Asa Di Ujung Lembayung

Asa Di Ujung Lembayung
Pemuda Biasa Tapi Tidak Biasa Saja


__ADS_3

Suara alunan kecapi suling dan gamelan terdengar sangat nyaring, nyaris terdengar kesegala penjuru kampung Padasuka, terlihat gapura pintu masuk kampung tersebut terpasang janur kuning yang begitu indah, bahkan gang masuknya pun dihiasi dengan bunga-bunga kertas berwarna-warni.


Hari ini adalah hari bahagia untuk Rena dan Nathan, karena tepat hari ini mereka akan melakukan janji suci yang saling mengikat mereka dalam suatu hubungan rumah tangga, para tetangga turut bersuka cita menyambut kedatangan calon mempelai pria.


"Assalamualikum.... Bagaimana kabarnya Bos Rehan, ckckck.... Makin sukses aja nich Bos kita, bolehlah nanti kalau sudah gak jadi kades lagi, saya bisa ikut kerja sama Bos Rehan," ucap Pak Kades Jalal yang datang bersama istri dan anaknya yang kini sudah besar.


"Waalaikumsalam... Alhamdulillah Baik Pak Kades, ah Pak Kades bisa aja, nanti saya bingung dong ngegajinya berapa," timpal Rehan.


"Ya gak terlalu besar juga gak apa-apa yang penting cukup buat nyekolahin si Buyung sama si Upik hingga kuliah, dan buat pergi haji atau umroh juga buat nikah lagi-," ucap Pak Kades jalan mendengar perkataan tersebut Bu Kades yang berada disampingnya langsung mencubit suaminya itu.


"Nich.... Kalau berani coba-coba," seru Bu Kades sambil melotot tajam.


"Aw.. Aw.. Aw.. Becanda kok Bunda," ucap Pak Kades yang meringis kesakitan, semua yang melihatnya riuh tergelak tawa, melihat adegan pasangan pimpinan mereka itu, yang sudah memimpin Desa Padasuka lebih dari dua priode dan dua tahun tahun lagi masa pengabdiannya yang ketiga akan usia.


"Pak Kades, emang kuat kalau namb-," ucap Rijal yang tengah memakan kue.


"Diam kau Jal, habisin aja makananmu jangan memperkeruh suasana," seru Pak Kades, tawapun kembali membahana.


"Rame amat diluar," ucap Lena yang berada dikamar pengantin bersama ketiga sahabatnya, yang tengah menemani mempelai wanita.


"Iya rame banget tuch pada ghibahin apa sich? Kayaknya seru banget," Timpal Mia yang tengah memperbaiki riasan.


"Iya, jadi bikin laper aja," ucap Audy sambil memegang perutnya.


"Haaaahhh?? Apa hubungannya," seru Lena dan Mia secara bersamaan yang heran mendengar ucapan temannya.

__ADS_1


"Eh... Selamat datang Pak Bambang, Pak Darman dan juga Bu darman serta Sella, kau terlihat sangat cantik hari ini,"ucap Rehan yang menyapa dan menyalami Koleganya yang datang secara bersamaan dengan keluarga pak Darman.


"Terimakasih, atas pujiannya," timpal Sella ramah, nampaknya kini perilaku Sella sudah sedikit membaik, itu semua akibat kejadian beberapa minggu lalu yang hampir membuatnya mendekam dipenjara selama bertahun-tahun.


FLASHBACK BEBERAPA MINGGU LALU


"Ini uang untuk biaya perawatan anak dan cucu anda, bahkan saya akan memberi kalian lebih besar lagi kalau segini masih kurang, tapi dengan syarat anda harus mencabut tuntutan pada putri kami," ucap Bu Darman sambil menyodorkan sebuah koper yang berisi uang berwarna merah pada Pak Alfarizi.


"Enak benar anda Nyonya, jangan mentang-mentang anda orang kaya dengan begitu gampangnya setelah anak anda mencoba melakukan percobaan pembunuhan pada putra dan cucu saya, anda ingin kami mencabut tuntutan itu, tidak, tidak akan pernah kami lakukan, biarkan anak dan supir anda menerima perbuatan yang telah mereka lakukan," timpal Ibu Nathan yang semakin emosi dan menepis tangan Bu Darman hingga koper yang dia pegang terjatuh dan menampar pipinya dengan keras.


"Hey... Anda jangan keterlauan terhadap istri saya, akan saya laporkan perbuatan ini sebagai tindakan kekerasan," seru Pak Darman tak terima istri diperlakukan dengan kasar.


"Sudah Bu jangan terbawa emosi, jangan bikin gaduh dirumah sakit," ucap Pak Darman yang menahan istrinya.


"Tidak, saya tidak akan memaafkan perlakuan istri anda ini, dan saya akan menuntut perbuatan tidak mengenakan ini," ancam Pak Darman dan perkataan tersebut membuat pak Alfarizi sedikit gentar, karena dia tau siapa orang yang ada dihadapannya ini.


"Saya bisa melupakan dan tidak akan melaporkan kejadian hari ini, tapi dengan syarat asal anda juga mencabut tuntutan pada anak kami, bagaimana?" Ucap Pak Darman dengan senyum liciknya, meski istrinya merasa sakit hati dengan tamparan tersebut, tapi dia bersyukur karena dengan perbuatan istrinya Pak Alfarizi itu membuat mereka bisa menekan balik keluarga tersebut.


Ayahnya Nathan bagai memakan buah simalakama, pilihan yang sulit baginya, dilain pihak dia ingin sekali orang yang menabrak anaknya itu mendapatkan ganjaran, disisi lain dia tidak ingin istrinya masuk bui karena tuntutan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh istrinya yang lepas emosi.


"Anda jangan mengancam seseorang dengan begitu gampangnya, mentang-mentang anda orang terpandang dan berpengaruhi, hingga anda menekan keluarga korban dengan pilihan yang sudah anda rencanakan sejak anda menginjkan kaki disini," ucap Rehan yang baru saja kembali bersama istri dan anaknya dari kantin rumah sakit tempat Nathan dirawat, sementara Rena tengah membesuk calon Suami dan anak tirinya.


"Siapa kamu, berani ikut campur masalah kami, hmmz.. Dilihat dari penampilanmu ini, sepertinya kau itu hanyalah orang dari kalangan biasa saja, jangan sok jadi penegak disini, kamu tau siapa saya hah?" Timpal Pak Darman yang melihat Rehan dari ujung kaki hingga rambut dan merendahkan Rehan karena penampilannya yang terlihat biasa saja dengan stelan sandal jepit dan celan jeans yang hampir memudar, karena sewaktu berangkat dia terburu-buru dan tak sempat ganti pakaian.


"Ya sama memang hanyalah orang biasa saja yang berasal dari kampung-" ucap Rehan yang malah langsung ditertawakan olehnya.

__ADS_1


"Hahhaa..... Ternyata kau hanya orang kampungan yang sok-sokan ingin menjadi pahlawan tertanya ya? Atau kau adalah kerabatnya Dokter yang tidak tau diuntung itu," Tawa Bu Darman merendahkan.


"Hmmz.... Terserah anda mau bilang apa, tapi saya berharap anda mematuhi proses hukum yang tengah berjalan dan jangan sesekali mengintimidasi keluarganya Pak Alfarizi, karena saya tidak akan tinggal diam," ucap Rehan dengan tampang serius.


"Hahahaa.... Orang seperti kamu mencoba mengancam saya, Hahaha... Lucu sekali," Tawa Pak Darman penuh kesombongan.


"Nak Rehan, sedang apa anda disini?" Tanya Pak bambang yang baru saja tiba dan langsung menyalaminya penuh hormat, dia baru saja tiba dirumah sakit tersebut, untuk mengantar anaknya yang masih kecil terkena gejala tifus untuk dirawat.


"Kakak, mengenal pemuda ini?" Timpal Pak Darman yang kaget, melihat kakaknya mengenal orang yang tengah direndahkannya itu.


"Iya, dialah orang yang aku ceritakan tempo hari padamu, hahaa.... Aku ingatkan kau jangan pernah bermain-main dengannya, kalau tidak ingin urusanmu kedepannya jadi runyam, meski mungkin dia tidak akan tersinggung dengan apa yang kau katakan ataupun kau perbuat padanya, tapi orang-orang yang telah mengangapnya sebagai keluaga akan sangat murka," ucap Pak Bambang sambil setengah bergurau, tapi itu berdamage bagi Pak Darman.


"Kenapa kau terdiam Darman, tunggu, tunggu, jangan bilang kau telah menyinggungnya?"


"Astaga.... Kau ini, maafkan dia Nak Rehan, adik bodohku ini tidak tau siapa dirimu, kau cepat minta maaf padanya sekarang juga," bentak Pak Bambang pada adiknya itu.


"Maafkan saya dan juga istri saya, karena telah menyinggung anda," ucap Pak Darman gugup, sifat angkuhnya beberapa menit lalu seolah menguap begitu saja setelah mengetahui siapa sebenarnya pemuda yang ada dihadapannya, bahkan Pak Alfarizi beserta istrinya pun merasa heran dan penasaran dengan latar belakang Rehan.


"Maaf Nak Rehan, sebenarnya apa yang terjadi, kenapa adikku sampai menyinggung anda," ucap Pak Bambang penasaran, Rehan pun menceritakan akar permasalahnya dengan cerita yang dia dengar dari Keluarga Nathan, dan alasan kenapa sekarang dia berada disini


"Apa benar Anak manja itu tega melakukan hal yang begitu keji?" Tanyanya setelah mendengar penjelasan Rehan.


"Benar kak," ucap Pak Darman, dan dia menjelaskan alasan kenapa putrinya melakukan hal tersebut, ternyata itu semua karena penolakan Nathan atas cintanya Sella.


"Bodoh sekali kalian, ini semua akibat kalian terlalu memanjakan putri kalian itu, hingga membuatnya memilik kepribadian yang egois, Tsk...Kenapa kalian tidak becus mengurusi anak meski hanya memiliki anak semata wayang saja, bagaimana kalian mengurus lima orang anak macamku ini," bentak Pak Bambang yang kecewa karena keponakannya melakukan hal yang tidak terpuji tersebut, apalagi itu dilakukan pada orang terdekat Rehan.

__ADS_1


__ADS_2