Asa Di Ujung Lembayung

Asa Di Ujung Lembayung
Kejadian Tak Terduga part 2


__ADS_3

Perkelahian antara pengawal Keiko dan gerombolan yang menghadang merekapun terjadi begitu sengit, bila ada orang biasa yang melihat perkelahian ini mungkin mereka akan takjub, karena perkelahian tersebut seperti layaknya film American ninja yang pernah populer ditahun 90an, selain baku tembak dengan pistol peredam suara. merekapun saling beradu suriken dan samurai.


Tapi karena kalah dalam jumlah dan harus melindungi putri Bos mereka, juga ternyata kemampuan musuh dalam bertarung sangat hebat, hingga membuat Yoshiro-san beserta anak buahnya terdesak.


"Yoshiro-san, lebih baik anda membawa pergi Nona Keiko, biar kami mengulur waktu untuk menahan mereka," seru anak buahnya memberi saran, dan dengan berat hati Yoshiro-san pun membawa pergi Keiko yang telah pingsan karena terkena sebuah suriken.


Yoshiro-san membawa Keiko pergi menjauh dari arena pertarungan untuk menyelamatkannya dari kemungkinan yang terburuk, hingga dia sampai disebuah pertigaan dengan jalanan yang cukup sepi.


"Kanan atau kiri, Nona Keiko apapun yang terjadi anda harus selamat," gumamnya seperti berbicara pada diri sendiri, sementara Keiko masih tidak sadarkan diri dan setelah menimbang dalam beberapa detik, Yoshiro memutuskan untuk membelokkan mobilnya ke kanan


Setelah cukup lama dia beristirahat, dia melihat sebuah mobil dibelakangnya, karena dia yakin bahwa mobil tersebut bukan musuh, Yoshiro pun mencoba meminta bantuan yang ternyata mobil itu adalah milik Rehan yang baru saja pulang dari membeli alat Elektronik second. (Flashback end).


***


Kini Rehan tengah mengendarai mobilnya dengan perasaan tak menentu, bagaimana tidak, kejadian tak terduga ini membuatnya terkejut, dimana sekarang dijok belakangnya terdapat seorang gadis berusia lebih muda dari adiknya yang tengah terluka dan tak sadarkan diri.


"Sayang, apa kalian sudah pulang dari sekolah?" tanya Rehan menelpon sang istri.


"Sudah, emang kenapa? rindu ya!" seru Zahra yang malah menggoda suaminya.


"Baguslah, jangan kemana-mana dulu, tunggu aku pulang," timpal Rehan yang tidak mempedulikan candaan istrinya itu dan langsung menutup telpon.


"Huh... Kok langsung ditutup? apa dia mau memberiku kejutan ya?" gumam Zahra yang salah mengartikan.


Setelah memasuki jalanan kampung Padasuka, Rehan buru-buru merapatkan mobilnya didepan garasi dan langsung turun, untuk bergegas membawa Keiko ke rumah, agar segera diobati oleh istrinya yang seorang tenaga medis.


Ketika dia menggendong seorang anak berusia belasan tahun dalam keadaan pingsan, tetangga yang berpapasan dengannya bertanya tentang Keiko, tapi Rehan hanya membalasnya bahwa gadis yang digendongnya adalah temannya Kinan yang terluka karena kecelakaan.


Sesampainya di pekarangan rumah, Zahra yang tengah menunggu kedatangan Rehan dengan perasaan ceria karena dia menyangka suaminya akan membawa sesuatu yang romantis.


"Eh, siapa itu abi? apa abi menabrak seorang gadis" tanya Zahra terkejut bercampur bingung, kenapa suaminya malah membawa seorang gadis yang terluka.


"Ceritanya panjang, sayang tolong obati luka dibahu kanannya," ucap Rehan setelah membaringkan Keiko di sofa yang cukup panjang.


"Sayang jangan disini, lebih baik bawa ke ruang perawatan, juga nanti bisa minta tolong bawa air hangat dan alkohol yang ada dikotak obat," seru Zahra yang jiwa seorang tenaga medisnya muncul dan dengan sigap segera memberi pertolongan pada Keiko.

__ADS_1


Setelah memindahkan Keiko, tanpa membantah sedikitpun perkataan dari istrinya, Rehan bergegas mengambil sesuatu yang disebutkan tadi, memang disamping ruang tamu terdapat ruangan khusus untuk perawatan, yang luasnya pun hampir sama dengan ruang tamu.


Lalu dengan cekatan Zahra menjahit luka dibahu dan setelah selesai, dia lantas memasang jarum infus pada tangan kanan Keiko yang masih terbaring lemah.


"Jadi bisa dijelaskan apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Zahra yang kini sudah berada disamping Rehan dengan menatap lekat kearahnya meminta sebuah penjelasan.


Rehan pun menceritakan dimana dia bertemu Keiko dan orang yang menyebut namanya Yoshiro ketika dia pulang dari wilayah kecamatan sebelah.


"Arrgh... Uhuk-uhuk,"


"Sepertinya dia sudah terbangun," ucap Rehan ketika mendengar suara diruangan sebelah.


"Hmmz... Ayo kita lihat dan ajukan sedikit pertanyaan padanya," timpal Zahra, mereka berdua pun bergegas melihat keadaan Keiko yang sudah siuman.


"Kore wa dokodesu ka? (Dimana ini)" gumam Keiko ketika dia terbangun dari pingsannya, sementara Rehan hanya mengernyitkan dahi karena dia tidak mengerti apa yang diucapkan Keiko.


"Anata wa watashitachi no ie ni imasu(kamu berada di rumah kami)" ucap Zahra menjelaskan dimana dia sekarang, karena dia cukup pandai dalam berbicara bahasa jepang ketika masa kuliah dulu.


"Naze watashi wa koko ni iru koto ga dekimasu ka? (Mengapa saya bisa berada di sini?)" tanya Keiko lagi.


Keiko pun menjelaskan secara rinci, dimulai dari pertama kalinya dia datang ke negara ini dan ketika dia bersikukuh untuk berlibur ke puncak sampai akhirnya dihadang oleh gerombolan yang berpakaian layaknya ninja.


***


Sebulan setelah peristiwa yang menimpa Keiko, Kini gadis jepang tersebut sudah kembali sehat dan dimana kini dia tinggal bersama keluarga Rehan, lebih tepatnya tinggal di rumah Umi Kinan.


"Kak Keiko, Ohayōgozaimasu," seru Rina yang sok, sok'an menyapa Keiko dengan bahasa jepang meski masih belepotan.


"Seramat pagi juga Rina-Chan," timpal Keiko menyapa balik Rina dengan bahasa indonesia yang sudah cukup lancar, meski dalam penyebutan hurup L nya seperti terdengar R semua.


"Eleuh-eleuh... Hebat ponakan ateu udah bisa bahasa jepang sekarang mah ya," seru Kinan yang baru saja muncul dari dalam rumah dengan membawa keranjang berisikan rengginang yang siap untuk di jemur, sudah tiga hari ini dia berada dirumah karena kegiatan kuliahnya tengah libur.


"Hai Keiko-Chan, apa pakaiannya sudah dijemur semua, kalau sudah kita ke konter Kak Rehan yuk," ajak Kinan pada teman sekaligus saudari barunya itu, memang dirinya sudah menganggap Keiko sebagai adik angkatnya, meski pada awalnya dia cukup terkejut karena ketika dia pulang ada seorang gadis yang berada dikamarnya, tapi setelah dijelaskan oleh Rehan dia pun memakluminya, bahkan sekarang dia jadi lebih akrab karena Keiko dan dirinya sefrekuensi dalam segala hal.


"Rina ikut ya Ateu," seru Rina sambil berlari menghampiri mereka, takut betul tertinggal.

__ADS_1


"Hmmz... Gimana Keiko apa kita bawa aja nich bocil?" tanya Kinan pada Keiko yang tengah menjemur rengginang, yang mana sekarang cemilan tersebut menjadi makanan favoritnya.


"Boreh aja, tapi kita harus ijin duru sama Zahra-san," timpal Keiko.


"Nah kamu dengar, Rina harus minta ijin dulu sama Umi, sana cepetan gih," ucap Kinan, lalu Rina pun berlari kecil dan dengan suara nyaringnya dia berteriak sambil masuk ke dalam rumah.


~


"Assalamualaikum," seru Kinan dan Rina berbarengan ketika mereka tiba di counter milik Rehan yang terlihat cukup ramai.


"Waalaikumsalam, ah kebetulan banget tolong dong bantuin beresin kertas ujian yang sudah difotocopy, soalnya nanti sore mau diambil sama pak guru Adi," timpal Rehan dan langsung menyuruh mereka membantu, Rina pun langsung nyelonong masuk dan mengambil cemilan yang menggantung di dekat etalase.


"Seramat pagi Rehan-san," ucap Keiko malu-malu setelah memarkirkan motor disamping ruko.


"Selamat pagi juga Keiko-Chan," timpal Rehan tersenyum hangat.


Baru sekitar satu jam lebih ketiga wanita muda itu membantu Rehan, beberapa mobil mewah merapat dekat ruko mereka dan sekitar hampir 15 orang turun serentak dari mobil mewah tersebut dengan pakaian setelan tuxedo.


Sekelompok orang-orang itu membuat pelanggang yang tengah membeli voucher terkejut, dan langsung buru-buru pergi setelah membayar dengan bisik-bisik menyertai langkah mereka.


"Selamat pagi Rehan-san, Ohayōgozaimasu Keiko-Chan, bagaimana kabar kalian semua?" tanya orang tersebut yang ternyata adalah Yoshiro-san dengan bekas luka dimata dan hanya memiliki satu tangan saja.


"Yoshiro-san..." seru Keiko langsung berlari keluar dan menghambur peluk padanya, Kinan dan Rina yang tidak mengetahui bahwa semua orang yang berpakaian serba hitam itu adalah pengawalnya Keiko, hanya menonton dan mendengarkan saja.


Setelah berbincang cukup lama dan menanyakan bagaimana mereka menemukan tempat Keiko berada, Yoshiro memberitahu bahwa gelang yang dulu dia berikan pada Rehan untuk dipakai oleh Keiko adalah alat pendeteksi khusus milik keluarga Benjiro.


"Rehan-san terimakasih telah menjaga dan merawat Nona Keiko selama hampir sebulan lebih, dan hari ini kami akan menjemput Nona Keiko kembali ke negaranya, jadi sebagai ucapan terimakasih kami akan berusaha memberikan apapun yang Rehan-san minta, selama bukan meminta memindahkan gunung fuji atau gunung lainnya kesini, karena itu sangat mustahil," ucap Yoshiro.


Rehan yang diberikan pilihan untuk menentukan hadiah apapun yang dia inginkan, sempat bingung dan ragu karena dia menolong Keiko, tidak sedikitpun terlintas ingin mendapatkan balasan hadiah ataupun semacamnya.


"Abi, Rina pengen liburan ke negara kak Keiko, Rina pengen lihat bunga sakura bermekaran, juga pengen lihat kuil yang kayak di anime itu," seru Rina sambil memegang tangan sang ayah.


"Jepang ya? bukankah Rena juga tinggal disana, bukankah ini adalah sebuah kesempatan langka?" gumam Zahra dalam hati.


"Ya sayang akupun sangat ingin sekali mengunjungi Negeri Sakura dan menikmati makan bento ditengah bergugurannya bunga sakura," ucap Zahra menyetujui keinginan putrinya, selain ada hal lain yaitu ingin bertemu dengan sahabat lama.

__ADS_1


__ADS_2