Asa Di Ujung Lembayung

Asa Di Ujung Lembayung
Menemani Ke Ladang


__ADS_3

Sebuah mobil sedan berwarna silver membelah heningnya jalanan perkampungan yang diselimuti kabut tipis, hari ini hari minggu pertama dibulan ke sepuluh dengan hujan yang masih belum nampak akan turun sudah hampir tiga bulan lebih kemarau masih setia mendampingi, terlihat seorang pemuda sedang asik mengemudikan kendaraannya, raut wajah menggambarkan perasaan bahagia yang terlihat jelas dari seutas senyum yang mengembang.


Ketika dia sudah memasuki gerbang gapura pintu masuk kampung tersebut, dirinya melirik jam dipergelangan tangannya. "Hmmz... Masih pukul lima lebih sedikit, kok masih sepi ya? Apa aku terlalu kepagian?" gumamnya dalam hati.


Tapi setelah dia sampai di tempat yang dituju, terlihat seorang perempuan tengah menunggunya di teras dengan pakaian yang hendak pergi ke ladang.


"Assamualaikum... Selamat pagi ibu cantik," sapanya dengan rama sambil menahan dinginnya angin pagi dikala kemarau memang kadang lebih dingin dari biasanya.


"Waalaikumsalam... Selamat pagi juga yang sebentar lagi menuju siang," balas perempuan tersebut dengan nada menyinggung secara halus.


"Ayo.... Segera berangkat, kita sudah terlambat," ucapnya lagi, yups perempuan tersebut adalah Rena dan pemuda yang berada di hadapannya adalah Nathan cinta pertama dan calon suaminya nanti.


"Hah... Terlambat? bukankah ini masih terlalu pagi untuk dikatakan terlambat?" tanya Nathan agak heran, yang tidak percaya bahwa sepagi ini masih dikatakan terlambat.


"Ya.... Masih terlalu pagi sich bagi sebagian orang-orang mah, tapi inikan di perkampungan apalagi kalau musim panen atau ke ladang, pasti sehabis sholat shubuh semuanya sudah pada pergi ke ladang mereka, ayo kita juga harus bergegas, kasian Bi Ijah sendirian," ucap Rena mengajak Nathan lekas berangkat.


"Gak, ngopi dulu nich?" Tanya Nathan.


"Gak usah, nanti aja di ladang, tapi ganti dulu pakaianmu masa ke ladang pakai-pakaian setelan kayak mau ke kantor dewan," timpal Rena dan menyuruh Nathan berganti pakaian, dan hanya ditanggapi nyengir kuda olehnya.


Memang rencana awal Nathan adalah mengajak Rena pergi jalan-jalan diakhir pekan ini, tapi dia menolaknya karena akan panen kacang tanah bersama Bi Ijah di ladang dekat kampungnya, dan pada akhirnya Nathan pun meminta untuk ikut menemani dengan alasan ingin merasakan kegiatan di perkampungan, karena meski keluarganya dulu tidak sekaya keluarga Wijaya, tapi tetap saja dia juga orang kota yang tinggal di komplek perumahan, yang mana tidak pernah menginjakkan kakinya ke pesawahan ataupun ladang, jadi itupun akan jadi hal baru baginya.


Setelah mengganti pakaian Rena dan Nathan berjalan kaki menelusuri pematangan sawah, meski sempat terjatuh beberapa kali Nathan terus mengikuti langkah dari salah putri seorang dokter yang pernah menjadi keluarga kaya di negeri ini.

__ADS_1


"Kok kamu lancar banget sich jalan di pematangan sawah seperti ini, sampai aku gak bisa ngejar langkahmu," ucap Nathan dari belakang sambil merentangkan kedua tangannya untuk menjaga keseimbangan.


"Mungkin aku udah terbiasa, karena pada awalnya akupun sering terjatuh, masih mending sekarang tanahnya kering, dulu waktu aku pertama ikut Bi Ijah pada saat itu musim membajak sawah yang mana tanahnya berair, saat aku terjatuh otomatis tubuhku langsung belepotan, untung aku pernah nonton iklan deterjen yang bilang kotor itu baik, asal jangan kotor hati aja," timpal Rena menceritakan pengalaman pertamanya ketika di ajak ke pesawahan.


"Gedebug"


Rena yang kaget mendengar suara terjatuh dibelakangnya langsung menoleh, dan sejurus kemudian dia langsung tertawa melihat Nathan yang sudah tengkurap di tanah layaknya seorang prajurit yang menghindari efek ledakan sebuah bom.


"Nathan, kamu lagi ngapain?" tanya Rena yang masih tertawa, untungnya posisi jatuhnya sang dokter yang mempunyai predikat salah satu lulusan terbaik di universiras Negeri Kangguru tersebut, cukup jauh dari warga lainnya, jadi dia tidak terlalu malu karena tidak jadi bahan tertawaan.


"Aduhhh... Ah gara-gara kamu sih aku jadi terjatuh," ucap Nathan sambil menepuk-nepuk pakaian untuk membersihkannya.


"Lah kok, malah nyalahin aku sich, kamunya aja yang jalannya sambil melamun," timpal Rena yang heran kenapa dirinya yang malah disalahkan.


"Kamu gak suka aku yang sekarang?" Tanya Rena sambil terus melangkahkan kaki lebih cepat agar cepat sampai, karena sudah terlihat orang-orang yang sedang sibuk mencabut kacang tanah, untuk segera dipetik.


"Kamu yang dulu maupun yang sekarang aku tetap suka kok, aku senang aja sekarang kau lebih ceria tidak seperti dulu yang terlihat selalu sendu meski tetap menawan," jawab Nathan.


"Hmmz... Ujung-ujungnya gombal," timpal Rena singkat, dan mereka pun sudah sampai ditempat semua orang berkumpul dengan kesibukan yang sama.


"Eh Neng Rena, tumben baru datang?" seru salah satu tetangga menyapanya.


"Iya bu, nungguin dulu orang kota ini nich yang katanya pengen ikut bantuin kita," jawab Rena sambil melirik Nathan.

__ADS_1


"Ouh... Ini toh calon suami Neng itu, cocok Neng kalau sama Neng Rena mah, yang satu ganteng yang satunya lagi cantik," ucap ibu-ibu tadi sambil mengacungkan jempolnya, memang semua orang di kampung Tegal Bungur sudah mengetahui bahwa Rena telah dilamar meski mereka tidak hadir dalam acara tersebut, ya begitulah hidup perkampungan yang memang tidak pernah acuh dalam segala hal, meski pun terkadang berita baik ataupun buruk akan cepat sekali menyebar bak api yang menjalar membakar jerami kering dimusim kemarau.


"Etdah ganteng bener nich pemuda Neng, buat Nenek aja ya Neng," seloroh perawan generasi 50an yang sedang memetik kacang tanah dari akarnya, sambil terus memandang ke arah Nathan, yang ditatap malah bergidik ngeri membuat semua orang tertawa melihat adegan tersebut.


"Hahaha... Mak inget umur dia mah lebih cocok jadi cucu mak, udah nenek-nenek masih aja genit, liat noh dianya malah ketakutan, dasar mak gombreng," timpal salah satu ibu-ibu sambil tertawa.


Setelah melewati candaan nenek gombreng dan ibu-ibu lainnya yang ada dibarisan paling depan ladang tersebut akhirnya mereka berdua sampai ditempat Bi Ijah, karena pada dasarnya semua orang mempunyai bagian tempatnya masing-masing, jadi tidak akan ada yang saling menyerobot.


"Eh Pak Dokter, udah datang toh, istirahat dulu aja," ucap Bi Ijah yang sedang mencabut tanaman yang termasuk dalam jenis tanaman yang berbuah melalui akar itu.


"Iya Bi, jauh juga ya," ucap Nathan yang langsung duduk di dekat tumpukan tanaman yang sudah siap dipetik.


"Nich, minum dulu," seru Rena sambil menyodorkan minuman yang dituang dari teko berukuran sedang, Nathan pun langsung meminumnya karena memang dari tadi dahaganya sudah terasa kering akibat berjalan cukup jauh.


"Ah... Segernya, Terimakasih," seru Nathan.


"Sama-sama," timpal Rena, setelah beristirahat sejenak Nathan dan Rena turut serta membantu Bi Parijah memanen kacang tanah, Nathan berinisiatif mencabut tanaman yang berukuran kurang lebih tingginya 50 cm itu


Sementara Rena dan Bi Ijah mulai memetik kacang dari akarnya, sepanjang membantu Bi Ijah Nathan menyempatkan untuk bersua foto, mengambil gambar setiap sudut ladang yang terhampar luas dengan panorama alam pegunungan yang berjejer, karena baginya ini adalah hal baru bagi Nathan.


#Jangan lupa beri dukungan dengan cara like atau komen bisa juga kasih bunga atau vote, dan untuk menunggu part selanjutnya biar gak jenuh mimin ada Rekomendasi novel yang tidak kalah menarik, karya dari salah satu penulis yang bakal jadi author famous, nah ini dia karya beliau, cekidot..


__ADS_1


__ADS_2