Asa Di Ujung Lembayung

Asa Di Ujung Lembayung
Misi Seorang Zahra


__ADS_3

Rintik hujan kembali mengguyur sekitaran kota kecamatan, tak ada pekerjaaan yang dia harus selesaikan pagi menjelang siang ini, karena semua sudah beres tinggal dijemput sang empu yang mempunyai alat elektronik tersebut.


Rehan hanya memandang leluasa ke sebrang jalan, pada deretan tanaman hias bougenville yang berjejer disepanjang pinggiran trotoar, lamat-lamat dia melihat seseorang berjalan sambil membentangkan sebuah payung untuk melindunginya dari bulir-bulir gerimis yang turun dari langit.


Orang tersebut ternyata adalah Bidan Zahra, memang sudah beberapa hari ini dia sering sekali datang mengunjunginya, ada saja yang dia beli seperti charger, headset atau pun hanya sekedar menyapa sebelum dia pergi bertugas di Posyandu tempatnya tinggal.


" Assalamualaikum, Selamat siang Kang Rehan, tumben bengong aja, biasanya suka ngotak-ngatik sesuatu kalau saya sedang kesini," ucap Zahra menyapa dengan senyum ramah mengembang.


"Waalaikumsalam, eh Bu Bidan Zahra, selamat siang juga Bu, eh.. Sudah beres semua, hanya tinggal diambil sama yang punya saja," timpal Rehan agak kikuk, ketika dia melihat Zahra seolah-olah ada memori yang menguap kembali, kenangan yang ingin dia kubur dalam-dalam, bukan karena dia membenci wanita yang pernah melukis cinta dalam sanubarinya, yang sempat mewarnai hidupnya meski berakhir kecewa, tapi dia lebih ingin fokus pada apa yang ada saat ini, tanpa harus teringat kembali hal-hal yang membuatnya terpuruk seperti beberapa bulan yang lalu.


"Ah Kang Rehan, jangan panggil ibu dong, kesannya kayak saya lebih tua aja dari Akang, padahal kita kan sepertinya seumuran dan juga pastinya lebih tua Kang Rehan," ucap Zahra kembali sambil menyimpang payungnya disembarang tempat dan langsung duduk dikursi plastik yang ada di depan etalase.


Rehan terdiam beberapa saat mendengar ucapan yang dilontarkan wanita yang ada dihadapannya itu, dia mengumpat dalam hati kenapa obrolan seperti ini kembali lagi terjadi meski dengan orang yang berbeda.


"Maaf Bu Zahra, ngomong-ngomong Bu Zahra asli orang mana?" Tanya Rehan penasaran tanpa mempedulikan protesnya Zahra karena disebut ibu.


"Ish.. Sebel dech, orang jangan bilang Ibu kok masih aja bilang gitu, aku aslinya orang Bogor juga, lebih tepatnya di daerah sekitar Pemda Bogor," gerutu Zahra sambil memasang wajah cemberut dan menjelaskan dimana dia tinggal.


"Ptttff... Hahaha.. Maaf-maaf, iya dech iya gak bakal panggil ibu lagi, Teh Zahra aja gimana? Ouh orang Bogor juga toh," Rehan pun tak kuasa menahan tawa karena melihat raut wajah perempuan yang ada dihadapannya seperti melihat adiknya ketika merajuk.

__ADS_1


"Hmmz... Iya dech itu lebih baik dari pada dipanggil ibu, kenapa emang, mau bertamu ke rumah Zahra ya?" timpal Zahra, yang sontak membuat Rehan hampir terjengkal dari tempat duduknya yang mendengar jawaban tersebut.


Hampir satu jam lebih mereka asik mengobrol sampai tak terasa hujan pun mulai reda, ternyata Zahra selain cantik juga suka bercanda, membuat obrolan mengalir begitu saja.


"Permisi Kang, apa disini bisa service Handphone? maaf Bu mengganggu obrolannya," seru seorang remaja tanggung sambil membawa smartphone yang terlihat mati, Zahra hanya tersenyum dan mempersilahkan duduk remaja tersebut.


"Bisa Dek, coba lihat handphonenya," timpal Rehan yang langsung membalik-balikkan smartphone tersebut.


"Ini jatuh ke air ya, berapa lama jatuhnya?" seru Rehan mencoba menebak.


"Iya Kak, jatuh ke bak mandi lumayan lama sekitaran satu jam baru ditemukan di dalam bak mandi," ucap jujur anak tersebut, karena dia waktu pergi ke kamar kecil sambil membawa hp tanpa dia sadari benda tersebut jatuh sewaktu ditaruh dipinggir bak mandi.


"Silahkan Dek duduk, jangan berdiri terus entar Varises lagi," seru Zahra sambil tersenyum mempersilahkan remaja tersebut untuk duduk, anak itu hanya mengangguk dan langsung duduk tanpa berkata apapun, karena saking terpesonanya dengan wajah cantik Bidan Zahra yang berbalut hijab berwarna biru tua.


"Ouh iya, dia juga bilang maaf karena membuat Kang Rehan kecewa dan terimakasih untuk cinta tulus yang telah Kang Rehan berikan selama satu tahun itu," Ucap Zahra yang menoleh sebentar, lantas melanjutkan langkahnya kembali, meninggalkan Rehan yang termangu akibat ucpannya barusan.


"Tunggu Zahr-" seru tertahan Rehan tapi Bidan cantik tersebut sudah terlanjur melangkah cukup jauh dan sudah menyebrang jalan, sementara dia pun ada kerjaan yang harus segera diselesaikan, jadi tidak enak hati sama pelanggannya yang hendak memperbaiki handphonenya kalau dia pergi begitu saja, tadinya dia hendak bertanya lebih lanjut, apakah kenalannya tersebut adalah orang yang pernah mengisi relung hatinya.


***

__ADS_1


"Zahra, ini adalah permintaan sekali dalam seumur hidupku kepadamu sebagai seorang sahabat, aku meminta tolong kepadamu mau kah kau bertugas sebagai seorang bidan di desa yang bernama Padasuka, tempat dimana aku pernah bertugas disana," ucap Rena kala itu sambil menahan tangis, ketika Zahra mengobrol empat mata dengan sahabatnya, sehabis acara lempar bunga yang mana dialah yang mendapatkannya.


"Kenapa aku harus menjadi bidan disana, beritahu alasannya, aku setuju saja atas apapun permintaanmu, karena kau sudah aku anggap sebagi penyelamat keluargaku, jadi ketika kamu dalam kesulitan, apa pun itu aku akan berusaha semampunya untuk membantumu," timpal Zahra sambil memegang erat kedua tangan sahabat baiknya.


"Aku ingin kau menjadi pendamping hidup untuk Rehan orang yang sangat aku cintai, meski ini terlalu memaksa, juga akan sulit karena dia sempat kecewa dan mungkin sakit hati, tapi kumohon sembuhkan luka dihatinya akibat temanmu ini, kumohon, hiks hiks hiks," ucap Rena yang tidak bisa lagi membendung air matanya dan memeluk sahabatnya itu.


"Baiklah, aku akan berusaha semampuku-" balas Zahra.


"Terimakasih Zahra terimakasih, kau memang temanku yang paling baik hati, aku yakin kalian akan jadi pasangan yang sangat serasi dan juga sampaikan permintaan maafku untuk Kang Rehan," timpal Rena.


Zahratunnisa adalah anak dari keluarga yang sederhana meski tidak terlalu kaya, ayah dan ibunya adalah seorang tenaga pengajar disalah satu sekolah di daerahnya, dan dia adalah salah satu teman dekat dari Rena Wijaya Putri anak dari keluarga bangsawan ibukota.


Dan pada suatu hari ayahnya tertimpa musibah, yaitu kecelakaan maut yang hampir merenggut nyawanya, dan harus dirawat di ruang gawat darurat yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit, kala itu keuang mereka sedang tidak stabil, karena baru saja membayar kuliah untuk Zahra dan membayar biaya pendaftaran menjadi calon PNS, lalu terpaksa ibunya meminjam pada Rentenir.


Zahra yang pada waktu itu sedih bercampur panik, mengatakan dia lebih baik berhenti kuliah dulu, dan ingin mencari pekerjaan guna melunasi hutang pada salah satu rentenir yang ada di wilayahnya, karena dia tahu apa resiko meminjam pada lintah darat tersebut.


Tapi Rena dengan lantangnya menolak dan memarahi rencana sahabatnya itu, dia pun dengan penuh tekad untuk minta dipertemukan dengan orang yang meminjamkan uang pada keluarga Zahra, dan ketika bertemu Rena langsung melunasi semua hutang berikut dengan bunganya, sehingga keluarga Zahra tidak lagi terikat dengan bos renten itu.


Dan sekarang disinilah dia di tempat dimana sahabatnya bertugas dulu, demi sebuah hutang budi, Zahra dengan senang hati meninggalkan tempat kerjanya yang dulu, karena ada hati yang harus diobati dan ada budi yang harus terbalaskan.

__ADS_1


__ADS_2