
"Maaf apakah tuan-tuan dan nyonya ini sudah ada janji dengan pimpinan perusahaan kami?" tanya security setelah mereka sampai di depan perusahaan yang dulu milik keluarga Bramono itu.
"Saya ingin bertemu dengan tuan Higurashi,cepat segera hubungi dia," ucap Pak Bramono tanpa mempedulikan pertanyaan dari seorang security, kini mereka sudah berada disebuah gedung perkantoran bertingkat untuk memastikan sesuatu.
"Hohohoo.... Saya kira siapa, ternyata mantan pemegang saham perusahaan ini, bagaimana kabar anda Tuan Bramono, apakah anda berniat untuk membeli kembali saham yang telah putra anda jual?" ucap orang yang dipanggil Tuan Higurashi tersebut.
"Maksud ucapan anda apa tuan Higurashi," ucap kaget Pak Bramono dengan tutur kata yang kolega bisnisnya itu, bahkan sepertinya sekarang dia tidak menganggap dirinya lagi sebagai pemilik perusahaan ini.
"Asal Tuan tau bahwa sekarang anda tidak lagi mempunyai sedikitpun, saham disini," timpal tuan Higurashi.
"Apaa, tidak mungkin, kenapa bisa jadi seperti ini?" seru kaget Pak Bramono, karena bagaimana pun dia menanam saham disana sebesar 80%, jadi bisa dibilang Pak Bramono adalah pemilik perusahaan ini, tapi alangkah kagetnya dia bahwa sekarang dirinya tidak mempunyai lagi satu persen pun saham disana.
"Heh.. Anda tanya kenapa? kenapa tidak tanyakan saja pada putra tuan yang tidak berguna itu?" ucap tuan Higirashi begitu menohok.
"Apa anda tau perusahaan ini nyaris saja bangkrut gara-gara ulah anak bapak yang tidak bisa mengelola dengan baik, bahkan terkesan sangat buruk, tidak mempunyai etos kerja sama sekali sebagai pimpinan, dia lebih sering berkeluyaran tidak jelas dan menghambur-hambur uang kantor,"
"Andai keluarga Sumitomo-san tidak membeli saham dan mengambil alih perusahaan ini, mungkin semua karyawan disini sudah jadi pengaguran semua," lanjut tuan Higurashi.
Rombongan Pak Wijaya pun kaget sekaligus tidak percaya mendengar kabar tersebut, apalagi Pak Bramono yang terlihat lemas sekaligus geram bercampur sesal, karena telah memberikan kepercayaan pada anak keduanya itu.
__ADS_1
"Permisi tuan Higurashi, saya mau menanyakan sesuatu pada anda," ucap Keysa mencoba menyela percakapan kedua orang tersebut.
"Hmmz... Baik silahkan," ucap Higurashi sambil memandang kearah Kakaknya Rena tersebut.
"Sekarang dimanakah keberadaan Niko dan istrinya itu?" tanya Keysa.
"Kalau itu saya kurang tau, karena sejak menjual semua sahamnya pada Tuan Sumitomo-san, saya tidak pernah lagi berhubungan orang itu," ucapnya yang bahkan seperti enggan menyebutkan nama Niko sama sekali.
"Bocah tak tau diuntung, kukira dia akan berubah setelah menikah, apakah aku terlalu memanjakannya dan selalu menuruti keinginannya," gumam Pak Bramono dalam hati.
"Maaf bila tidak ada lagi hal yang penting, saya permisi dulu, karena banyak hal yang saya urus, selamat siang tuan-tuan dan nyonya," ucap tuan Higurashi dan langsung melangkah meninggalkan rombongan Pak Wijaya yang masih shock mendengar kenyataan tersebut.
"Harus bagaimana sekarang kita pah? apa kita terus mencari keberadaan-," ucap Keysa setelah mereka sudah berada diluar gedung.
"Hey, maksud Pak Bramono apa? menyalahkan adik saya, apa anda tidak mendengar penjelasan dari tuan Higurashi tadi dan juga keterangan dari tuan Sakazuki sebelumnya, bahwa anak bapaklah yang tidak becus menjalankan bisnis,"
"Saya heran bagaimana cara dia mendapatkan gelar S2 nya itu, apa dengan cara menyogok apa gimana atau dia mendapatkan ijazahnya itu dengan cara membeli dari dosen?" ucap Keysa yang tidak terima atas tuduhannya pada adiknya itu, yang keluar dari mulut si pengusaha properti tersebut, yang menurutnya tidak mendasar sama sekali dan terkesan tutup mata atas kelakuan anaknya sendiri.
Dan setelah perdebatan yang cukup panjang dan menguras emosi, pada akhirnya kedua keluarga itupun memutuskan berpisah untuk mencari sendiri-sendiri keberadaan anak mereka.
__ADS_1
~
Setelah berpisah dengan keluarga Bramono, Pak Wijaya memilih untuk pergi ke bandara dan memutuskan pulang ke ibukota, sementara masalah pencarian keberadaan putri bungsunya dia menyerahkan kepada Keysa.
"Ck.. Apakah putrinya tidak lebih penting dari sebuah pekerjaan," gerutu Keysa setelah mengantar kepergian ayahnya.
"Hmmz.. Sekarang aku harus mencari lagi kemana keberadaan adikku itu, semoga saja dia baik-baik saja," ucapnya lagi, sambil mengeluarkan nafas berat.
Sementara jauh disebuah pinggiran kota tokyo, lebih tepatnya ditengah hutan yang lebat dan menurut kepercayaan penduduk sekitar disebut hutan terlarang, terlihat seorang wanita memakai baju lusuh tengah berlari tergesa-gesa dengan raut muka yang begitu ketakutan, seperti menghindar dari kejaran sesuatu.
"Brukk"
"Arrghhht, Kang Rehaan," erang wanita tersebut kesakitan, karena salah satu kakinya tersangkut akar pohon membuat tubuhnya tersungkur ke tanah, lalu pandangannya mulai kabur efek dari kepalanya terbentur sebatang pohon yang tumbang, dan wanita tersebut tidak lain adalah Rena Wijaya Putri,
"Ojiichan, cepat kemari sepertinya ada orang terluka disini," seru seorang perempuan tua memanggil suaminya, karena dia terkejut melihat seorang wanita yang tidak sadarkan diri.
"Hmmz... Siapa dia Obaachan? dari raut wajahnya sepertinya dia bukan dari negara ini, apa dia seorang pelancong yang tersesat?" ucap Suaminya tersebut setelah mendekati sang istri.
"Tapi kan ini tempat ini jauh dari keramaian kota dan juga tempat pariwisata," lanjut si suami yang masih menerka-nerka.
__ADS_1
"Sudah, sudah lebih baik kita bawa saja dulu ke kuil untuk merawatnya terlebih dahulu, sini biar kayu bakarmu, aku saja yang bawa," ucap Si istri pada suaminya.
Sepasang suami-istri yang tidak muda lagi itupun membawa Rena ke tempat mereka, lalu bagaimanakah nasib mantan Bidan muda tersebut, apakah dia akan bertemu lagi Rehan suata saat nanti.