Asa Di Ujung Lembayung

Asa Di Ujung Lembayung
Hubungan Masalalu


__ADS_3

POV Nathan


Flashback


Nathan mungkin sudah lupa dengan nama-nama sebagian teman masa SMA dan Kuliahnya dulu, karena dia sudah cukup lama meninggalkan negeri ini, namun tidak dengan cinta masa lalunya itu bahkan senyuman yang selalu menghiasi wajah wanita tersebut selalu tergambar dalam benaknya ketika dikala sendiri berteman sepi.


Nama wanita tersebut adalah Rena Wijaya Putri seorang wanita cantik yang terlihat sederhana nan bersahaja, awal pertama mereka berkenalan adalah saat masa sekolah putih abu, ketika mereka tidak sengaja bertemu disebuah perpustakaan sekolah, karena Rena waktu itu sangat jarang sekali bergaul dengan teman-teman sekelas dia lebih banyak berada di ruangan tersebut.


Dan bagai adegan romantis yang tidak terduga seperti di cerita novel online bersambung atau seperti di webseries, mereka saling memegang buku secara bersamaan dan hampir sepuluh detik mereka saling beradu pandang antara terpana dan juga terkejut.


"Eh maaf silahkan Kak" ucap gugup Rena waktu itu, karena bagaimanapun baru pertama kalinya dia berpegangan dengan seorang pria selain saudar-saudaranya, itupun waktu ketika dia masih sekolah dasar, sekarang dengan kesibukan kakak-kakaknya jarang sekali mereka bertemu kecuali di meja makan saja.


"Silahkan aja, kamu yang ambil," timpal Nathan mencoba mengalah, diapun sempat tertegun dengan paras cantik gadis yang ada di depannya itu.


"Terimakasih," ucap Rena tersipu.


Sejak melihat paras cantik Rena itulah, lelaki yang biasa disapa Nathan hatinya mulai berbunga-bunga, perkenalan mereka pun mengalir begitu saja, seperti selalu bertemu di ruangan perpustakaan disetiap jam istirahat, berbincang seadanya dan sesekali saling bercanda juga saling membalas senyum meski masih kadang saling malu-malu kucing.


Sampai hampir dua minggu sering bertemu ditempat yang sama, Nathan pun dengan memberanikan diri menyatakan perasaannya pada Rena yang waktu itu mereka beranjak masa akhir sekolah.

__ADS_1


Bagai gayung bersambut, perasaan pun Nathan terbalaskan, dan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan Nathan meminta nomer ponselnya, dengan sikap malu-malu tapi mau Rena pun memberikan nomer ponselnya.


Percakapan di ujung ponsel yang sering dilakukan mereka pada tengah malam setiap hari minggu itu seperti tak ada habisnya, dengan membahas buku-buku yang pernah mereka baca saling memberikan makna disetiap Aesthetic yang terkandung dalam setiap kata, mereka pun terus membiarkan diri mereka saling terbuai dalam setiap canda dan tawa, meski masih terbilang cinta monyet tapi rasa itu tumbuh semakin besar setiap harinya.


Bahkan ketika Rena mengatakan bahwa dia setelah lulus SMA akan meneruskan ke kuliah kejuruan di Akademi Perawat yang berada diluar kota, Nathan pun mengikutinya dan memasuki universitas yang sama.


Selama masa SMA itu Nathan tidak pernah tau dimana rumah Rena sebenarnya, karena arah jalan tempat tinggalnya dan Rena itu berlawan arah, meski dia sempat menawari diri untuk mengantarnya namun selalu ditolak secara halus oleh gadis tersebut.


Begitulah Nathan dimana masa-masa indah dikala dia menjalin kasih dengan Rena saat itu, membuat hidupnya selalu berwarna dan semangat dalam menjalani aktivitas kuliahnya.


Hingga suatu hari ketika dia bersama Rena mengajaknya jalan-jalan ke sebuah Mall yang berada di wilayah Pemda bogor, ketika dia menunggu disebuah resto cepat saji, Nathan dihampiri oleh dua orang yang mengaku sebagai kakak Rena dan dengan tatapan sinis menyuruhnya untuk datang ke rumah mereka.


Dan keesokan harinya tanpa memberitahu Rena, karena mereka menyuruhnya untuk tidak memberitahu adiknya itu, sesampainya dialamat rumah yang sudah dia terima kemarin, Nathan sangat terkejut melihat rumah megah tersebut.


"Iya betul ada keperluan apa ya?" timpal sang sekuriti dan balik bertanya.


"Mohon maaf, saya disuruh ke sini oleh kakaknya Rena yang bernama Rudy dan juga Daniel, ini kartu nama yang kemarin diberikan pada saya," ucap Nathan kembali dan menyodorkan sebuah kartu nama atas Rudy tersebut.


"Ouh... Iya-iya, silahkan anda masuk dan mohon maaf untuk kendaraannya tolong simpan disini saja, karena ini adalah perintah dari pak Rudy sendiri," ucap Sekuriti mempersilahkan masuk padanya, dan menyuruh Nathan menyimpan motor maticnya di sebelah pos securiti, karena sebelumnya teman yang disampingnya menelpon Rudy terlebih dulu.

__ADS_1


"Baik pak terimakasih," seru Nathan sambil memarkirkan motornya disamping pos jaga tersebut, dan diapun terus menelusuri jalan yang mengarah ke rumah kekasihnya itu, matanya melirik kesekitar halaman yang sangat luas dengan pemandangan berbagai tanaman bunga yang tertata rapi.


Sesampainya di depan teras rumah Rena, Nathan beberapa kali menelan ludah karena gugup dan juga terpana akan rumah yang baru dia singgahi itu, dirinya tidak menyangka bahwa Rena adalah anak dari orang yang sangat kaya, berbeda dengan rumah yang dia tinggali saat ini bersama neneknya yang ada di daerah bogor, meski masih bisa dikatakan rumah yang bagus pula, tapi dengan apa yang ada dihadapannya ini sangatlah berbeda jauh, membuat dirinya semakin gugup dan tidak percaya diri.


"Silahkan masuk anda sudah di tunggu," ucap seorang pria yang menjadi salah satu supir pribadinya keluarga Wijaya.


"Terimakasih," timpal Nathan yang langsung melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah megah itu, ke terkejutannya kian besar ketika dia melihat koleksi-koleksi mewah nan berharga yang terpajang di ruang tersebut.


"Ouh jadi ini pemuda yang sedang dekat dengan Rena adik kecil kita itu? lumayan tampan juga," seru Mamanya, ketika melihat Nathan dan langsung mengomentarinya, perkatan tersebut membuat mukanya memerah karena malu.


"Kalau begitu tante pergi dulu ya, kalian lanjutkan saja obrolanya," ucap Mamanya Rena dan langsung berangkat karena dia harus pergi ke rumah sakit, memang pada waktu itu dia adalah bagian kepala bendara di rumah sakit yang dikelola oleh keluarganya itu, dan bukan lagi dokter yang menangani pasien secara langsung.


"Hmmmz.... Alah itu cuman masuk persyaratan untuk urutan terakhir saja, kalau tidak setara dengan keluarga kita, ngapain cuman malu-maluin saja nantinya" timpal Daniel dengan sinis tanpa memandang ke arah Nathan sambil memakan buah apel yang sudah dikupas.


Perkataan tersebut sontak membuat dirinya kaget sekaligus sedikit tersinggung, karena dia menyadari keluarganya hanyalah kategori kelas menengah, yang jauh bila dibandingkan dengan keluarga mereka.


Dan ternyata itu hanyalah awal dari semua kata-kata menyakitkan yang diterimanya, karena setelah itu dia cecar dengan pertanyaan tentang asal keluarga dan kekayaan yang dia punya, dan ketika Nathan menjawabnya dengan jujur bahwa dia hanya berasal dari keluarga kalangan biasa saja, meski Nathan termasuk orang tidak semiskin Rehan, tapi tetap saja dirinya tidak luput dari cerca habis-habisan dan langsung disuruh angkat kaki dari rumah tersebut.


"Sekarang silahkan kau pergi, dan jangan pernah lagi berhubungan dengan anak saya, karena kau sangatlah tidak pantas untuknya," ucap tegas Pak Wijaya yang baru saja berdatang dan langsung mengultimatum Nathan.

__ADS_1


Sejak saat itulah dia terus menghindari Rena tanpa menjelaskan apa yang telah terjadi dan tidak lama kemudian dia memutuskan hubungannya dengan putri bungsu keluarga Wijaya tersebut dengan alasan bahwa dia telah mempunyai kekasih yang lebih cantik dan lebih kaya dari Rena.


Rena yang diputuskan cinta oleh kekasih pertamanya itu, membuat dirinya sangat sedih tapi dia tetap tersenyum menyembunyikan rasa sakit hati dihadapan teman-temannya, sementara Jonathan yang tidak tega tapi melihat itu semua, membuat sebuah pilihan yaitu berhenti kuliah dan pergi ke negeri kangguru untuk melanjutkan kuliahnya disana.


__ADS_2