Asa Di Ujung Lembayung

Asa Di Ujung Lembayung
Kecewa


__ADS_3

Perjalanan pulang terasa begitu panjang nan hampa padahal jalanan masih ramai, tapi tidak dengan hati Rehan saat ini seperti ada perasaan sunyi menghampiri, meski pada jam-jam segini jalanan ibukota masih ramai dengan kendaraan dan bahkan beberapa titik masih mengalami kemacetan tapi tidak separah seperti sore hari.


Apa yang baru saja dia alami, begitu menyesakkan rongga-rongga dalam sanubari, bahkan mulai menjalar kepermukaan pikirannya, membuat benaknya begitu terbebani.


Meski Rehan memacu sepeda motornya dengan kecepatan tinggi, berharap angin malam menerbangkan rasa kesalnya, tapi tetap saja hinaan itu masih teriang bagai kobaran api yang menyala-nyala, seolah hendak membakar hatinya, andai dia adalah seorang perempuan mungkin dia akan menjerit histeris dan menangis sejadinya atas apa yang terjadi di pesta ulang tahun tersebut.


"Assalamualaikum," seru Rehan mengucap salam ketika sudah sampai di kediaman rumahnya.


"Waalaikumsalam, eh Nak udah pulang, gimana acaranya?" balas Umi Rehan yang tengah menyetrika pakaian, sementara Kinan sudah pergi ke kamarnya.


"Meriah, sangat meriah malah, udah ya Umi, Rehan ke kamar dulu," ucap lirih Rehan yang langsung menuju kamarnya, dan Uminya pun hanya menganguk mempersilahkan, beliau seperti mengerti apa yang tengah dirasakan oleh anak pertamanya itu melalui raut wajahnya yang terlihat murung.


Rasa iri mulai merasuki relung Sanubarinya, pada tiap-tiap celah sukmanya bagaikan teriris sembilu yang tersiram air garam. Rehan sempat dibuat tenggelam oleh banyaknya dengki yang menguasai diri, dia bertanya pada langit-langit kamar beranyamkan bambu. Mengapa ia tidak seberuntung layaknya orang-orang sombong itu, padahal dia selalu rajin dalam menjalankan segala perintah-Nya, Apakah tuhan sedang bercanda dengan dirinya?.


"Tuhan, jika cintaku memang salah tempat, lantas kenapa Engkau bangunkan begitu megah rasa cinta ini dalam relung hatiku?" Rehan pun mencoba memejamkan mata dan tanpa terasa air mata menetes disela-sela sudut matanya.


***


Sementara selepas kejadian penghinaan berujung pengusiran yang dialami Rehan, acara terus berlanjut hingga acara puncak tiba, meski sebagian orang masih penasaran dengan kejadian tersebut.


"Baiklah para hadirin yang berbahagia, inilah acara puncak yang sudah kita nanti-nanti, yaitu acara pemotongan kue ulang tahun Princes kita yang ke 25 tahun," seru pembawa acara penuh semangat dan tibalah Rena dari balik panggung dengan gaun pesta yang begitu cantik membalut tubuhnya, diiringi nyanyian selamat ulang tahun versi band ternama tanah air.

__ADS_1


Tepuk tangan terdengar meriah setelah Rena meniup lilin yang ada diatas kue tart yang cukup besar dan satu persatu teman Rena dan kolega bisnis Pak Wijaya memberikan ucapan selamat sekaligus memberikan kado ulang tahun.


"Hai Audy apa kau lihat seorang pria yang tempat duduknya hampir bersebelahan dengan kalian?" tanya Rena ketika tiba giliran teman seangkatannya memberi ucapan selamat.


"Pria yang mana, kan disini banyak pria yang hadir termasuk orang yang ganteng sebelah sana yang katanya calon suamimu," ucap Audy sambil melirik kearah Niko yang tengah mengobrol dengan beberapa teman dan juga kakak ketiga Rena. Sementara ayahnya Rena tengah berbincang dengan kedua orang tuanya Niko, seperti membahas hal yang cukup serius meski terkadang diselingi tawa.


"Ck, ish bukan orang itu," seru sebal Rena sambil terus celingukan kearah kursi paling belakang.


"Hmmz... Jangan bilang kalau orang yang kamu tunggu itu adalah orang yang dimaki-maki oleh ayahmu dan kakakmu," timpal Lena mencoba menebak.


"Maksudmu, ada kejadian seperti itu ketika aku masih diruang hias?" seru Rena kaget.


"DEG"


Jantung Rena seolah-olah mendadak berhenti berdetak, karena terkejut atas apa yang baru saja dia dengar dari mulut temannya itu, dan dia pun langsung lunglai andai tidak langsung ditahan oleh Mia dan Zahra.


Beberapa saat setelah Rena bisa menguasai diri, dia pun meminta teman-temannya menceritakan secara detail tentang apa yang terjadi ketika dirinya masih diruang hias bersama Kakak keduanya.


"Hiks"


"Hiks"

__ADS_1


"Loh kenapa dengan adik saya," seru Kak Keysa menghampiri mereka, yang kaget melihat Rena menangis dibahu Zahra, setelah diceritakan secara rinci Rena langsung menangis sedih dan kecewa terhadap keluarganya, membuat Audy dan teman-temannya terkejut, bahwa orang yang dihina dan dimaki-maki oleh ayah serta kakak dan juga tunangannya adalah kekasih dari sahabatnya tersebut.


"Eh anu-" ucap Mia terbata-bata karena bingung mau menjelaskannya pada Kak Keysa juga, karena dia takut malah dia yang dimarahi.


"Mohon perhatiannya hadirin sekalian, saya akan mengumumkan hal paling penting," seru Pak Wijaya yang kini sedang memegang mik, membuat semua mata tertuju padanya, dia tidak terlalu memperhatikan anaknya yang sedang bersedih meski jaraknya cukup dekat.


"Dalam acara yang berbahagia ini yaitu ulang tahun putri bungsu saya yang ke 25 tahun, dan malam ini saya akan memperkenalkan secara resmi calon tunangannya anak saya yang bernama Rena Wijaya putri dengan anak dari teman sekaligus kolega saya yaitu putra Pak Bramono yang bernama Nicholas Bramono," Seru Pak Wijaya, dan tepuk tangan serta ucapan selamat terdengar.


"Tiiidaaakk, saya tidak pernah setuju atas pertunangan ini," teriak Rena yang langsung berdiri dan menghampiri orang tuanya.


"Maaf papa, Rena tidak mencintai saudara Niko, karena saya sudah mempunyai kekasih, tapi dengan teganya kalian mengusir dan memakinya," seru Rena sambil terisak, lalu dia pun berlari meninggalkan acara, membuat semua terdiam dengan pernyataannya, beberapa orang mulai berbisik-bisik nada cibiran, karena tidak percaya bahwa seorang putri Ningrat mempunyai kekasih dari kalangan bawah, bahkan dengan lantang menolak perjodohan hanya demi pria tersebut.


"Pak Wijaya apa maksud dengan semua itu, kenapa anak bapak memutuskan secara sepihak pertunangan ini, apa anda sengaja mempermalukan kami di depan orang banyak," ucap Pak Bramono tidak terima, dilain sisi Niko hanya mengumpat dalam hati terhadap Rena yang menurutnya hal tersebut adalah sebuah pelecehan.


"Maaf Pak Bramono, ini hanya kesalah pahaman, biar nanti saya bicara dengan anak saya," ucap Pak Bramono


"Hmmz.. Baiklah kalau begitu, itu akan jadi urusan Pak Wijaya, andai pertunangan ini gagal anda tau sendiri konsekuensinya, saya akan menghentikan kerja sama kita dalam pembangunan Rumah sakit yang ada di Negara Australi, dan itu akan membuat reputasi Wijaya grup akan menurun," ucap Pak Bramono penuh penekanan, lalu dia dan keluarganya pergi dari acara tersebut.


"Ingat baik-baik perkataan ayah saya Om," timpal Niko yang ikutan mengancam Sang Dokter senior sekaligus pemilik Rumah sakit elit dan Universitas yang ada di negeri, memang dalam segi harta kekayaan keluarga Wijaya masih dibawah Keluarga Bramono, karena selain bergerak dibidan properti yang notabenya adalah usaha utamanya, dia juga mempunyai beberapa saham diperusahaan yang bergerak dibidang pertambangan.


Semua orang mulai pulang, sudah tidak berminat melanjutkan acara tersebut, karena serentetan kejadian yang tidak terduga dan hanya menyisakan Pak Wijaya serta kedua anak laki-lakinya dan juga teman-temanya Rena yang masih bingung dengan apa yang terjadi, sementara Kak Keysa mengejar Rena yang menangis.

__ADS_1


__ADS_2