang harus berada di kursi roda sejak enam bulan yang lalu akibat terpeleset dari tangga.
"Pagi juga Key, kapan kau pulang dari singapur? jam segini sudah tiba di rumah," timpal Pak Wijaya yang kini hidup bersama dua pembantu dan perawat yang bekerja sampai sore saja, serta hanya ada satu sekuriti yang menjaga rumahnya.
Karena sejak kemenangan Kakak angkatnya atas hak waris di pengadilan satu minggu yang lalu, kini Pak Wijaya telah pindah dari rumah yang bak istana itu ke sebuah perumahan, karena dia telah menjual rumah tersebut untuk menutupi biaya kompensasi pada keluarga kakak angkatnya tersebut.
Tapi meski tidak semegah rumah yang dulu, tetap saja rumah baru mereka masih terlihat mewah bagi orang-orang biasa, karena rumah tersebut berada di komplek perumahan elit, sementara kedua saudar Keysa tinggal di perumahan yang berbeda dari sang ayah dengan alasan agar lebih dekat ke Rumah sakit yang kini mereka kelola.
"Semalam dan karena lelah, akhirnya memilih nginep di hotel dekat bandara, Oh iya Pah, ngomong-ngomong berkas-berkas Rena masih Papa simpan?" ucap Keysa dan menanyakan berkas milik adiknya.
"Sebagian sudah dibawa sama Rena sewaktu pindah ke negeri sakura bareng si badjingan itu, tapi kalau gak salah masih ada sebagian, lihat saja di koper yang disimpan di kamar atas, memangnya kau mau ngapain dengan berkasnya Rena?" ucap Pak Wijaya yang sekarang bahkan tidak sudi menyebut nama menantu yang pernah dia elu-elukan itu.
"Ada sesuatu yang ingin Keysa pastiin," gumamnya, sebelum rasa penasaran ayahnya itu terlontar, Keysa langsung nyelonong meninggalkan Pak Wijaya.
__ADS_1
"Akhirnya ketemu juga, tadinya aku hanya ingin ngambil kunci doang, tapi karena saya lupa alamatnya Bocah itu, jadi terpaksa mencari diberkas tempat kerjanya," gumam Keysa, diapun bergegas keluar kamar tersebut dan langsung mengeluarkan mobilnya menuju ke kampung Padasuka untuk menuntaskan rasa penasarannya.