Asa Di Ujung Lembayung

Asa Di Ujung Lembayung
Mengantar Sekolah


__ADS_3

Suatu saat nanti, kamu akan paham, bahwa memilih pasangan itu bukan tentang rupa, melainkan juga tentang siapa yang menemani ibadahmu, hingga menutup mata (Anonim)


Sebelum fajar shadiq terbit, seorang istri tengah sibuk menyiapkan segala sesuatu di dapur bahkan cucian pun sudah beres tinggal dijemur kala mentari sudah sempurna menampakkan diri, lalu perlahan dia menuju tempat peraduannya, untuk membangunkan sang suami yang sepertinya masih terlelap dalam mimpi.


"Abi sayang cepet bangun, bentar lagi waktunya adzan shubuh," ucap Sang istri membangunkan penuh kasih dengan memegang pundak sang suami.


"Hmmz... Iya Umi tercinta, dari tadi juga udah bangun kok," timpal sang suami sambil meregangan tangannya.


"Ih, bohong banget, ilernya juga masih deras mengalir kayak sungai yang habis banjir," ucap Sang istir yang tak lain adalah Zahratunnisa yang kini sudah terbiasa bangun sebelum adzan shubuh berkumandang.


"Eh masa, ah mana ada iler, kan aku mah bebas dari ileran," timpal Rehan sang suami yang terkenal baik hati, tidak sombong dan rajin menabung, lantas dia pun beranjak dari tempat tidur dan bergegas ke kamar kecil untuk mengambil air whudu, agar tidak ketinggalan sholat shubuh berjamaah.


Setelah memastikan suaminya sudah bangun, Zahra pun bergegas keluar rumah untuk memastikan penghuni disamping rumahnya, yaitu rumah mertuanya sudah bangun apa belum.


"Assalamualaikum Umi," serunya dari luar pintu.


"Waalaikumsalam, ada apa Neng," timpal Umi Kinan dari dalam dan langsung membuka pintu.


"Eh, enggak Umi, kirain belum bangun, ada yang bisa Zahra bantu Umi?" tanya Zahra pada mertua tunggalnya itu, memang jarak rumahnya dengan rumah Umi Kinan hanya menghitung langkah saja, dan semenjak Rehan sukses sebagai pengusaha counter sekaligus montir bengkel elektronik, diapun tak lupa memperbaiki rumah tempat dia dilahirkan dulu.


"Ouh.. Enggak udah beres dari tadi juga, tinggal dimasukin ke toples doang, emang kamu udah beres pekerjaan rumahmu?" ucap Umi Kinan balik bertanya.


"Beres Umi, kan Zahra mah pekerjaan rumahnya cuman sedikit," ucap Zahra tersipu karena tadinya dia berniat membantu sang mertua tapi ternyata semuanya sudah kelar, memang dalam hal bangun pagi Umi Kinan selalu juaranya karena bahkan sebelum jam empat sekalipun beliau sudah bangun, maka dari itu kebiasaan tersebut menular pada anak-anak dan sekarang pada menantunya.


~


Jam menujukan setengah enam lewat, si kecil yang sudah mulai aktif pun bangun dari tempat tidurnya dan berlari ke ruang tengah.


"Umiii, Kok gak bangunin Rina sich, kan Rina juga pengen sholat shubuh di masjid bareng Abi," serunya protes pada sang ibu.

__ADS_1


"Aduh masa sich Umi gak bangunin, padahal Umi udah ngetuk pintu kamar Rina loh, udah nanti dulu protesnya, lebih baik sholat dulu gih, nanti keburu siang, nanti sholatnya harus pake payung lagi, biar disangka masih gelap" ucap Zahra tersenyum mencoba mengelak, memang sudah dua bulan ini Rina memilih tidur sendiri di kamarnya.


Terlepas dari segala protes yang diajukan oleh Rina, mereka pun kini tengah menikmati sarapan pagi bersama Umi Kinan, diteras rumah itulah yang selalu mereka lakukan sebelum memulai kegiatan sehari-hari.



"Rinaa, ayo kita berangkaat," seru Zahra sesudah mereka menyelesaikan sarapan pagi.


"Iyaa Umi, Mak.... Rina berangkat sekolah dulu ya, Assalamualaikum!" seru Rina pada Umi Kinan yang tengah bersiap menjemur kerupuk mentah.


"Iyaa... Hati-hati Neng, Waalaikumsalam," timpalnya Umi Kinan sambil menyambut tangan cucu untuk mencium punggung telapak tangannya.


Sementara Rehan yang sedang mempersiapkan peralatan untuk dibawa ke rokunya nanti, tersenyum-senyum sendiri melihat pemandangan tersebut.


"Yaa Rabb... Terimakasih ku ucap syukur atas mata yang masih melihat wajah-wajah yang selalu ceria, atas nafas yang masih bisa menghirup udara pagi yang menyejukan, atas pendengaran yang masih sehat dengan masih mendengar tawa bahagia orang-orang yang aku cintai, Allamdulillah Yaa Allah, Engkau telah pertemukan aku dengan orang-orang yang telah menyuguhkan lelap dalam tidurku, dan menghadirkan kebahagian ketika bangunku," gumam Rehan dalam hati.


"Iya dekat ini juga kan? ups berat juga ternyata ya putri kecil Umi ini," ucap Zahra sambil mengangkat Rina dengan dua tangannya.


"Ahahahahaa..." seru Rina tertawa menjerit karena geli akibat sewaktu diangkat tubuh kecil oleh Umi, sempat-sempatnya jari Zahra itu menggelitiki sang Putri.


"Ayolah.. Berhentilah teriak," ucap Zahra memasang wajah tanpa dosa tapi dalam hatinya dia sangat senang dan menahan tawa saat menggangu putrinya tersebut.


"Ish... Inikan salahnya Umi," protes Rina setelah sempurna duduk di jok belakang sepeda, Rehan yang hanya mengamati dua perempuan yang dia sayangai tengah bercanda hanya menggelengkan kepala, karena dalam benaknya, dia merasa heran dan berpikir, apa mungkin kedua ibu dan anak itu tertular jahilnya dari si Kinan adik satu-satunya itu.


"Ayo berangkat sekarang, nanti telat lagi," ucap Zahra kembali, yang pura-pura tidak dengan protes yang dilayangkan Rina.


"Oke, berangkaatt," seru Rina, baru saja Uminya mengayuh sepeda, ide jahil terbesit dari benak Rina kecil, karena melihat peluang pinggang sang ibu bebas tanpa pertahanan.


"Hehehee... Rasakan ini, ups.." gumamnya sambil tersenyum dan siap menggelitiknya dari belakang, tapi sang ibu tidak menghentikan laju sepedanya dan terus mengayuh.

__ADS_1


"Hey.. Sayang bukankah itu sedikit berbahaya?" peringat Zahra.


"Eh, Umi gak geli sama sekali ya?" tanya Rina heran tak ada reaksi sama sekali darinya.


"Ya itu masih tidak cukup terasa geli sama sekali," timpal Zahra.


"Huh" Rina pun memasang wajah kecewa karena tidak berhasil membalas kejahilan sang ibu.


"Tapi, itu akan berhasil pada Abimu," ucap Zahra memberikan saran pada sang putri.


"Benarkah, hmmz... Nanti Rina coba dech," Seru Rina senang.


"Tapi, kau tau itu akan sangat berbahaya bila dilakukan saat mengendarai," ucap Zahra memperingati.


"Ugh... Udara pagi memang sangat menyegarkan, Hey Kakak selamat Pagi," ucap Rina sambil merentangkan kedua tangannya, lalu dia berseru menyapa ketika melihat kedua anak SD, yang juga tengah mengayuh sepedanya, mereka pun hanya membalas dengan senyum.


~


"Hey Nak kau belum berangkat?" tanya Umi Kinan ketika melihat putra sulungnya masih duduk santai diteras rumah.


"Iya Umi, soalnya mau ke kecamatan tetangga dulu, ada pelanggan yang ingin alat-alat elektroniknya mau dijual pada Rehan, jadi nanti bukanya agak siangan," ucap Rehan.


Setelah menghabiskan kopi paginya, dia pun beranjak dari tempat duduk, untuk bersiap berangkat kerja.


"Umi, Rehan berangkat dulu ya, Assalamualaikum.." seru Rehan pamit pada ibunda tercintanya.


"Iyaa... Hati-hati dijalan, Waalaikumsalam," timpal Umi Kinan setengah berteriak karena dia berada di dapur.


Setelah pamit Rehan pun bergegas berjalan ke depan gang untuk membawa mobil yang dia parkir dekat samping pintu masuk gang, karena mobilnya tidak dapat dimasukkan kedalam gang, dia pun membeli tanah yang luasnya cukup untuk membangun sebuah garasi mobil dengan kapasitas cukup untuk dua kendaraan roda empat.

__ADS_1


__ADS_2