Asa Di Ujung Lembayung

Asa Di Ujung Lembayung
Perebutan Hak Waris


__ADS_3

Disatu sore dibelakang rumah Bi Ijah, Rena tengah termenung bagai seorang perempuan penenun Senja dengan tabah merajut asa, meski Sang Lembayung akan cepat tenggelam dan hilang, digantikan oleh gelap malam membawa kenang yang mulai menghilang, terhempas oleh Sang Mentari ketika menampakan sinarnya, namun terangnya mentari memperjelas bahwa kehidupan didunia tak pernah ada yang abadi, semuanya sudah digariskan, jadi hidup harus tetap berjalan, jangan sampai terlarut oleh keadaan yang menyesakkan.


"Aku harus kuat," gumam Rena mencoba menguatkan hati, tapi kalimatnya terasa lebih dalam dan menyakitkan, karena secara tidak sadar dia sedang mengutarakan rasa sakitnya.


Sudah dua minggu berlalu sejak kepergian ayahnya, kini Rena kembali ke rumah Bi Ijah tempat dimana sekarang menjadi tempat kepulangannya, meski Keysa menyuruh dirinya kembali tinggal dirumah ayahnya, tapi Rena menolak untuk tinggal disana.


Karena pada hari terakhir mengadakan tahlilan, dua saudara laki-laki mereka terutama Rudy dengan tidak tau malunya, menginginkan segera membagikan hak atas rumah tersebut, miris bukan, padahal kepergian ayah mereka baru saja satu minggu berlalu.


"Hey.... Apa kalian berdua tidak punya otak, ayah kita baru saja meninggal, kalian malah sibuk meminta bagian atas hak rumah ini, cih kalian sepertinya sudah tidak waras dan menjadi orang yang serakah," seru Keysa pada kedua saudaranya tersebut.


"Bukan begitu Key, karena semakin cepat dibagikan akan semakin mengurangi resiko saling curiga diantara kita semua," ucap Rudy mencoba menjelasakan.


"TSK.... Itu semua hanya alasan kau saja," timpal sebal Keysa.


"Yang dikatakan Kak Rudy benar kak, karena kita semua sama-sama sibuk jadi tidak mungkin sempat mengurus rumah ini," ucap Daniel yang membenarkan perkataan dari Kakak pertamanya.


"Cih... Bukankah masih ada Rena, kenapa kita tidak menyerahkan saja padanya, untuk tinggal disini bersama Bi Ijah," ucap Keysa.

__ADS_1


"Tidak bisa, kami tidak setuju, itu sama saja kita tidak akan dapat hak atas rumah ini," timpal Rudy.


BRAKKK


"Kalian sungguh rakus ya, apa kalian tidak pernah berpikir dirinya tidak pernah mendapat hak atas semua yang ayah kita punya, nyatanya kalianlah yang menghabiskan haknya Rena selama ini," seru Keysa sambil menggebrak meja, membuat semua kerabat yang masih tersisa terkejut, meski begitu mereka tidak bisa langsung ikut campur dengan masalah yang sensitif ini.


"Sudah, sudah kenapa sich kalian ini malah bertengkar, kayak anak kecil saja," kata Pak Surya yaitu anak dari ayah angkat papa mereka yang juga selalu turut hadir selama 7 hari ini.


"Tidak paman, merekalah yang mulai, dengan entengnya ingin segera mendapatkan bagian rumah ini" ucap Keysa menjelaskan.


"Hmmz... Itu memang kurang pantas, tapi itu semua juga ada benarnya," ucap Pak Surya setelah mendengar lebih jelas alasan yang dia terima dari Rudy.


"Ya saya sangat setuju," seru Rudy dan Daniel.


"Tapi,-" ucap Keysa tertahan karena lengannya ditarik oleh Rena.


"Sudahlah kak, kalau begini terus tidak akan ada selesai-selesainya, kita ikuti saja kemauan mereka," ucap Rena mencoba menghentikan perdebatan diantara saudar-saudaranya itu.

__ADS_1


"Yang dikatakan Rena benar Sayang, mungkin mereka lebih membutuhkan dari kalian, jadi biarkan saja," timpal Suaminya Keysa cukup menohok untuk kedua suadara laki-lakinya itu.


"Hey.... Apa maksudmu? Kau itu orang luar jadi jangan ikut campur," seru Rudy yang tidak terima dengan perkataan dari suami adiknya itu, dan hanya dibalas senyuman olehnya, andai suami Keysa bukan berasal dari keluarga kaya, mungkin saat itu juga akan dihujat habis-habisan oleh Rudy, tapi itu tidak akan bisa karena suami Keysa bukanlah orang sembarangan, Suami Keysa adalah anak tunggal dari orang terkaya kedua di negeri Singapura.


"Maaf kakak ipar jangan tersinggung, kami hanya tidak ingin semuanya menjadi lebih rumit bila kita tunda masalah penting seperti ini," ucap Daniel.


"Hhmmm.... Baiklah tapi paman selain menjadi seorang pembeli rumah ini, Keysa minta Paman juga menjadi saksi mata atas pembagian hak waris ini, agar suatu hari nanti mereka tidak seenaknya mengambil kembali hak yang Rena dapatkan hari ini, dengan berbagai dalih apapub," ucap Keysa, meminta pada Pak Surya agar mau menjadi saksi pembagian harta warisan dan Pak Surya pun menyetujui persyaratan tersebut.


"Wijaya, Wijaya sepertinya kedua anak laki-lakimu itu, mempunyai sifat serakah darimu," gumam Pak Surya dalam hati.


"Neng sudah lewat adzan magrib, gak baik melamun terus, ayo masuk kedalam rumah, kita sholat berjamaah," ucap Bi Ijah membuyarkan lamunan Rena.


"Eh iya Bi," balasnya lalu beranjak dari tempat duduk dan masuk kedalam.


"Hmmz... Aku harus tetap semangat, karena aku tidak sendiri, masih ada orang-orang baik disekitarku yang selalu peduli padaku lebih dari saudara kandung," gumamnya dalam hati.


#Yuks tinggalkan jejak dengan cara like or coment dan biar Author semangat updetnya bisa kasih bunga atau vote.

__ADS_1


#Dan biar gak jenuh nungguin part selanjut mimin ada rekomendasi novel yang tidak kalah keren karya dari teman mimim, yuks ah segera cekidot.



__ADS_2