
Persamaan dari orang yang cemburu dengan mati lampu adalah sama-sama membuat gelap mata, apalagi cemburunya sebab dia merasa lebih baik dari siapapun, dan juga kalau ternyata dia bukanlah pilihan bagi orang yang dia inginkan, orang tersebut pasti akan melakukan hal apa pun untuk mendapatkannya.
Itulah yang terjadi pada Niko sekarang ini, setelah dia berbincang dengan pak Wijaya, bahwa anaknya ingin memutuskan perjodohan yang telah di atur oleh kedua orang tua mereka, meski memang dalam hati Niko, ia tidak terlalu suka dengan Rena karena gaya dan cara berpakaiannya terlalu sederhana untuk seorang putri dari salah satu keluarga konglomerat, tapi karena suatu ambisi untuk syarat mewarisi bisnis ayahnya dia berusaha keras untuk tetap melangsungkan perjodohan tersebut.
Apalagi sekarang dia merasa terhina, mendengar ada yang tengah dekat dengan bidan muda tersebut, bahkan orang yang tengah dekat itu diketahui hanyalah seseorang dari kalangan kelas bawah, bagaimana mungkin dia yang seorang anak dari salah satu bangsawan ibukota kalah saing dengan pemuda kampungan, begitulah jalan pikirnya saat ini.
"Tugas pertama kalian adalah beri orang itu pelajaran olahraga, tapi jangan sampai membuatnya kehilangan nyawa, cukup buat dia shock terapi aja, yaa tak apalah kalau satu hingga dua patah tulang, terus agar dia kapok ancam saja untuk tidak deketin Rena lagi," ucap Niko pada ketiga orang bayarannya tersebut.
"Siap Bos, tapi kami minta uang muka dulu lah 10% untuk beli bensin serta minuman buat di jalan nanti," timpal ketua tukang pukul tersebut sambil menyodorkan tangan.
"Ckckckk.... Kalian ini gimana sih, katanya tukang pukul profesional, tapi eksekusi saja belum dijalankan sudah minta premi lebih dulu," ucap Niko menggerutu tapi dia tetap mengelurkan sepuluh lembar uang berwarna merah dan diserahkan pada ketiga orang yang dia sewa.
"Hehehe... Justru itu bos, karena kami profesional harus ada uang muka terlebih dahulu, baru sisanya sehabis tugas selesai," seru Ketua tukang pukul yang berperawakan seperti penjahat-penjahat di film Suzanna.
***
"Kak... Ini hari minggu loh, kok pagi-pagi udah nenteng-nenteng peralatan tempur sih? gak liburkah?" tanya Kinan yang habis pulang lari pagi bersama teman-teman sebayanya.
"Biasa ada orderan mendadak dari kampung sebrang, ada beberapa televisi serta telpon genggam yang minta diperbaiki," ucap Rehan menjawab pertanyaan sang adik, dia semakin bekerja keras karena target sebelumnya, yaitu keinginannya untuk membuka bengkel electronik sempat tertunda, karena ternyata biayanya masih kurang.
Meski ibunya menawari untuk menjual kalung dan cincin pernikahan pemberian almarhum ayahnya, serta menjual hasil panen bulan kemarin, tapi Rehan menolaknya karena itu adalah kenang-kenangan dari ayahnya, mana mungkin dia tega memintanya sebagai modal usaha, lebih baik dia menundanya dan mengumpulakan dana yang kurang, itung-itung dia mencari pelanggan, begitulah alasan dia untuk tidak menerima tawaran dari ibunya waktu itu.
"Kayak tahu bulat aja dadakan, makanya cepet buka toko bengkel electroniknya, biar nanti pas libur sekolah Kinan bisa bantu-bantu," seru Kinan sambil duduk untuk melepaskan tali sepatunya.
"Yey... Karena alasan tersebut ini juga kakak harus ambil orderan itu, biar cepat terlaksana," seru Rehan sambil memencet hidung sang adik karena gemas dengan perkataannya itu.
"Ish... Sakit tau," ucap Kinan sebal, dia pun hanya menggelembungkan pipinya, setelah lepas dari serangan mendadak sang kakak.
__ADS_1
"Thehe... Iya, iya deh maaf, sebagai permintaan maafnya kakak janji akan beliin seblak nanti sepulang dari sana, tapi bantu umi dulu sana, Umi.. Rehan pergi dulu ya, Assalamualaikum," ucap Rehan meminta maaf sambil menahan tawa karena melihat ekpresi marah dari adiknya itu, lalu dia pun ijin pamit pada ibunya.
"Waalaikumsalam, iya hati-hati di jalannya, inget jangan ngebut bawa motornya," seru Ibunya dari belakang rumah, yang tengah merapikan kayu bakar yang kemarin baru beli dari mang Hasan.
"Janji ya, awas kalau bohong," ancam Kinan.
"Iya, iya, kapan sih kakak bohong, paling cuman beberapa kali doang, hahaha..." ucap Rehan yang masih menggoda sang adik, sebelum akhirnya dia menarik gas motornya untuk berangkat mencari nafkah.
***
Perasaan Rehan sempat curiga dengan dua motor di belakangnya, seperti tengah menguntitnya semenjak dia keluar dari kampung Padasuka, hingga dia selesai dari pekerjaannya di kampung sebrang, hingga kecurigaannya menjadi nyata ketika sehabis dia membeli seblak yang dia janjikan pada adiknya, kedua kendaraan itu memepetnya di jalanan yang cukup sepi dan menghadang tepat di depannya, andai Rehan tidak mendadak mengerem mungkin dia akan menabrak salah satu motor yang menghadangnya.
"Woy... Berhenti loe," teriak salah satu dari keempat orang yang ternyata semuanya berperawakan kekar dengan tatoo menghias beberapa bagian tubuh mereka.
"Maaf ada apa ini bang? perasaan saya nggak pinjam uang pada rentenir mana pun, bahkan motor saya pun belinya cash," ucap Rehan masih tenang dengan situasi yang tengah dia hadapi.
"Ada apa ini sebenarnya bang, perasaan saya diantara kita tidak pernah ada kebencian sama sekali?" ucap Rehan bertanya pada keempat orang yang menghadangnya.
"Diem loe preto, gue ingetin loe jangan dekat-dekat dengan Putrinya Pak Wijaya kalau hidup loe pengen tenang," ancam orang yang ada dihadapannya.
"Pak Wijaya?, Hmmmz... Ouh Rena maksudnya, kenapa emang? apa di antara abang-abang ini adalah mantan pacarnya Rena?" timpal Rehan yang sekarang mengetahui maksud dari ke empat orang itu menghadangnya.
"Arrgh... Banyak cingcong loe," seru salah satu dari mereka sambil melancarkan pukulan ke arah wajah Rehan, namun Rehan dengan santainya menggeser posisi kakinya ke arah samping dan langsung memukul tengkuk orang yang menyerangnya dengan cukup kuat, lalu orang tersebut langsung tersungkur ke tanah.
"Saya sebenarnya tidak terlalu suka pelajaran olahraga, tapi karena abang-abang ini memaksa, jadi akan saya ladenin, Loe jual Ku aing di borong, sok maju kabeh," seru Rehan tidak kalah galak, ekspresinya sungguh jauh berbeda dari biasanya, yang terlihat selalu tersenyum ramah pada siapa saja, kini berubah bak harimau yang di ganggu ketentramannya, dengan memasang kuda-kuda yang terlihat sempurna.
Ketiga orang tersebut sangat terkejut melihat temannya langsung tersungkur hanya dalam satu pukulan, membuat mereka agak ragu sejenak tapi sang ketua berteriak garang memberi tekanan pada kedua anak buahnya.
__ADS_1
"Maju, jangan gentar itu hanya kebetulan, karena akibat si joni lengah, lagi pula kita masih menang jumlah," seru sang ketua dengan memberi perintah pada kedua anak buahnya yang masih sehat.
Kedua anak buahnya pun maju mengelilingi Rehan, dengan sikap waspada dia mengamati pergerkan ketiga orang yang hendak mengeroyoknya, memang meski terlihat kalem dan selalu ramah pada setiap orang Rehan adalah salah satu orang yang ahli dalam seni beladiri silat diantara para pemuda kampung Padasuka.
"WHUSSS,"
Tendangan dari arah samping hampir mengenai tulang rusuknya, tapi dengan sigap dia menangkis dengan tangan kanan, tidak sampai disitu teman satunya lagi pun mulai menyerang dengan sebuah pukulan mengarah pada rahang, tapi lagi-lagi Rehan berhasil menangkis sebelum pukulan telak itu bersarang di rahangnya, dan dengan cepat Rehan membalas pukulan dengan gerakan sedikit menyerongkan badannya, lalu sedikit menekuk badannya kebawah.
"BUKH"
"ARRGH"
Pukulan Rehan tepat mengenai tulang rusuk musuhnya itu, hingga terdengar seperti tulang patah, membuat orang tersebut berjongkok menahan rasa sakit dan tanpa ampun Rehan pun kembali menendang dadanya hingga terjungkal kebelakang dan langsung terkapar.
Tapi karena terlalu fokus terhadap dua orang yang tengah mengeroyoknya, Rehan menjadi lengah dengan tidak memperhatikan si ketua komplotan tersebut.
"BRAKKH"
Sebuah hantaman keras dari arah samping mengenai kepalanya, hingga membuat pemuda yang menjadi tulang punggung bagi adik dan ibunya tersebut tersungkur, yang ternyata itu adalah ulah si ketua komplotan dan tidak hanya sampai disitu dia dengan beringas terus memukul Rehan dengan bambu yang cukup besar dengan panjang hampir dua meter, entah dari mana dia mendapatkan bambu tersebut.
Ketika Rehan hampir tidak sadarkan diri, akibat hantaman yang sangat beringas, dua temannya yang tadi telah tersungkur kembali melancarkan tendangan-tendangan di sekujur tubuh Rehan, untungnya ada seseorang yang kenal Rehan tidak sengaja lewat.
"Woy, kurang ajar berhenti, kalau tidak kami akan memberitahu pemuda sekitar sini, untuk menghajar kalian ramai-ramai," teriak kedua orang tersebut dan langsung memburu sambil membawa cangkul, membuat keempat orang itu bergegas melarikan diri dengan kendaraan mereka, karena bagaimana pun keempat orang itu bukan warga sekitar sini, jadi mereka takut akan bertambah banyak warga yang berdatangan.
" Astagfirullah... Apa kau baik-baik saja," seru panik orang memegang cangkul.
"Ah kau ini, masa dia baik-baik saja, lihat noh banyak darah yang keluar dan juga lebam, masih saja kau tanya keadaan," seru satu orang lagi dengan jengkel karena menanyakan hal bodoh, dan tidak lama kesadaran Rehan pun mulai hilang dan terjatug pingsan.
__ADS_1
Kedua orang tersebut yang tidak lain adalah Akbar dan Azis, yang baru saja pulang habis kuli di ladang milik saudaranya Azis yang berada di kampung sebrang, mereka pun segera membawa Rehan ke puskesmas untuk diberi perawatan dan dia pun menelpon saudaranya untuk membawa motor Rehan pulang.