Asa Di Ujung Lembayung

Asa Di Ujung Lembayung
Diskusi Dengan Mertua


__ADS_3

Air mata merembas deras dari sudut mata bak sebuah tanggul air yang hendak jebol kapan saja, beberapa lembar tissue pun sudah tercecer dibawah meja bekas aliran air yang membasahi pipi ibu dari mantan istrinya Nathan tersebut, tapi dirinya tetap menganggap kedua orang yang ada didepannya sebagai orang tua sendiri.


Drama ini terjadi ketika sepulang dari mengajak Amira jalan-jalan di taman hiburan, Pak Albert dan istrinya pun baru saja datang ketika hari mendekati malam, pada awalnya terlihat baik-baik saja dengan saling bertanya kabar.


"Mah Pah, saya berniat membawa Amira ke dari sini untuk tinggal bersama saya disana," ucap Nathan pada kedua pasangan suami-istri tersebut, sementara Amira sudah sejak tadi berada di kamarnya tertidur pulas mungkin kecapean habis bermain dengannya.


"Tidak Mamah tidak setuju, Amira adalah cucu Mamah, Mamah tidak ingin berpisah dengannya karena Mamah dan Papah sangat menyayanginya," ucap Istri Pak Albert yang langsung menolak permintaan dari mantan menantunya


"Sangat menyayangi, tapi kalian malah jarang ada dirumah bahkan pulang pun sampai malam begini, perasaan kafe dan restoran ketika aku kelola pun sangat ramai, tapi aku tidak pernah pulang sampai malam begini, menurut para Asisten Rumah dan Baby Sister tadi, kalian jarang sekali pulang, sesibuk itukah bisnis yang aku kembangkan itu sekarang?" ucap Nathan dalam hati, dia tak ingin mengatakan pada mereka secara Langsung, karena khawatir tersinggung dan itu akan berakibat pada orang-orang yang bekerja di rumah ini.


"Tapi Mah, Amira pun sangat senang saat aku membicarakan bersamanya tadi-," timpal Nathan tapi sebelum dia menyelesaikan kalimatnya Pak Albert keburu memotong pembicaraannya.


"Hey Nak, kau tau sendiri Amira lahir dan tumbuh di sini juga dia sudah bersekolah di taman kanak-kanak, seumpamanya kau membawanya pergi ke negaramu, apa tidak kasihan bila dirinya harus menyesuaikan diri dengan lingkungan, budaya dan juga bahasa di sana?" Ucap Pak Albert.


Nathan terdiam sejenak, Karena bagaimanapun juga itu masuk akal, "Ya memang benar apa yang dikatakan Papah, pastinya butuh waktu untuk Amira belajar menyesuaikan hal tersebut, tapi asal papah tau Amira adalah anak yang cerdas, jadi jangan khawatir dia pasti dengan cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya," Timpal Nathan dengan ekspresi yang begitu yakin terhadap putrinya tersebut.

__ADS_1


Suasana hening pun sejenak menyelimuti mereka tak ada sepatah kata pun yang keluar, semuanya masih terdiam dengan pikirannya masing-masing.


"Tidak, untuk sekarang aku tidak boleh menyerahkan Amira pada Nathan, aku takut kalau hal itu terjadi dirinya akan langsung mengambil kembali bisnis yang sudah dia serahkan pada kami, tidak, tidak aku tidak mau, aku tidak mau kembali menjadi seorang buruh seperti dulu lagi," ucap istri Pak Albert dalam hati.


Dirinya takut apa yang dia pikirkan akan terjadi, karena mereka sudah merasa sangat nyaman dengan keadaan saat ini yaitu keuangan yang stabil dan harta yang sangat lebih dari cukup serta bisnis yang tinggal mereka jalankan saja, apalagi sekarang dirinya sudah cukup akrab dengan ibu-ibu sosialita, karena derajatnya sudah bisa dianggap sudah setara untuk bergaul dengan mereka.


"Apapun alasan mereka, aku akan tetap berusaha membawa Amira bersama diriku, aku tak ingin putriku tumbuh tampa perhatian dari orang tua, apalagi sejak masih bayi dirinya tidak pernah mendapat kasih sayang seorang ibu, tadinya aku percaya pada mereka bahwa akan merawat Amira dengan baik, ketika mereka memohon untuk tidak membawanya waktu, tapi nyatanya jauh panggang dari api," gumam Nathan dalam hati.


"Baiklah, seandainya Amira pergi bersamamu, bukankah nantinya kau disana harus pergi ke tempat dinasmu itu berarti kau akan jarang berada di rumah, aku tau kau akan menitipkannya pada ayah dan ibumu, tapi bukankah mereka tidak terlalu pandai berbicara bahasa inggris, itu akan sangat merepotkan mereka dalam berkomunikasi," ucap Pak Albert memecah keheningan.


"Iya itu memang masuk akal, tapi saya tidak mau Amira tumbuh dengan rasa kesepian, karena katanya Papah dan Mamah sangat sibuk akhir-akhir ini dan sangat jarang berada di rumah bukankah itu sama saja?" ucap Nathan, mendengar perkataan dari menantunya itu, membuat Istri pak Albert mengeratkan gigi menahan kesal, dia mulai berpikir jangan-jangan artnya yang memberitahu hal tersebut.


"Hmmz... Baiklah aku akan mulai mengatakan hal sebenarnya, saya akan menikah lagi dan saya telah bertunangan bulan lalu dan akan melaksanakan pernikahan akhir tahun ini dan Amira pun tadi sudah saling menyapa, dia sangat senang dan ingin segera bertemu dengan ibu sambungnya nanti," lanjut Nathan sontak perkataan tersebut membuat kedua pasangan itu terkejut.


"Apa maksudmu, kau mau menikah lagi? Sebegitu mudahkah kau melupakan Maria yang telah memberimu seorang putri?" seru istrinya Pak Albert yang tidak terima anaknya dilupakan begitu saja, meski aslinya yang dia khawatirkan adalah bisnis pemberian Nathan akan diambil kembali, yaitu bisnis restoran dan kafe yang diberikannya ketika mereka berjanji akan merawat dengan baik cucu mereka.

__ADS_1


"Bukan begitu, saya mencintai Maria dan sangat bersyukur karena dia pernah menjadi istri dan memberikan putri yang sangat cantik-," ucap Nathan mencoba menjelaskan.


"Cukup.... Oke Papah mengerti dan Papah juga tau kau tidak pernah mengkhianati Putri kami, lagi pula kau masih muda dan berhak bahagia, jadi papah hargai keputusanmu," timpal Pak Albert yang memotong penjelasan dari mantan menantunya, tapi istrinya langsung mendelik sebal padanya, karena sangat kecewa dengan apa yang dikatakannya itu.


"Tapi, Papah hanya meminta satu hal padamu, mungkin ini kesannya kami sedikit mengemis, kami mohon padamu untuk tidak mengambil kembali bisnis yang telah kau berikan pada kami, karena kau tau adik-adiknya Maria sekarang semuanya sedang melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi dan itu semua membutuhkan biaya yang tidak sedikit," lanjutnya lagi dan mengungkapkan keresahan sebenarnya, meski dia sangat malu untuk mengatakan hal tersebut, tapi mau tidak mau dia harus mengatakannya.


Sementara istrinya hanya tertunduk karena menahan malu dengan apa yang di katakan suaminya, padahal dia tau suaminya berbicara seperti itu bukan hanya untuk anak-anak mereka tapi juga dirinya.


"Jangan khawatirkan itu semua Pah, mah, sejak awal Nathan memberikan pengelolahan semua restoran dan kafe yang berada di kota ini kepada Papah dan Mama itu adalah bentuk dari rasa terimakasih Nathan pada keluarga ini, jadi mana mungkin Nathan mengambilnya kembali, juga Nathan berjanji bahwa setiap setahun sekali akan berusaha berkunjung kemari agar tali silaturahmi kita tetap terjalin," ucap Nathan dengan serius, hal tersebut membuat keduanya merasa senang dengan apa yang dikatakan oleh menantunya itu, karena hal tersebutlah kekhawatiran terbesar mereka.


#yuks kasih dukungan dengan cara like or comen atau biar mimin semangat updetnya bisa beri hadiah bunga atau vote.


#Dan biar gak bosen nungguin part selanjutnya, mimin ada Rekomendasi novel yang tidak kalah menarik, yuk cekidot.


__ADS_1


__ADS_2