
"Hey Dokter pagi-pagi udah memasang muka terlipat gitu, kayak anak gadis yang baru pertama kali mengalami menstruasi saja," sapa Audy sambil bercanda, tapi Nathan hanya menanggapinya dengan senyuman hambar.
"Tsk... Kau bisa saja, bikin badmood tambah down aja," timpalnya sambil berlalu.
"Heh.... Kenapa tuch anak, apa mungkin dia gugup menghadapi hari pernikahan yang tinggal beberapa minggu lagi" gumam Audy.
Ketika Nathan meninggalkan area parkir rumah sakit ada sepasang mata yang memperhatikannya, "Pak ikuti mobil itu," seru gadis tersebut yang ternyata itu adalah Sella.
"Eh loe tau gak kalau si Nathan udah tidak bekerja lagi dimari?" Tanya Mia pada Audy ketika mereka berada di kantin.
"Iya gue juga baru tau tadi siang, pantas aja tuch bocah tadi pagi wajahnya kayak yang lagi bete banget, ternyata eh ternyata dia diresign, jadi gak enak gue padanya, tapi gue penasaran sebenarnya apa yang telah dia lakuin sampai diresign gitu?" Timpal Audy yang langsung duduk untuk menikmati semangkuk bakso pesanannya.
"Entahlah, padahal kan setau gue dia tidak pernah absen selama bekerja disini," ucap Mia yang juga tidak paham dengan keadaan yang sebenarnya.
"Hmmz.... Apa lebih baik kita habis kerja berkunjung ke rumahnya?" Ucap Audy.
"Ngapain?" Tanya balik Mia.
"Ya kita cari tau kenapa dia berhenti," jawab Audy.
"Segitu kepo bangetnya sich loe,"
"Emang loe kagak? Ya lagi pula itung-itung kita silaturahmi sesama tetangga satu komplek,"
"Hmmz.... Sedikit sich, hehee, tapi ada betulnya juga ya, semenjak kita tau si Nathan ternyata satu complek dengan kita, kita gak pernah berkunjung ke rumahnya,"
"### Nah.... Itu kan bisa dijadiin alasan, lagian sekarang katanya dia tinggal bersama orang tua dan juga anaknya yang bule itu, jadi gak bakal khawatir akan ada salah paham," ucap Audy, memang ketika awal-awal mereka tau Nathan masih satu komplek, Mia dan Audy masih segan untuk berkunjung karena statusnya yang Duren dan tinggal sendirian, mereka takut akan menjadi bahan gosip ibu-ibu komplek.
__ADS_1
"Ayo kita kembali Pak," ucap Sella setelah mengetahui tempat tinggal Nathan, diapun melihat seorang gadis kecil bermata hazel yang menyambut kedatangan Nathan dengan riang gembira, "Apa mungkin anak kecil itu adalah putri kandung yang dia maksud," gumam Sella, pikirannya sekarang tengah berkecamuk karena rasa kecewa bercampur harap agar Nathan tetap menjadi miliknya, apapun caranya dan itu membuatnya terserang penyakit hati.
"Tumben udah balik lagi, ada apa?" Tanya ibunya Nathan.
"Nggak ada apa-apa kok Bu, lagi pengen aja," jawab Nathan bohong, karena sekarang bukan waktu yang tepat untuknya menjelaskan hal yang sebenarnya pada orang taunya.
"Sayang ayo kita jalan-jalan ke taman komplek," seru Nathan pada putrinya yang sedang berada dalam gendonganya.
"Ayoo.... Sekarang aja," timpal Amira tak sabar.
"Sebentar dong Papi ganti baju dulu," ucap Nathan, lalu menurunkan putrinya tersebut dari atas punggungnya, dan seharian penuh Nathan dan Amira menghabiskan waktu bermain ditaman komplek.
"Sayang, ayo kita pulang udah hampir sore," seru Nathan.
"Yaa.... Sebentar lagi ya," timpal Amira yang sedang bermain pasir.
TID TID
"Selamat sore Dokter," seru Mia dan Audy yang baru saja pulang dari tempat kerja.
"Sore juga, kalian baru pulang ya?" Tanya Nathan pada kedua teman karib calon istrinya itu.
"Eh, kenapa kita gak nanyain aja sekarang," bisik Mia pada Audy.
"Hmmz.... Kayaknya yang lebih kepo elu dech dari pada gue, sok-sok'an tadi bilang gue kepo banget," sindir Audy.
"Hehee.... Kan gue kebawa elu," ucap Mia nyengir, kedua sahabat itupun turun dari motor mereka dan menghampiri Nathan dan Amira yang tengah bermain ditaman.
__ADS_1
"Selamat sore cantik," sapa Mia pada Amira, dan putrinya Nathan pun menatap pada orang yang belum dikenalnya kemudian dirinya melirik pada ayahnya seolah meminta penjelasan.
"Jangan takut, meski tante-tante ini tampangnya galak dan sedikit judes tapi mereka teman baik Mommy Rena kok sayang, hehehe," jelas Nathan pada putrinya.
"Sue loe, bilang kita judes dan galak, padahal kita segini cantiknya," seru Audy seolah hendak menimpuk Nathan dengan menggunakan sepatu.
"Iye loe, becanda loe nyakitin perasaan aja," timpal Mia.
"Sorri, sorri becanda, gitu aja marah," seru Nathan.
"Selamat sore juga tante," balas Amira setelah mendapatkan penjelasan dari ayahnya itu dan melihat ke akraban mereka.
"Iih... Comel dan pinternya, udah masuk sekolah belum cantik? Nanti kalau udah besar jadi mantu tante ya, anak lanang tante ganteng loch," sapa Audy yang mana langsung mempromosikan putranya yang beda dua tahun dengan bule kecil bermata hazel tersebut.
"Etdah... Mentang-mentang gak kesampean nikah sama orang bule, sekarang mau curi star buat jodoh anak loe," seru Mia sambil tepak jidat melihat tingkah sahabatnya itu.
"Amira belum sekolah, hanya belajar private sama ortu gue sekalian buat dia belajar bahasa lebih dalam, rencananya dia mau gue sekolahin di kampung Tegal Bungur setelah menikah nanti," Jelas Nathan yang menjawab pertanyaan Audy pada anaknya, dan kedua perawat tersebut hanya ber' Ouh ria.
"Eh, sorry nie ya, pertanyaan gue sedikit lancang," ucap Audy beberapa menit kemudian.
"Loe berdua pasti mau nanyain kenapa gue berhenti kerja dirumah sakit itukan?" Tanya Nathan menebak apa yang ada dalam pikiran Audy.
"Hehee... Iya kok tau sich," ucap Audy sedikit malu karena ternyata Nathan sudah tau maksud perkataanya, lalu Nathan menceritakan akar permasalahan kenapa dia sampai diresign secara sepihak oleh Pak Nakula pagi tadi.
"Tsk... Kenapa ya orang-orang kayak suka seenak jidat mereka menggunakan powernya untuk menindas orang-orang macam kita, loe yang sabar ya," gerutu Mia setelah mendengar penjelasan dari Nathan.
"Gak masalah kok malah gue senang, secara gue gak harus ngajuin risegn sendiri, soalnya memang rencana gue mau resign setelah menikah nanti dan tinggal di kampung bersama istri dan anak gue," ucap Nathan yang malah bersyukur atas pemberhentiannya.
__ADS_1