Asa Di Ujung Lembayung

Asa Di Ujung Lembayung
Jonathan


__ADS_3

Arunika sang surya yang terbit dari arah timur mulai menyebar menerangi setiap jengkal bumi nusantara tak terkecuali di kampung Padasuka, perpaduan kidung alam bagai orkesta lokananta yang begitu indah mengiringi langkah kecil dua insan yang tengah menyusuri pemetangan sawah.


"Sebentar lagi kita sampai rumah," ucap Zahra memberi semangat sambil ditangannya membawa rantang makanan, dia melihat putri kecilnya seperti sudah kelelahan berjalan diantar ladang-ladang milik beberapa tetangga.


Memang karena hari ini, hari minggu dan kebetulan Zahra juga tidak piket jaga di puskesmas (sungguh kebetulan yang menyenangkan), maka sejak sebelum embun menguap, ibu dan anak itu pergi bersama Rehan untuk pergi ke ladang, karena setiap musim kemarau tiba semua petani di kampung tersebut memilih untuk menanam palawija, tapi mereka di sana hanya sebentar karena setelah makan bersama istri dan putrinya Rehan itu pamit pulang.


Meski Rehan sudah mempunyai usaha sendiri yang tidak mengharuskannya panas-panasan ditengah terik matahari, yaitu usaha bengkel elektronik yang dilengkapi dengan konter handphone dan juga kelengkapan alat-alat elektronik lainnya, apalagi sekarang dia mempunyai rumah produksi berbagai macam olahan kerupuk yang sudah berjalan hampir satu bulan, tapi itu semua tidak menghalanginya apalagi gengsi untuk menggarap sendiri tanah peninggalan ayahnya itu.


"Umi, ayo kita balapan sampai rumah," seru Rina sambil melangkahkan kakinya lebih cepat.


"Awas... Ntar jatuh lagi," ucap Zahra memperingati Rina.


"Ahh.."


"BUKK"


Baru saja reda ucapan yang keluar dari mulut Uminya itu, Rina yang tengah sedikit berlari kakinya tersandung membuatnya terjatuh dari pemetangan sawah.


"Sayang.. Kamu gak apa-apa?" tanya Zahra khawatir akan keadaan putrinya itu.


"Uuhh... Sakit, yah lecet," seru Rina terus duduk di pemetangan sawah, terlihat pakaiannya sedikit kotor dan lututnya mengalami luka akibat menimpa daun putri malu, matanya mulai sembab.

__ADS_1


"Sayang... Ayo kita lomba!" ucap Zahra


"Hahh?"


"Kalau Rina gak nangis, Rina yang menang dan sebagai hadiahnya kamu boleh memakan coklat sepuasnya," lanjutnya memberi janji manis pada putrinya, supaya tidak menangis.


"Ughhh..." gumam Rina mencoba berdiri sambil menahan sakit.


"Horeee... Rina gak nangis, berarti Rina menang dan boleh makan kue sepuasnya," seru Rina senang yang sekarang berdiri dengan meletakan kedua tangan dipinggangnya, lalu melanjutkan langkahnya meski berusaha sekuat tenaga menahan sakit.


"Wahh.... Hebat, tapi syaratnya harus sampai diobati nanti di rumah," ucap Zahra tersenyum, mereka terus berjalan diantara pemetangan sawah.


"Pulang Cu, mampir dulu atuh" sapa Aki Darja yang tengah duduk dibalai bambu depan rumahnya, ketika mereka sampai jalan setapak yang mengarah masuk ke kampung


"Ehh? Hyaaa... Aaawwwww.... Sakitt..." seru Rina, yang langsung diobati oleh Uminya dengan mengoleskan betadine setelah sebelumnya dicuci dengan air bersih.


"Yaa nangis berarti kalah dong? berarti gak jadi makan coklat sampai puasnya"ucap Zahra menggoda.


"Obatnya perih banget Umi," timpal Rina sambil meringis menahan sakit pada lututnya.


***

__ADS_1


"Kepada para pendatang dari negeri sebrang, selamat datang di ibukota nusantara. Dan kepada seluruh warga ibukota, selamat terbangun dari mimpi indahnya dan kembali ke kehidupan nyata.... Selamat berakhir pekan” ucap awak maskapai ketika pesawat hendak landing.


“Silahkan tetap duduk sampai pesawat ini telah berhenti dengan sempurna dan sampai lampu tanda kenakan sabuk pengaman sudah di padamkan,” sambungnya kembali, memperingati semua penumpang untuk mengenakan safetybelt yang sudah disediakan.


"Hmmz... Sekarang mungkin aku memang seorang pendatang, tapi negara ini adalah tempat aku dilahiran dan dibesarnya, tempat dimana menyimpan kenangan manis yang berujung kepahitan akibat cinta," gumam seorang pria sambil memandang keluar jendela pesawat.


Setelah pesawat sempurna mendarat, pria tersebut bergegas berjalan diantara kumpulan manusia menuju tempat pengambilan barang.


"Dokter Jonathan?" tanya seorang supir pribadi, menyapa pria yang ternyata bernama Jonathan tersebut.


"Iya benar, apa bapak orang yang disuruh menjemput saya? timpal Jonathan dan balik bertanya.


"Iya betul Dok, mari biar saya bawa barang-barangnya," ucap pria paruh baya tersebut, lalu membawa koper Jonathan untuk dibawa masuk ke mobil.


Dokter Jonathan Alfarizi adalah Dokter lulusan University of Melbourne dengan predikat 50 mahasiswa lulusan terbaik di Universitas tersebut, dia adalah dokter spesialis penyakit dalam dan selepas tamat kuliah Jonathan langsung mengabdi di rumah sakit terkenal di negara Kanguru tersebut selama hampir tiga tahun lebih.


"Hmmz... Sudah hampir sepuluh tahun aku meninggalkan negeri ini ternyata banyak sekali perubahannya, yang tidak berubah hanya macetnya saja, bagaimana kabar teman-teman SMA juga teman kampus ya? dan bagaimana kabarnya Rena apakah dia sudah menikah dengan orang yang sederajat menurut kriteria keluarganya tersebut," gumam Nathan dalam hati sambil menikmati kemacetan ibukota.


Memang Nathan sempat menjalin kasih dengan Rena sejak SMA dan memutuskan mengakhiri hubungannya pada awal-awal kuliah kejuruan, karena dia pernah dicerca habis-habisan olek Kakaknya Rena sebab menurut saudaranya dia tidak pantas dengan adik mereka itu.


Dan Nathan yang merasa sakit hati atas ucapan tersebut, lalu memutuskan Rena tanpa menjelaskan kebenaran padanya, membuat Rena kecewa pada Nathan yang berpaling darinya dan memilih seorang perempuan lain, padahal itu semua hanya dalih Nathan saja, sejak putus dari Rena dirinya memilih berhenti kuliah dan memutuskan melanjutkan kuliahnya di luar negeri.

__ADS_1


#Minta dukungannya dengan meninggalkan jejak like dan kalau bersedia boleh di vote juga biar Othor semangat.


__ADS_2