
"Haa... Apa rumah ini yang sekarang ditinggali oleh Rena?" Seru Pak Wijaya dengan ekspresi tidak percaya setelah mereka sampai di tempat tinggal putrinya yang sekarang yaitu rumah panggung yang sudah cukup lapuk termakan usia, karena rumah tersebut memang sudah ada sejak Bi Ijah dilahirkan sebab ini adalah warisan dari orang tuanya.
Pak Wijaya sangat kaget dan tidak bisa percaya bahwa putri bungsunya itu tinggal di rumah seperti ini, bahkan dalam benaknya dia berpendapat bahwa bangunan tersebut tidak layak disebut rumah, dia berpikir lebih bagus tempat gudangnya dari rumah yang ada dihadapannya ini.
"Mungkin menurut Papa rumah ini tidak sebagus rumah Papa bahkan kalau dibandingkan bagai langit dan bumi, tapi asal Papa tau rumah ini memberi rasa nyaman pada penghuninya termasuk Rena dan Key pun pernah merasakannya, suasana damai dan tidak terasa sepi dalam hati," ucap Keysa dan dia pun langsung melangkahkan kaki ke rumah dimana Rena sudah menunggunya, sementara Pak Wijaya mengekor dari belakang, karena dia masih agak segan untuk bertemu dengan putri bungsunya itu.
"Permisi semuanya.. Assalamualaikum, Maaf kami telat," seru Keysa mengucap salam, hal itu juga kembali membuat Pak Wijaya tercengang, karena ketika Keysa berkunjung ke rumahnya dia sama sekali tidak pernah mengucap salam, hanya kalimat permisi dan ucapan selamat pagi,siang atau malam yang keluar dari mulutnya, dan memang itu semua tidak bisa dipungkiri karena dirinya sendiri yang sejak dulu tidak mencontohkan perilaku tersebut.
"Waalakkum salam.... Kak Keysa," seru Rena disana sudah ada Nathan dan kedua orang tuanya yang terlihat sudah menginjak usia paruh baya namun masih muda dibandingkan dengan Pak Wijaya, dan terlihat juga Mia dan Audy beserta suami mereka, sementara Lena tidak hadir karena dia masuk pagi.
Memang sebelum mengajak Papanya kemari, Keysa terlebih dulu mengabari Nathan bahwa dirinya telah dapat restu dari ayahnya dan Pak Wijaya menyarankan mereka langsung saja mengadakan pertunangan, jadi secara mendadak Nathan pun mengabari kedua orang tuanya, untungnya kedua orang Nathan tidak sesibuk dulu, karena ayah Nathan juga sudah pensiun sebagai pegawai pajak beberapa tahun yang lalu.
"Papa...?" Ucap Rena tertahan, dia tidak menyangka bahwa Kak Keysa membawa ayah mereka.
"Nak, bagaimana kabarmu? Maafkan Papamu ini," ucap Pak Wijaya yang hendak bersimpuh dibawah kaki putrinya, namun Rena menahannya karena bagaimana pun derajat ayahnya tetaplah yang paling tinggi dibandingkan dirinya terlepas dari apa yang pernah dia perbuat.
"Kabar Rena baik-baik saja pah, sudahlah itu semua sudah menjadi masalalu," ucap Rena dan langsung menyalami dengan mencium telapak tangan ayahnya itu, karena sekarang dirinya sudah berdamai dengan rasa kecewa dalam dirinya, jadi dia tidak mau membahas hal tersebut.
"Selamat siang Om juga Kak Keysa," ucap Nathan.
"Ouh jadi Pak Wijaya calon besan kita, bukankah dulu anda itu dokter terkenal di negeri ini, meski saya sempat dengar bisnis anda mengalami kemunduran dalam beberapa tahun ini, perkenalkan nama saya Doni Alfarizy dan ini istri saya namanya Sekar Arum," ucap Pak Doni sambil menjulurkan tangannya, dia dan istrinya memang tidak tau bahwa putranya tersebut pernah dipandang sebelah mata oleh keluarga Pak Wijaya, karena pada saat itu Nathan tidak menceritakan kejadian yang sebenarnya.
__ADS_1
"Ya memang dalam beberapa tahun ini bisnis saya mengalami kemunduran dan juga saya sudah pensiun dari dunia medis tiga tahun yang lalu, sekarang anak-anak saya yang meneruskan bisnis saya," timpal Pak Wijaya, andai perkataan tersebut terlontar sepuluh tahun silam mungkin dirinya akan mudah tersinggung juga tidak akan terima dan akan langsung mencaci ayah Jonathan tersebut.
"Meski mungkin Pak Doni tau nama saya akan tetapi saya harus tetap memperkenalkan diri secara resmi, jadi perkenalkan nama saya Angga Wijaya senang bisa bertemu dengan anda berdua," lanjutnya dengan membalas jabatan tangan dari ayah calon besannya itu.
"Ouh... Kalian juga datang ya? Apa kalian tidak masuk kerja hari ini? Tapi dari mana kalian tau bahwa kami akan mengadakan pertemuan ini? Padahal orang yang saya kasih tau hanya hitungan jari saja kayaknya," tanya Keysa pada Audy dan Mia.
"Kebetulan kami shift tiga hari ini, perihal itu kami dikabari oleh Zahra, karena bagaimana pun Rena adalah sahabat kami jadi wajat kami ingin hadir diacara yang penting seperti ini" Jawab Mia menjelaskan alasannya, memang kemarin dirinya dan Audy diberitahu oleh Zahra bahwa Rena akan mengadakan pertunangan dengan Jonathan di kediaman Bi ijah.
Bahkan tanpa sengaja suami mereka yang mendengar percakapan itu, langsung meminta untuk ikut ke kampung Tegal Bungur, karena mereka juga baru mengetahui bahwa Rena sudah ada di negeri ini.
Dan sepanjang perjalanan suami mereka terus saja menggerutu. "Kalian berhutang penjelasan pada kami," ucap Ardy pada Audy yang terus mengomel pada istrinya tersebut, karena tidak diberitahu sejak awal.
"Sebenarnya kami ini memberitahu sejak dulu, tapi kami takut mulut kalian bocor kemana-mana," timpal Audy santai menanggapi perkataan dari suaminya yang terlihat dongkol.
"Emang!" Ucap lagi Audy.
"Sudah-sudah, toh kalian juga sudah tau kan sekarang? Jadi ngapain perlu diributin sich? Dulu kami merahasiakannya karena permintaan Rena sendiri, paham?" seru Mia meloloti suaminya itu dan langsung terdiam seketika
***
"Jadi apakah bisa kita mulai sekarang?" tanya Pak Doni pada Pak Wijaya.
__ADS_1
"Tidak, tunggulah sebentar lagi Bi Ijah sedang memanggil Pak Rt untuk datang menghadiri acara ini," ucap Rena, karena memang pertemuan ini dilakukan secara mendadak dan bukan pas hari libur, jadi sebagian besar tetangga tidak ada datang ke rumah tersebut, meski begitu ada dua orang tetangga yang bersedia membantu menyiapkan makanan dan minuman untuk para tamu.
Baru saja dibicarakan pak Rt dan istrinya sudah datang, "Assalamualaikum..." Seru Pak Rt mengucap salam pada semua.
"Waalaikumsalam.." Jawab semuanya secara serempak.
"Eh... Bi Ijahnya mana Pak Rt?" tanya Rena yang heran melihat kedatangan pak Rt hanya bersama istrinya.
"Perasaan tadi berada di belakang kami dech, loch kok gak ada? Ibu lihat gak tadi kemana perginya Bi Ijah?" seru Pak Rt yang baru menyadari Bi Ijah tidak bersama mereka.
"Yo gak taulah, kok tanya ibu sich pak?" timpal Bu Rt dengan polosnya, saat itu juga raut wajah Rena seperti tidak tenang, lalu dia pun melangkahkan kakinya meninggalkan teras rumah tersebut untuk mencari Bi Ijah.
"Mau kemana Ren?" seru Keysa yang hendak mengejarnya.
"Mau nyari Bi Ijah sebentar, Rena gak mau ingin Bi Ijah gak menyaksikan acara ini meski hanya pertunangan," seru Rena yang masih berjalan dengan langkah panjang.
"Gak usah dicari, Bi Ijah ada kok bersama kami," seru Rehan yang baru saja datang bersama Zahra istrinya juga ada Bi Ijah yang di apit oleh mereka berdua dan masih menundukan kepala dengan ekspresi sukar ditebak.
.-------.
"Hai-hai para pembaca yang budiman, jangan lupa baca juga cerita Novel karya Senior saya, yang berjudul #Cinta Di Atas Perjanjian kisahnya seru banget loch.! Yakin dech baca bakal nagih, yok yok cekidot.
__ADS_1