
Sinar mentari pagi menari-nari diantara celah dedaunan, masuk menembus ventilasi-ventilasi rumah tanpa berucap permisi, membangunkan setiap insan yang masih terbuai berselimut mimpi, dan diantara jalanan protokol perbatasan antara Bogor-Ibukota sebuah mobil tengah melaju membelah udara pagi, orang yang ada dibalik kemudi tersebut tidak lain adalah Sang Dokter lulusan negeri Kanguru yaitu Jonathan mantan Rena yang berusaha merajut asa untuk kembali bersama putri dari keluarga Wijaya tersebut.
Seminggu setelah Nathan bertemu dengan Rena di kediaman Bi Ijah, pada hari minggu berikutnya dia kembali lagi ke desa yang jaraknya sekitar dua jam perjalan bila ditempuh dari ibukota, itupun kalau tidak dalam keadaan macet, Memang kali ini Nathan tidak akan ke kampung Tegal Bungur melainkan dia akan berkunjung ke kampung Padasuka yaitu tempat tinggal mantan terbaiknya Rena, begitulah yang dia dengar dari penuturan Mia senin kemarin.
Sesampainya di kampung Padasuka Nathan langsung memarkirkan mobilnya di halaman dekat Posyandu karena kendaraan roda empat tidak bisa masuk ke gang kampung tersebut, jadi terpaksa dia harus berjalan kaki sambil bertanya ke warga sekitar dimana tempat tinggal Rehan.
"Rumah yang sangat bagus, sederhana namun begitu terkesan megah perpaduan rumah khas dengan tata letak tanaman yang indah suasa asri perkampungan sangat terasa," gumam Nathan setelah memasuki halaman rumah orang yang dia tuju.
"Permisi...." seru Nathan kemudian setelah sampai di depan teras rumah Rehan.
"Silahkan, mau ketemu siapa?" balas Umi Kinan yang tengah menjemur rengginang di samping rumahnya.
"Eh ini Bi, saya mau ketemu dengan Pak Rehan, apa dia ada di rumah? apa Bibi ART di rumah pak Rehan ini?" ucap Nathan menghampiri Umi Kinan dan dia menyangka perempuan yang sudah paruh baya tersebut adalah pembantu di rumahnya Rehan.
"Ouh... Rehan, dia sedang tidak ada di rumah kayaknya pergi ke pabrik kerupuk yang ada di kampung sebelah atau mungkin ke ruko yang ada di kota kecamatan," timpal Umi Kinan tanpa tersinggung sama sekali dengan ucapan pemuda yang ada dihadapannya.
"Ouh... Begitu ya," ucap Nathan sedikit kecewa, tapi beberapa detik kemudian terdengar suara motor masuk ke halaman rumah tersebut dan orang yang mengendarainya adalah Zahra yang tengah membonceng putrinya.
"Eh ada tamu, apa udah dari tadi pak Dokter? tapi ngomong-ngomong ada keperluan apa?" tanya Zahra setelah mematikan mesin motornya dan menyalami Nathan tanpa menyentuh tangannya sama sekali, kemudian dia menghampiri Umi Kinan dan langsung mencium telapak tangan ibu mertuanya itu, juga di ikuti oleh Rena.
"Mak tadi Rina habis ngejual hasil kebun kita loch, dan ini uangnya hasil menjual," seru Rina yang begitu senang dan langsung menyerahkan uang ke pada Neneknya itu, sementara Nathan hanya menunduk malu karena dia tadi menyangka bahwa Umi Kinan adalah seorang pembantu.
__ADS_1
"Eh... Enggak baru beberapa menit yang lalu, nggak ada keperluan apa-apa kok, saya cuma mau bertemu dengan Rehan," ucap Nathan.
"Mau bertemu dengan suami saya?" tanya Zahra penuh selidik.
"Ada hal yang ingin saya bicarakan dengannya, tapi karena dia tidak ada saya pamit pulang saja ya, permisi ya Zahra, juga Ibu, maaf tadi saya kurang sopan,'' ucap Nathan pada Umi Kinan dan juga Zahra.
"Iya gak apa-apa, eh tapi Kok buru-buru pulang sich, nggak minun dulu?" timpal Umi Kinan menawari minum pada Nathan namun dia hanya menolak dengan sopan.
"Hmmz.. Kalau memang gak mau menunggu disini, lebih baik Pak Dokter menyusul saja ke gerainya suami saya yang ada di kota kecamatan," ucap Zahra sambil memberikan alamat padanya.
"Tsk... Jangan panggil saya dokter mulu napa biasa saja seperti Mia juga Audy yang manggil nama saya, kayak kita tidak pernah kenal saja, baiklah kalau begitu saya langsung ke sana, mari semuanya," ucap Nathan yang keberatan karena di panggil dokter terus oleh Zahra, lalu dia pun pergi dari rumah tersebut untuk bertemu dengan Rehan ditempat kerjanya.
"Iya hati-hati dijalan," timpal Umi Kinan.
"Bukan Umi, tapi dia itu seorang Dokter baru yang tugasnya di rumah sakit ibukota, dan juga dia itu pernah satu kampus dengan Zahra dan teman-teman," jawab Zahra, sementara Nathan telah kembali melajukan mobilnya menuju kota kecamatan dimana ruko tempat membuka usaha.
Hanya membutuhkan sekitar 15 menit saja untuk Nathan sampai ke ruko tersebut, itu karena Zahra begitu detail memberi alamat kepadanya, dia pun turun dari mobil dekat dengan gerai tersebut yang tampak ramai sekali meski hari ini adalah hari libur.
"Permisi Dek, apa pak Rehannya ada?" tanya Nathan pada kedua gadis penjaga gerai tersebut yang tengah meregangkan otot, karena tadi mereka cukup sibuk melayani pembeli yang cukup ramai.
"Eh, Kak Rehannya pergi sebentar nganterin televisi ke gang itu, paling sebentar 10 menit juga udah balik lagi, duduk dulu saja pak di kursi yang ada disamping, mau beneran ponsel ya pak?" timpal Jamilah sambil menunjuk ke sebuah gang yang tidak jauh dari tempat tersebut, lalu dia pun mempersilahkan Nathan untuk menunggu disamping ruko.
__ADS_1
"Ganteng ya, kayaknya orang bule dech," bisik Siti sambil senyum-senyum ketika melihat sosok Nathan yang memang berperawakan atletis dengan di tunjang wajah yang tampan dan juga putih bersih, Jamilah pun mengangguk tanda setuju dengan pendapat dari saudarinya tersebut, dirinya pun bergumam dalam hati andai dia punya suami yang kayak Nathan udah gateng kaya pula, betapa bahagianya hidup ini, tapi khayalannya buyar oleh tupukan tangan Siti yang cukup keras.
"Hayooo..... Lagi ngekhayalin kakak ganteng yang disana itu ya?" ucap Siti kemudian dia tertawa cekikikan karena mwlihat saudarinya terkejut.
"Ish ganggu aja," timpal Jamilah sebal karena imajinasinya menguap seketika akibat dari tingkah usil saudarinya itu.
Dan benar saja beberapa menit kemudian Rehan telah kembali, "Pak Rehan ya?" tanya Nathan memastikan, ketika Rehan sudah turun dari motornya.
"Iya betul, mau service elektronik ya pak?" timpal Rehan.
"Enggak, saya hanya ingin berbicara empat mata dengan anda, eh maaf perkenalkan nama saya Jonathan," ucap Nathan sambil mengulurkan tangannya dan langsung disambut oleh Rehan.
"Berbicara dengan saya?" tanya Rehan memastikan setelah melepas jabatan tangan dari Nathan tersebut, dia pun mengingat-ingat nama orang yang ada dihadapannya.
"Ouh... Apa dia orang yang tempo hari diceritakan oleh Zahra itu ya," gumam Rehan dalam hati.
"Iya, apakah anda sedang sibuk?" timpal Nathan.
"Tidak terlalu sich, baiklah mari kita bicara di halaman belakang saja," ucap Rehan dan dia pun mengajak Nathan ke halaman belakang ruko agar ngobrolnya lebih santai.
"Jamilah, tolong buatin minuman ya, eh mau minum apa bang?" seru Rehan kemudian dia bertanya pada Nathan.
__ADS_1
"Eh apa saja dech, maaf jadi malah ngerepotin," timpal Nathan, dia pun kembali terpukau dengan penataan tempat dibelakang ruko tersebut, meski halamannya tidak luas tapi cukup menyegarkan pandangan, karena selain ada kolam ikan mini yang di hiasi bongsai yang berjejer rapi ditepiannya dengan bunga-bunga warna-warni yang menghiasi, seperti memang disediakan untuk refleksi jiwa.