
Pukul sebelas siang di ujung bulan sembilan. Terik panas matahari diiringi hembusan angin yang begitu terasa menyengat, andai semua orang tak mempunyai rutinitas mungkin mereka lebih memilih rebahan sambil diajak muter-muter oleh kipas angin dari pada harus berpanas-panas ria dijalanan ibukota sambil terjebak mqcet pula, seperti yang tengah dilakukan oleh Keysa yang tengah fokus menatap keramaian jalanan dibalik setir kemudinya.
Meski biasanya pada bulan september hujan akan turun (makanya suka ada yang mengistilahkan september rain) tapi sepertinya tidak untuk tahun ini, karena sepertinya musim kemarau masih enggan beranjak, jalanan ibukota seperti biasa selalu dipenuhi oleh kendaraan-kendaraan baik mobil pribadi maupun angkutan umum lainnya, Keysa yang sehabis menginap di kampung TegalBungur langsung meluncur ke ibukota tapi tidak singgah ke rumahnya melainkan yang di tujunya sekarang adalah rumah sakit tempat bekerja Nathan.
"Tsk.... Lama amat nich lampu merah," gerutunya sambil terus memperhatikan traffic lights, dan baru saja dia berkata seperti itu lampu lalu lintaspun mulai berubah ke warna hijau, membuat uraian kendaraan mulai kembali bergerak.
Setelah sempat terjebak macet berkali-kali Keysa akhirnya tiba juga ditempat yang dia tuju, dan dia langsung bergegas turun dari mobilnya dan berjalan anggun menelusuri lorong bangunan rumah sakit yang tanpa sengaja dia bertemu dengan Audy yang tengah berjalan ke arah kantin.
"Kak Keysa?" seru Audy yang kaget melihat kakak dari temannya itu berada di tempatnya bekerja, dia sempat berspekulasi bahwa apakah Keysa akan menjadi dokter di rumah sakit tersebut.
"Hey, kau kan salah satu temannya Rena ya?" seru Keysa juga.
"Iya kak, ngomong-ngomong ada keperluan apa kak sampai jauh-jauh datang kemari? apa kak Keysa akan menjadi dokter spesialis disini?" tanya Audy.
"Tidak, aku hanya ingin bertemu dengan seseorang, apakah Jonathan hari ini masuk kerja?" timpal Keysa dan langsung balik bertanya, tapi belum sempat Audy menjawab seseorang dari belakang berseru yang mana membuat Keysa dan Audy langsung menoleh kearah sumber suara.
"Keysa Putri Wijaya?" Seru orang tersebut memanggil nama lengkapnya Keysa dan yang tidak lain adalah salah satu pemilik rumah sakit tersebut.
__ADS_1
"Nakula Diningrat?" Seru Keysa yang juga kaget melihat orang yang berseru memanggilnya ternyata adalah kawan lama yang pernah satu perguruan dengannya.
"Bagaimana kabarmu? makin bertambah usia malah makin cantik aja kau nich," ucap Nakula tersenyum sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
"Kabarku, ya beginilah seperti yang kau lihat sehat wal afiat, kabarmu sendiri gimana kayaknya dari penampilanmu kau ini sudah jadi seorang bos besar, kayaknya sekarang kau tidak lagi semata-mata bergantung pada kekayaan dan popularitas orang tuamu," timpal Keysa yang membalas uluran tangan dari teman lamanya tersebut.
"Ya kabarku pun baik-baik saja dan aku bersyukur karena masih diberi kesehatan sama yang Mahakuasa, hahaa.... Bisa aja kau ini, ya tapi harus ku akui memang sekarang aku tidak lagi bergantung pada orang tuaku lagi, lagi pula aku kan belajar dari mu juga," seru Nakula tertawa lepas, karena sangat senang bertemu kembali dengan salah satu teman satu gengnya dulu ketika masih di fakultas kedokteran, karena memang dirinya dan teman-temannya sudah sangat jarang sekali saling berkomunikasi dan hampir satu dekade lebih mereka belum pernah bertemu kembali karena kesibukan masing-masing.
Sementara Audy hanya diam terpaku menyimak obrolan mereka, karena dia cukup terkejut ternyata Keysa adalah teman dekatnya pemilik yayasan rumah sakit tempat dia bekerja.
"Ya, kalau aku akan melamar kerja disini apa kau bersedia menerimanya?" timpal Keysa membuat Nakula dan Audy menganga karena terkejut.
"Serius?" seru Nakula dan Audy bersamaan.
"Hehee.... Bercanda, aku hanya mencari seseorang yang bernama Jonathan Alfarizi katanya dia seorang dokter disini," ucap sambil tertawa karena melihat ekspresi kedua orang tersebut.
"Haa... Ku kira beneran, aku sempat bingun harus membayar gaji seorang dokter terkenal macam kau nih, tapi ada keperluan apa kau dengan Dokter Nathan?" tanya Nakula setelah dia meredakan keterkejutannya, sementara Audy yang juga belum beranjak dari sana, dia juga ikut penasaran dengan maksud perkataannya itu.
__ADS_1
"RA-HA-SIA," ucap Keysa mengeja kata sambil tersenyum menahan geli karena melihat wajah sebal temannya itu.
"Ish.... Malah rahasia-rahasian," timpal Nakula sambil menyerang Keysa dengan mencoba menggelitikinya pinggangnya, tapi Keysa berkelit sambil tertawa, Audy yang melihatnya sangat begitu heran.
"Apa mereka tidak ingat umur ya? kelakuan kayak anak kecil gitu, tapi tidak disangka Kak Keysa yang selalu terlihat elegan dan penuh wibawa di depan pak Nakula dia berubah menjadi seperti lebih bisa mengekspresikan diri dengan bercanda," gumam Audy dalam hati, dia lupa padahal sedingin apapun seseorang bila bertemu dengan sahabat dekat, seseorang akan bisa bertingkah konyol apalagi bila sudah lama tidak pernah bertemu.
Tidak lama kemudian Nathan menghampiri mereka yang sebelumnya di telpon oleh Nakula, karena pada dasarnya hari ini dia masuk shif sore, "Nah tuh Dokter Jonathan, karena aku ada keperluan di cabang rumah sakit lainnya dan sebentar lagi akan pergi, jadi silahkan lanjutkan perbincangan kalian," ucap Nakula dan setelah menyalami keduanya dia pun pergi, sementara Audy sejak tadi sudah beranjak dari tempat tersebut, karena masih waktu tugasnya.
"Jadi apa kau serius akan menikahi adik saya?" tanya Keysa to the point.
"Iya Kak," jawab Nathan singkat tapi tegas.
"Jawaban yang sungguh meyakinkan, baiklah aku menyetujuinya, tapi jangan pernah kau sakiti dia apabila kau sudah tidak cinta lagi lebih baik kau kembalikan lagi padaku, karena aku tidak mau adikku itu kembali mengalami rasa kecewa yang amat dalam untuk kedua kalinya," ucap Keysa tidak kalah tegas.
"Tidak, insyaallah saya tidak akan menyakitinya apalagi Rena adalah cinta pertama saya, dan juga sayapun pernah merasa kehilangannya lalu sayapun pernah ditinggal seseorang yaitu istri pertama saya yang telah meninggal ketika melahirkan anak pertama kami, jadi saya akan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan Rena," timpal Nathan.
"Hmmz... Baiklah aku percaya padamu, dan aku akan segera memberitahu Papa, tapi kau harus bersabar sebentar lagi, karena Papa pun tidak tau bahwa Rena masih hidup setelah insiden yang dialaminya dulu," ucap Keysa dan Nathan pun menyetujui syarat tersebut.
__ADS_1