
Melbourne Airport adalah bandara yang pernah masuk kategori tersibuk di kawasan asia-pasifik, bandara yang membutuhkan waktu tempuh yang hampir sembilan jam lebih untuk sampai dari bandara soetta tersebut memang selalu ramai baik penerbangan domestik maupun internasional.
Nathan yang baru saja tiba disana tepat pada pertengahan malam, memilih untuk beristirahat di tempat duduk yang tersedia di dalam bandara, karena dia malas untuk keluar malam mencari tempat penginapan dan lebih menunggu pagi bersama penumpang lain, padahal bisa saja dia mencari hotel terdekat karena dia pikir lebih baik menghemat biaya seminimal mungkin.
"Papa..." Seru seorang gadis yang sepertinya hampir sebaya dengan Rina dan langsung berlarian memeluk Nathan.
"Amira sayang," seru Nathan pula yang membalas peluk dari gadis cilik tersebut dan langsung mendekapkan ke pangkuannya.
"Gimana sekolahnya Nak? kamu gak nakal kan?" Tanya Nathan kemudian.
"Ya cukup menyenangkan pah, enggak dong," jawab jujur sang putri bermata coklat tersebut, penuh kegembiraan karena hampir satu bulan lebih meraka belum bertemu kembali, memang sejak dirinya memutuskan untuk pulang ke tanah air tiga bulan yang lalu, dirinya baru dua kali menemui putri kandungnya itu, karena cukup sibuk dengan urusan pekerjaannya.
"Tapi katanya kamu kemarin sakit?" Tanyanya lagi.
"Iya, kemarin Amira terjatuh dari tangga," jawab Amira.
"Kok bisa jatuh?"
"Iya soalnya kemarin kepala Amira ngedadak terasa pusing dan penglihatan pun semakin buram tapi sekarang sudah baikkan kok," Jawab Amira lagi.
"Apa Amira punya gejala vertigo?" Gumam Nathan dalam hati.
"Kakek dan Neneknya Amira pada kemana?" Tanya Nathan pada gadis Babby Sister yang menjaga Amira.
__ADS_1
"Pak Albert dan Nyonya sedang keluar sebentar, mungkin siang nanti pulangnya," jawabnya.
"Ouh... Begitu ya, sudahlah kalau begitu kamu hari ini santai saja atau bisa beristirahat lebih cepat juga tak apa, soalnya saya mau membawa Amira jalan-jalan dan hanya kami berdua," ucap Nathan pada Baby Sister tersebut, perkataan dari menantu majikannya sontak membuat dia senang namun agak ragu.
"Tapi, bagaimana tanggapan Pak Albert juga Nyonya pada saya?" Tanyanya agak ragu.
"Tenang saja, biar nanti saya yang bicara pada mereka, bila mereka memarahimu biar aku yang jelaskan," ucap Nathan meyakinkannya.
"Baik Pak, terimakasih," timpal Sang Baby Sister, dia pun bersorak gembira dalam hatinya, karena sudah tiga minggu dia belum pernah mendapatkan hari liburnya.
"Mira udah makan belum?" Tanya Nathan pada putrinya yang masih setia bergelayut manja dipangkuannya.
"Baru sedikit," timpalnya sambil mengembangkan senyum dibibir mungilnya itu.
"Horree," teriak senang Amira.
"Kalau begitu Papa masukin koper ini dulu ke kamar, dan kamu juga harus tampil cantik, jadi harus ganti baju juga, oke.."
"Oke..." Seru Amira, dia sangat senang ayahnya mengajaknya jalan-jalan, karena kakek dan Neneknya jarang sekali mengajaknya keluar dengan alasan sangat sibuk mengurusi bisnis yang dikelola mereka saat ini, yang mana bisnis tersebut adalah pemberian dari Nathan karena bagaimana pun mereka adalah Ayah dari istrinya yang telah memberikan seorang buah hati untuknya.
"Apa kakek dan Nenek jarang ada di rumah?" Tanya Nathan setelah mereka berada disebuah restoran disalah satu tempat pariwisata yang ada di Melbourne.
Amira tidak menjawabnya, karena dirinya sedang menyuapkan kue tartnya ke dalam mulut dan sebagai gantinya dia hanya menganggukkan kepala membenarkan pertanyaan dari ayahnya itu.
__ADS_1
Nathan yang mendapat jawaban tersebut merasa sungguh sangat prihatin, padahal mertuanya itu pernah berjanji akan merawat Amira dengan baik, ketika mereka menolak Amira untuk dibawanya pulang ke tanah air.
"Apa Amira mau ikut dengan Papa ke negeri indonesia, dan tinggal bersama Papa disana?" Tanya Nathan sambil menatap putrinya yang tengah asik menghabiskan makanan yang ada didepannya.
"Dan nanti disana kita akan tinggal bersama Mama baru Amira yang sangat mendambakan kehadiran Amira," lanjutnya
"Benarkah? Amira mau banget," seru senang gadis bermata hazel tersebut apalagi dia yang sejak masih balita, memang kurang kasih sayang dari sosok seorang ibu, dirinya sangat antusias mendengar penuturan dari Papanya itu, Nathan yang mendengarnya pun ikut merasa bahagia, jadi sekarang dirinya tinggal meyakinkan kedua mertuanya.
"Bentar kita telpon dulu mama barumu itu," ucap Nathan dan dirinya pun langsung mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Rena.
"Hallo Mom.. how are you mom? (bagaimana kabarnya mama?)" ucap Amira menyapa Rena yang kelak akan menjadi ibu sambungnya.
"I'm fine," timpal Rena, mereka pun cukup lama berbincang, meski sebatas lewat telpon tapi hubungan itu mulai terjalin diantara keduanya, setelah makan siang dan menelpon Rena mereka pun kembali melanjutkan jalan-jalan berkeliling di taman hiburan tersebut.
"Papa Ayo kita naik permainan itu," teriak Amira menunjuk salah satu wahana yaitu wahana komidi putar.
"Iya, iya, tapi pelan-pelan dong jalannya," timpal Nathan yang jemarinya di pegang dan ditarik oleh tangan kecil Amira yang tidak sabaran untuk menaiki wahana tersebut.
Seharian penuh Nathan dan Amira menghabisakan waktu bersama, dan mencoba berbagai wahana yang ada ditaman hiburan Luna Park Melbourne tersebut.
#Terimakasih telah membaca cerita mimin, biar semangat upnya, bisa tinggalkan jejak seperti like or komen dan jangan lupa kasih bunga atau vote juga boleh.
#Dan biar gak jenuh nungguin part selanjutnya mimin ada rekomendasi novel yang tidak kalah kerennya, yuks segera dicek.
__ADS_1