Asa Di Ujung Lembayung

Asa Di Ujung Lembayung
Ungkapan Kepedihan


__ADS_3

Marahnya orang sabar adalah diam, kecewanya orang sabar adalah pergi. (Anonim)


~


Setelah saling menyapa dengan Bi Ijah, Keysapun diajak untuk mampir ke rumah tempat tinggal Rena sekarang, dia cukup terkejut dengan gubuk yang mana menurutnya sangat begitu sederhana sekali.


Lalu Bi Ijah menceritakan bagaimana bisa Rena sekarang tinggal bersamanya, dan dia pun melirik kearah adiknya itu seolah meminta penjelasan yang lebih detail, Rena pun menceritakan nasib rumah tangganya bersama dengan Niko dan bagaimana sahabat serta mantan kekasihnya itu, menolong dirinya yang hampir putus asa dalam menjalani kehidupan, hingga membuat dirinya kehilangan kendali atas diri sendiri bahkan akal sehatnya sempat tercabut dari jiwanya, yang mana membuatnya sempat mengalami gangguan mental.


Keysa yang mendengar penuturan tersebut, tidak terasa membuatnya menitikan air mata, karena bagaimanapun dia dan ayahnya tidak dapat melakukan apapun, bahkan saudara-saudaranya menganggap adik mereka itu sudah meninggal pasca mengetahui insiden Niko yang terlibat dengan anggota Yakuza setempat.

__ADS_1


"Maafkan Kakakmu ini dan juga Papa serta dua saudara laki-lakimu, karena tidak bisa menjaga dan melindungi dirimu, jadi sekarang mari kita pulang ke rumah bersama hari ini, Papa dan yang lainnya pasti akan senang bahwa kau masih sehat," ucap Keysa mengajak adiknya itu pulang kembali.


"Tidak untuk sekarang atau mungkin selamanya, karena untuk saat ini dihati dan pikiran saya, seperti merasa telah kehilangan saudara-saudara sepersusuan saya, semua terasa sangat menjauh dan tak bisa lagi dijangkau ataupun kugapai, karena saat diri ini terlantar dan terlunta-lunta di negeri orang, saya sempat bertanya-tanya dimana saudara-saudari saya saat itu, yang mana kala itu saya sangat membutuhnya," ucap Rena kecewa.


"Karena bagaimanapun ini semua akibat keegoisan kalian memaksa saya harus menerima pernikahan dengan orang yang tidak saya kenal, bahkan sepertinya kalianpun tidak mengenal sama sekali tabiat dari orang tersebut, yang kalian pedulikan hanyalah pandangan terhormat saja, saya muak dengan semua itu, jadi kenapa saya harus ikut pulang dengan anda?" lanjut Rena panjang lebar, hatinya begitu bergemuruh rasa sesak didadanya seolah berbuncah tak tertahankan, bola matanya menatap halaman depan seolah sedang menerawang jauh ke pengalaman pedih beberapa tahun silam.


Matanya mulai berkaca-kaca mengingat masalalu, perihal kenangan yang telah berlalu, yang mana dia berusaha mencintai meski tak dicintai dan malah mendapatkan perlakuan kurang baik yang tidak semestinya, tanpa tau harus mengadu kepada siapa dikala itu, tapi dia terus berusaha demi sebuah keutuhan sebuah keluarga, tapi apa daya pada akhirnya itu hanya meruntuhkan akal dan jiwanya.


Seperti sebuah pepatah mengatakan, hargailah selagi ada, karena bila hati seseorang sudah terlalu lelah dan terluka terlalu dalam, sekeras apapun usahamu agar semua membaik seperti sediakala, terkadang itu hanya akan menjadi sia-sia belaka.

__ADS_1


"Maafkan kami, bagaimanapun juga kami sempat mencarimu waktu itu, tapi kesibukan kami juga saat itu sangat padat, apalagi kami menyerah setelah tau kau dan suamimu itu berurusan dengan salah satu kepala genk terkejam di dunia itu, dan kami juga mendengar desas-desus bahwa Niko telah meninggal,"


"Maka dari itu kami berspekulasi bahwa kau juga telah tiada, agar kami tak cemas dengan keadaanmu, jadi mari kita pulang bersama agar kami bisa menebus kesalahan yang telah lalu, kali ini kami akan berusah memperlakukanmu dengan baik," Ucap Keysa sambil memegang tangan adiknya itu, namun Rena langsung melepaskan tangan tersebut.


"Hmmz... Begitukah? tapi sejak hari itupun saya mengerti, jadi Tak perlu anda risau dimana saya tinggal sekarang, karena beberapa hal akan menjadi terasa asing yang kadang membingungkan, sejujurnya saya lelah meski disana bangunannya begitu megah bak istana, tapi bagi saya bagai ruang sempit yang terus menghimpit membuat hati ini sakit, sudah cukup dulu saya merasakannya,"


"Meski rumah tak sebagus istana megah kalian, tapi disinilah sekarang saya merasa nyaman dan hati saya menemukan ketentraman, saya sudah bahagia ditempat ini, anggap saja Rena yang kalian kenal memang sudah meninggal seperti dugaan kalian sebelumnya," timpal Rena dengan intonasi yang begitu dingin nan menohok, yang mana membuat Keysa tidak bisa berkata-kata lagi.


Keheningan terjadi setelah tak ada lagi kata-kata yang terucap dari kedua kakak-beradik itu, Keysapun menjadi segan untuk berbicara membujuknya pulang kembali, karena sepertinya adiknya itu sudah sangat kecewa dengan dirinya dan keluarga sendiri, bahkan saat bicara dengannya pun dia tidak menyebut nama apalagi memanggilnya kakak pada dirinya.

__ADS_1


"Maaf bukannya saya tidak sopan, tapi bila tak ada lagi hal lain yang hendak dibicarakan, saya mohon pamit dulu, karena saya harus mengantarkan sayuran yang kami petik tadi pagi untuk dibawa ke pasar, jadi saya permisi dulu, tapi bila anda berkenan, anda bisa istirahat sebentar disini, meski keadaanya tak sebagus rumah anda," ucap Rena yang langsung pergi ke belakang rumah untuk mengambil sayuran yang dia dan Bi Ijah petik tadi pagi sebelum berangkat ke pabrik kerupuk milik Rehan untuk pengarahan kerja besok dan Keysa hanya mengangguk mempersilahkan tanpa berkata apapun.


__ADS_2