Asa Di Ujung Lembayung

Asa Di Ujung Lembayung
Berusaha Menjadi Pelipur Untuk Sang Bidan


__ADS_3

"Yang tidak merasakan, tidak akan paham, Yang tidak mengalami, tidak akan mengerti bagaimana rasa sakit akibat kehilangan itu sangat mengiris hati," seru Rena sambil menangis tersedu dibawah rinai hujan yang mulai turun membasuh bumi karena awan hitan tak mampu menahan lagi beban yang dia kandung, padahal ini sudah memasuki akhir bulan ketujuh yang biasanya hujan akan mulai jarang terjadi.


"Aku mengerti apa yang kamu rasakan saat ini, sama ketika aku kehilangan sosok ayah yang telah meninggalkan ku bahkan sebelun aku beranjak dewasa, meski Aku paham setiap orang memiliki cerita dalam hidupnya, entah memiliki kesamaan meski tidak akan sama persis ataupun tidak sama sekali, tapi kita harus paham akan satu hal, sesungguhnya kita hanya bisa berserah diri atas beragam cerita yang digariskan dari Sang Maha Penentu Alur, meski itu akan sulit tapi aku percaya kamu bisa melewati ini semua, kamu boleh menangis dan tumpahkan semua kesedihanmu bersamaan hujan yang membasahi bumi ini, lalu bangkitlah dan lanjutkan kehidupanmu dengan baik, karena mama mu tidak akan tenang bila putri tercintanya terus meratapi kepergiannya," seru Rehan sambil menatap penuh pengertian dan memegang kedua bahu Rena.


Rena pun menangis sejadi-jadinya dengan memeluk erat kekasihnya itu dan ingin menumpahkan segala kesedihan yang ada dalam dirinya, dan Rehanpun hanya membalas dengan membelai rambutnya agar dia merasa lebih tenang.


***


Sehari setelah Rena diantar oleh Pak Kepala desa, kondisi ibunya kian memburuk dan membuat panik semua anak-anak Pak Wijaya, bahkan Pak Wijaya langsung menelpon kolega yang sesama dokter yang sangat terkenal di dunia permedisan, yang tengah berada di negara Paman Sam untuk meminta bantuannya, namun puncak dari semua kesedihan terjadi sekitar tiga puluh menit sesudah dia menelpon koleganya tersebut, Bu Wijaya yang terbaring lemah telah menghembuskan nafas terakhirnya.


Dan butuh beberapa hari untuk Rehan bisa menemui kekasihnya itu, karena hampir tiga minggu lebih setelah kabar meninggal mamanya, Rena belum kembali ke kampung Padasuka tempat dimana dia bertugas, itu membuat Rehan merasa khawatir dengan keadaan yang dialami oleh Bidan muda tersebut, apalagi diapun mengetahui dari Bu Kades bahwa mamanya telah wafat, diapun berinisiatif untuk mencari alamat rumahnya.


Pertama dia menjumpai kembali Bu Kades Nia untuk menanyakan alamatnya Rena, namun Bu Kades pun tidak terlalu tau, karena saat mengantar Rena untuk melihat mamanya yang tengah sakit parah, mereka hanya mengantarnya sampai rumah sakit yang dimana tempat mamanya dirawat, jadi istri dari Pak Kades Jalal pun tidak tahu karena tidak mengantar langsung ke rumah utamanya.


"Tapi kalau pengen tau mah, coba aja tanya pada kepala pimpinan Puskesmas aja atuh Rehan, mungkin mereka punya data lengkap alamat rumahnya," ucap Bu Kades memberi saran. Dia pun bergegas pergi ke Puskesmas kecamatan menemui kepala bidan untuk meminta alamat rumah Rena yang ada di ibukota.


"Maaf Pak kalau mau berobat bisa ambil nomer antrian terlebih dulu," ucap bidan bagian jaga, ketika Rehan hendak bertanya dimana ruangan kepala puskesmas.

__ADS_1


"Maaf Mbak saya bukan hendak berobat," jawab Rehan penuh sopan.


"Lantas?" tanya singkat bidan penjaga tersebut, yang mengernyitkan dahi karena tak mengerti maksud dari pemuda yang ada dihadapannya itu.


"Saya ingin bertemu dengan kepala pimpinan puskesmas," ucap Rehan menegaskan maksud kedatangannya, yang membuat bidan penjaga itu kembali menatap heran, dalam benaknya apa dia keponakannya pimpinan mereka.


"Hmmz... Mas nanti naik aja ke lantai dua terus belok kanan lalu jalan sampai ruangnya yang paling ujung sebelah kiri, nanti juga ada plat nama yang tercantun di depan pintunya," ucap bidan tersebut menjelaskan dimana ruangan pimpinannya itu, meski tadinya dia agak ragu tapi dia tidak mau ambil pusing dan lagi antrian semakin banyak dari pada berlama-lama lebih baik dia tunjukan langsung ruangannya.


"Selamat siang Bu kepala Puskesmas," ucap Rehan setelah mengetuk dan berucap salam, lantas dia pun disuruh masuk.


"Selamat siang juga nak, panggil saja ibu, tidak usaha ditambahkan kepala puskesmas nanti kau memanggilnya kepanjangan," ucap Ibu pimpinan puskesmas itu sambil tersenyum ramah dengan wajah yang keibuan.


"Tidak apa-apa, jadi apa yang bisa saya bantu? ah iya hampir lupa, silahkan duduk," seru Bidan senior tersebut.


Rehanpun meraih kursi untuk duduk, lantas diam sejenak, berpikir mencari kata-kata terbaik untuk memulai percakapan, apa dia harus basa-basi dulu, bilang bahwa petugas-petugasnya sangat ramah.


"Saya mau meminta alamat rumahnya Rena, Bu," ucap Rehan yang langsung bertanya pada inti topik pembicaraan, yang ternyata lisannya tidak sabar untuk mengutarakan maksud kedatangannya.

__ADS_1


"Hmmz... Bidan Rena yang cantik itu?" tanya ramah Bu pimpinan.


"Iya betul itu Bu," seru bodoh Rehan yang terpancing dengan pertanyaan yang sedikit bergurau dan membuatnya tertawa kecil, ya meski tidak menampik bahwa bawahannya itu memang cantik sih.


"siapanya, bidan Rena, teman atau pacar?" tanyanya lagi.


"Teman," jawab singkat Rehan, karena dia tidak ingin terpancing dengan candaannya lagi.


"Hmmz.. Memang benar saya mempunyai alamat rumah bidan Rena, tapi saya tidak tahu apakah bidan Rena akan keberatan atau tidak, ketika saya memberikan alamatnya pada anda," ucapnya lagi menatap mata Rehan dengan seksama membuat Rehan tertunduk, dalam benaknya kenapa urusan alamat saja membuat runyam, ribet, rungsing apalah istilah lainnya lagi.


"Ayolah Bu, saya tidak akan bisa enak makan juga tidak bisa tidur, karena saya sangat mengkhawatirkannya," ucap Rehan sambil memasang wajah yang sangat menyedihkan di era milenial ini.


Setelah cukup lama untuk meyakinkan ibu kepala pimpinan puskesmas tersebut, akhirnya beliau memberi alamat Rena.


" Nak Rehan, berjanjilah untuk tidak menyakiti perasaannya nak Rena apalagi sekarang dia lagi tengah dalam keadaan berduka, ini bukan karena dia bawahan saya, tapi karena dia sangat baik pada semua orang, kau juga pasti sudah tau kan," ucap Bu Bidan senior tersebut, Rehan pun menghentikan langkahnya dan mengangguk penuh keyakinan, lantas dia pun pamit dari ruangan tersebut.


***

__ADS_1


Rintangan pun kembali menghampiri ketika Rehan sudah menemukan alamat yang dituju, ketika dia menanyakan Rena pada Security rumahnya, bahkan sang security sendiri memandang sebelah mata terhadap penampilannya dan tidak percaya bahwa dia adalah teman dari anak majikannya, tapi sebelum urusan menjadi kapiran untungnya Rena keluar hendak berangkat ke pemakaman mamanya dan melihat pemuda asal kampung padasuka yang berada di gerbang rumahnya.


Dan sekarang Rehan disini, di tempat peristirahatan mamanya Rena, dia tengan menemani Bidan muda tersebut berkunjung untuk kesekian kali, cukup lama dia bersimpuh dan meratapi kepergian ibu tercintanya itu, hingga ucapan dari kekasihnya itu sedikit menyadarkan serta menguatkan hatinya, dan dia pun berajak meninggalkan pemakaman dengan berjanji akan berkunjung kembali setiap dua bulan sekali.


__ADS_2