Asa Di Ujung Lembayung

Asa Di Ujung Lembayung
Keputusan Rena


__ADS_3

"Bi, ini ditaro disebelah mana?" tanya Rena yang tengah marapikan kayu bakar yang sudah kering.


"Sebagian langsung ke dapur aja neng, letakkan di samping tungku," ucap Bi Ijah yang tengah mencuci pakaian.


Memang hari ini mereka memilih tidak kemana-mana, selain kegiatan mengambil daun pisang tengah libur, karena belum ada lagi permintaan dari bandar yang ada di ibukota untuk melakukan pengiriman.


Karena tidak ada hal yang dikerjakan di kebun maupun ladang milik tetangga, sebab Bi Ijah tidak mempunyai sawah ataupun kebun yang harus digarap, jadi dia hanya bisa menunggu tetangga menyuruhnya untuk kerja serabutan membantu mereka di sawah, meski begitu lahan di belakang rumahnya yang cukup luas Bi Ijah berinisiatif menanam sayur-mayur yang bisa dia jual ke pasar.


"Assalamualaikum," seru seseorang dari arah depan rumah.


"Waalaikumsalam," jawab serentak Rena dan Bi Ijah.


"Biar Rena saja yang bukain," ucapnya setelah menata tumpukan terakhir kayu bakar yang sudah kering dan langsung berjalan ke arah pintu depan.


"Eh ternyata Zahra sama Rehan, maaf agak lama soalnya lagi beres-beres di belakang rumah," ucap Rena sambil tersenyum ceria melihat sahabatnya tersebut dan langsung berpelukan.


"Bagaimana kabarnya Ren?" tanya Zahra setelah melepas peluk.


"Alhamdulillah sehat, kabar kalian gimana?" tanya Rena balik bertanya, dan diapun menjulurkan tangan kearah Rehan untuk bersalaman meski ada rasa canggung yang menyertai mereka.


"Alhamdulillah sehat juga, Bi Ijahnya ada Ren?"


"Ada di belakang lagi nyuci, eh sicantik Rina juga ikut ya, sini dong salaman sama ateu," timpal Rena sambil menghampiri Rina dan putri sahabatnya itupun mencium punggung lengannya.


"Duduk dulu, biar aku bawakan minuman, tapi maaf ya adanya cuman air putih," lanjutnya.


"Gak apa-apa Ren, maaf jadi ngerepotin kamu dech," ucap Zahra.


"Udah gak apa-apa, bentar dulu ya kalian duduk aja dulu, sekalian mau panggilin Bi Ijahnya," timpal Rena, lalu diapun kembali ke dalam rumah untuk mengambil minuman.


Zahra yang melihat perilaku dari sahabatnya itu tersenyum bahagia, karena ternyata raut wajah Rena tidak sekelam ketika mereka menemukannya terlantar di negeri orang.

__ADS_1


"Eh, nak Rehan sama neng Zahra toh, aduh Rina cucu nenek udah tambah besar ya," seru Bi Ijah setelah melihat siapa yang datang.


"Iya dong nek, kan Rina makannya banyak, jadi cepet besar, biar bisa bantuin Umi sama Abi, juga Emak Kinan," seru Rina sambil menghampiri Bi Ijah untuk menyalami wanita paruh baya tersebut.


"Widdiiih.... Anak yang baik dan rajin memang, ayo minum dulu juga ada sedikit cemilan silahkan dinikmati," timpal Rena yang baru kembali dan membawa teko air beserta nampan berisi singkong rebus, Rina pun langsung mencomot singkong dan mencelupkannya ke dalam gula putih.


"Aw... Hu.. Huuu.... Panas, panas," seru Rina sambil meniup-niup singkong tersebut dengan mulut mungilnya, tingkahnya membuat semua orang tertawa.


"Makannya pelan-pelan sayang, gak bakalan ada yang ngerebut ini kok," ucap Zahra sambil membantu mengipasinya.


"Eh iya hampir lupa, sebentar dulu," seru Rehan yang teringat maksud kedatangnya ke rumah Bi Ijah, lalu dia bergegas menuju mobilnya dan membuka pintu belakang.


"Abi... Rina bantuin ya," seru Rina dari balai bambu tempat mereka duduk.


"Gak usah, kamu diam aja disitu temani Nek Ijah," timpal Rehan dan langsung mengeluarkan beras dan sembako untuk diberikan pada Bi Ijah.


"Terimakasih banyak nak Rehan," seru Bi ijah setelah Rehan menyerahkan sembako padanya.


"Ayoo... Biar nenek temanin," timpalnya, lalu mengantar Rina ke halaman belakang, merekapun pergi meninggalkan teras depan, seolah Rina tau bahwa Abi dan Uminya akan membicara hal serius dengan Rena.


Setelah kepergian Rina dan Bi Ijah, untuk sesaat suasana seolah-olah menjadi canggung, ketiganya seperti sungkan untuk memulai pembicaraan.


"Rena, ini untukmu," ucap Rehan membuka pembicaraan sambil menyodorkan ponsel yang masih rapih terbungkus dan juga selembar kartu perdana.


"Ini, maksudnya apa?" tanya Rena bingung sambil melirik ke arah Zahra.


"Ini tidak bermaksud apa-apa, tapi memang ini adalah bagianmu," jelas Zahra.


"Hahh..?" Rena malah semakin tidak mengerti dengan ucapan temannya itu.


"Jadi begini, ponsel ini adalah pemberian dari Pak Ichirou seorang pimpinan perusahaan berikat yang ada di negara kita dan ternyata dia itu adalah bawahannya ayahnya Keiko," ucap Rehan mencoba menerangkan.

__ADS_1


Lalu Rehan mulai menjelaskan perihal bagaimana dia bisa mendapatkan ponsel tersebut, dan menceritakan soal dia ditawari keuntungan yang menggiurkan, namun dia tolak, dan juga bagaimana dia mendapatkan uang dalam jumlah besar.


"Jadi keinginan kami adalah membagi rata uang tersebut denganmu, karena mungkin ini sebagai bentuk permintaan maaf dari tuan Benjiro secara tidak langsung terhadap kamu," ucap Rehan


"Tidak, aku tidak pantas menerima itu semua, karena seyogyanya tuan Benjiro melakukan semua itu untuk membalas budi kalian, karena sudah menyelamatkan anaknya, jadi itu tidak ada hubungannya denganku," timpal Rena yang menolak pemberian dari suami-istri tersebut.


"Tapi..." seru Zahra.


"Tida ada tapi-tapian Zahra, itu adalah hak kalian, malahan aku sangat berterimakasih dan bersyukur, karena secara tidak langsung membuatku ada disini kembali, sebab kalau tidak ada Keiko yang mengajak kalian untuk berlibur ke negara sakura dan andai kalian tidak menemukan diri ini, mungkin aku akan mati secara perlahan disana, karena saat itu mental dan jiwaku sunguh hancur lebur,"


"Karena luka dari tragedi itu semakin membiru, perih sayatannya semakin nyata ketika mengingat kembali apa yang menimpaku kala itu, lukanya terus membawa hidupku menjadi terlunta dan sempat berpikir untuk mengakhiri saja semuanya,"


"Tapi kalian datang bagai cahaya, ketika sinar dalam diri ini terselimut oleh pekatnya gelap keputus asaan, dan dengan sabar merawatku hingga bersedia membawaku kembali untuk memulai hidup yang baru, jadi lebih baik pergunakanlah uang tersebut untuk kalian sekeluarga," ucap Rena yang tetap pada pendiriannya.


Rehan hanya terdiam mendengar dua sahabat karib itu berbicara, karena takut mengganggu, dia lantas menyusul Rina ke halaman belakang.


"Rena ini adalah keinginanku, maukah kau menikah dengan Kang Rehan? aku rela di madu asal perempuan itu kamu, dan untuk Kang Rehan biar aku yang meyakinkannya," ucap Zahra mengutarakan permintaan pada sahabatnya, namun dibalas oleh Rena sambil menggelengkan kepala.


"Jangan engkau tawarkan aku ranjang dalam rumah tanggamu, untuk saling berbagi kehangatan dalam satu selimut, aku tidak mungkin berjalan ditengah-tengah kalian dan memulai semua ini kembali, karena bagiku, ini semua sudah usai, saat aku memutuskan menyerahkan Kang Rehan padamu," ucap Rena menanggapi permintaan Zahra.


"jalanilah kehidupan kalian dengan tenang, Janganlah kau terbebani dengan keadaan ku saat ini, karena sekarang aku sudah cukup bahagia bersama Bi Ijah, sumpah ini mungkin juga sebuah jalan untuk kita tetap berada dalam koridor yang benar, karena persahabatan lebih kekal, dari pada menjadi teman yang berbagi cinta dalam satu atap,"


"Kau tau seperti senja yang tidak pernah kita minta, Ia datang karena janjinya kepada matahari, dan ia menghilang karena mengikhlaskan malam pada sang rembulan,"


"Langit tidak pernah bersalah, senjalah yang memilih untuk meninggalkannya, karena senja percaya pada sang rembulan untuk menerangi langit ketika senja hanya meninggalkan gelap pada sang langit,"


"Karena sejak saat itu dalam hatiku sudah terpatri, yaitu cara berterima kasih pada mereka yang berkenan membantu disaat kesusahan tanpa memilah sebelum bertindak, adalah dengan menghormatinya sebagai saudara sepundak,"


"Kau dan Kang Rehan sekarang bukan lagi sekedar sahabat, tapi bagai saudara melebihi ikatan sebuah keluarga sedarah dan mungkin itu jugalah yang coba dilakukan oleh Keiko dan ayahnya, jadi jangan melontarkan hal-hal aneh lagi," ucap Rena menepuk kedua pundak Zahra dan menatap lekat kedua bola mata sahabatnya itu, tanda dia serius dengan ucapannya.


Zahra yang mengetahui perangainya, hanya menghela napas pasrah, dan mungkin itu menjadi pilihan terbaiknya yang tidak akan bisa diganggu gugat.

__ADS_1


__ADS_2