
"Jadi apa yang ingin kau coba jelaskan? padahal aku sudah memaafkan dan melupakan semua tentangmu yang pernah meninggalkan ku dan berpaling ke perempuan yang kau anggap lebih modis juga lebih kaya dari diriku, kenapa kau kembali, apa hanya untuk mengasihani keadaanku sekarang?" tanya Rena setelah mereka berada di teras belakang rumah Bi Ijah.
"Itu tidak seperti yang kau tuduhkan, mungkin kau tidak akan percaya, butuh waktu lama agar aku ikhlas tuk melepasmu, tapi dulu aku tak berani mengatakan yang hal sesungguhnya, karena saat itu kaulah segalanya bagiku, kaulah curahan hatiku jadi mana mungkin aku bisa melupakanmu dengan mudahnya, karena waktu itu tiada lagi yang kuharap selain dirimu dan mungkin rasa itupun masih tetap ada sampai sekarang," ucap Nathan mencoba membela diri atas apa yang pernah terjadi diantara hubungan mereka kala itu.
"Tsk... Begitukah? asal kau tau sebagian perempuan itu sulit sekali menyerah pada cintanya, tapi sekalinya menyerah kamu akan hilang dalam hatinya, mungkin yang tertinggal hanyalah rasa kecewanya saja, jadi apa yang sebenarnya yang ingin kau jelaskan?" timpal ketus Rena sambil langsung menanyakan hal yang ingin dia sampaikan.
"Hmmzz.. Sebenarnya, dulu saat aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita, itu adalah atas kehendak keluargamu, karena tanpa sepengetahuanmu, aku diundang oleh saudara laki-lakimu yang bernama Rudy dan satu lagi aku lupa namanya, mereka menyuruhku untuk datang ke rumahmu yang begitu megah itu," ucap Nathan sambil berusaha mengatur napas yang masih cukup berat karena jarak dari depan gapura ke rumahnya Bi Ijah cukup jauh.
"Dan kau tau sesampainya aku disana, mereka menanyai dari keluarga mana aku berasal dan ketika aku berkata jujur bahwa aku memang bukan dari keluarga kaya seperti keluargamu, dan saat itu juga mereka menyuruhku untuk menjauhi dirimu, karena aku masih kurang pantas bagi adik bungsu mereka," lanjut Nathan, sementara Rena hanya menghela napas berat mendengar pernyataan tersebut, dalam hatinya dia memaki karena ternyata bukan hanya Rehan saja yang mendapat perlakuan tersebut, meski penghinaan terhadap Nathan tidak sebanding dengan apa yang pernah dialami oleh pemuda terbaik yang pernah dia jumpai itu.
"Hmmz... Maafkan atas apa yang pernah dilakukan oleh keluargaku dulu," gumam Rena pelan sambil menundukan kepalanya.
"Tak apa itu juga sudah berlalu begitu lama, yang ingin ku tanyakan adalah kenapa kau berada di daerah perkampungan? meski sekarang aku tau bahwa keluargamu tidak sesuperior dulu, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Nathan.
"Panjang ceritanya, dan juga kau juga tidak perlu harus tau juga kan?" timpal Rena, suasa lengangpun kembali menghampiri.
"Ya karena tidak ada hal yang harus kita bicarakan lagi, aku kembali ke depan duluan ya," ucap Rena kemudian sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Tungguu...." Seru Nathan sambil menahan lengan Rena, seolah dia takut perempuan tersebut akan pergi jauh, sementara Rena hanya menatapnya heran, mau apalagi ini orang, seperti itulah raut wajah yang tersirat di dirinya saat ini.
"Baiklah karena kau tidak ingin menceritakannya aku tidak akan memaksa, tapi aku hanya ingin bilang apakah kau mau menjalin hubungan seperti dulu lagi, meski mungkin kita tak semuda dulu, dan kali ini aku ingin membina rumah tangga bersamamu," ucap Nathan dengan tatapan serius, sontak pernyataan tersebut membuat Rena sangat terkejut.
"Apakah kau serius dengan ucapanmu itu? bagaimana nanti dengan keluargamu, karena statusku bukan lagi seperti dulu?" timpal Rena setelah mengendalikan rasa terkejutnya.
"Aku serius dengan kata-kataku dan aku tidak peduli dengan statusmu saat ini, dan asal kau tau akupun pernah menikah dan sekarang statusku juga seorang singel parent dengan satu anak dari pernikahanku yang pertama, istri meninggal ketika melahirkan anak pertama kami," ucap jujur Nathan, dia menjelaskan tentang kematian istrinya agar Rena tidak berburuk sangka kepadanya, bahwa dia tidak meninggalkan istri begitu saja demi kembali pada dirinya.
"Hummmzz... Tapi aku tidak bisa menjawabnya sekarang, jadi mohon beri waktu aku untuk berpikir," timpal Rena sambil melepaskan tangannya dari genggaman Nathan.
__ADS_1
"Baiklah, itu terserah padamu, aku akan menunggu jawabanmu kapanpun kau siap, tapi bolehkah aku berkunjung ke sini lagi lain waktu," ucap Nathan dan dia hanya mendapat anggukan dari Rena, tapi itu sudah cukup baginya sebagai jawab tersebut.
Sementara di depan rumah Bi Ijah sudah ada Zahra bersama Rina yang baru saja datang, "Zahra.... Bagaimana kabarnya? eh ada si cantik juga," seru Rena setelah kembali dari halaman belakang, dan langsung memeluk sahabatnya itu.
"Alhamdulillah sehat, kau sendiri bagaimana dan apa betah kerja di rumah produksi kerupuk, kalau tidak betah di sana Bu Kepala Puskesmas menawarkan kau kembali bertugas sebagai bagian administrasi," ucap Zahra setelah mereka melepas peluk.
"Tidak terimakasih atas tawarannya, tapi aku masih betah disana selain dekat dengan rumah dan bisa bercengkrama dengan tetangga, aku sudah lama tidak bergelut di bidang tersebut, jadi aku takut membuat kesalahan," timpal Rena.
"Hmmz... Baiklah kalau begitu itu terserah padamu, aku hanya menyampaikan apa yang dikatakan oleh Bu kepala Puskesmas, eh bukankah dia itu Jonathan ya?" ucap Zahra dan dia cukup kaget dengan orang yang baru saja muncul dari belakang rumah Bi Ijah.
Sepanjang hari itu, mereka semua hanya mengadakan acara masak-masak atau orang kampung biasanya menyebut liwetan, sementara Nathan sudah lama pergi dari rumah tersebut, setelah hanya melihat Rena dan teman-temannya menikmati hidangan ala kampung sederhana namun penuh makna.
Sang Mentari menyinari alam semesta nusantara menyambut hari senin yang mulai tiba dengan segala kesibukan masing-masing yang dilakukan oleh setiap insan yang tengah mengembara di dunia yang fana ini.
"Hey tunggu," seru Mia sambil berlari kecil, karena dia baru saja melihat Nathan yang keluar dari ruang IGD.
"ada apa? eh ternyata kau Mia," timpal Nathan sambil menoleh ke arah sumber suara dan ketika dia berbalik, ternyata yang memanggilnya adalah teman baiknya Rena.
__ADS_1
Setelah menghampiri Nathan, Mia pun mengajak berbicara empat mata dengannya di kantin rumah sakit tersebut.
"Jadi, benarkah kau mengajak Rena untuk menjalin cinta kembali?" tanya Mia to the poin setelah mereka memesan minuman, dia mengetahui permasalahan tersebut, karena Rena setelah Nathan pergi dia menceritakan semua kepada teman-temannya.
"Iya benar, memangnya kenapa?" timpal Nathan dan langsung balik bertanya, dalam hati dia hanya menduga-duga, apakah teman-teman Rena itu tidak menyetujui hubungan dengannya.
"Tidak apa-apa, malahan aku sangat bersyukur bila kau serius dengannya, tapi bila kau kembali menyakiti Rena lagi, lebih baik tinggalkan dia sekarang juga," ucap Mia dengan nada sangat serius sambil memandang tajam ke arah lawan bicaranya itu.
"Jangan khawatir, karena aku serius dengan hubungan kami ini dan rencananya bila Rena sudah mempertimbangkannya aku akan secepat mungkin untuk menikahinya," ucap Nathan tidak kalah serius.
"Baguslah, kalau memang kau mempunyai niatan yang serius seperti itu, karena asal kau dia baru saja sembuh dari luka hati yang sangat dalam," ucap Mia, sontak perkataan tersebut membuat Nathan terkejut sekaligus penasaraan.
"Luka hati yang terlalu dalam, maksudnya?" tanya Nathan, lalu Mia pun menceritan perjalanan hidup Rena selepas putus dari dirinya, mulai dari ketika dia menjalin kasih dengan pemuda kampung tempat dia bertugas, yang berakhir dengan sebuah penghinaan di depan umum pada pemuda tersebut oleh keluarga Rena.
__ADS_1
Dan Rena pun di paksa menikah dengan orang yang tidak dia cintai pilhan keluarganya sendiri, yang berasal dari kalangan konglomerat hingga akhirnya dia sempat pindah ke negeri sakura bersama suaminya dan berakhir dengan sebuah malapetaka di dalam rumah tangganya, bahkan berefek pada merosotnya ekonomi keluarga Wijaya.