Asa Di Ujung Lembayung

Asa Di Ujung Lembayung
Ikrar Suci


__ADS_3

"Woy.. cepat bantu naikin kue-kuenya ke mobil bak terbuka, yang dibawa sama Si Rijal biar nanti saya dibelakang yang jagain," Teriak Akbar pada beberapa remaja tanggung yang tengah duduk dikursi yang sedang menikmati kopi hitam yang disediakan oleh tuan rumah.


"iya-iya Kang, bentar nanggung ngabisin kopinya dulu tinggal seteguk lagi," gerutu para remaja yang tengah istirahat sambil memainkan handphone, dan setelah meminum sisa kopi merekapun mulai beranjak untuk membantu senior mereka.


"Ck... Lelet amat sich anak muda jaman sekarang, mainnya HP mulu," gerutu Akbar jengkel.


"Hahaha... Kenapa kau ngedumel wae Bar, kurang ngopi ya?" tanya Rijal yang melihat Akbar lagi mengatur tata letak kue dimobil yang dia bawa.


"Nih ngopi dulu napa," Lanjut Rijal sambil menyodorkan kopi pada temannya itu.


"Bentar nanggung Jal, ngomong-ngomong kemana si Azis? kok belum nongol tuch bocah," timpal Akbar dan menanyakan teman sejawatnya.


"Noh... Tuch baru datang bareng sama kulkas dua pintu!" seru Rijal menunjuk ke arah Azis dan istrinya, untungnya mereka masih dijarak yang cukup jauh dan suasana juga tengah ramai, jadi ngomongannya tidak terdengar oleh istrinya Azis, andai terdengar olehnya bisa-bisa Rijal langsung dibanting layaknya pemain smackdown dalam ring.


"Udah beres semuanya ya?" tanya Azis setelah mendekati kedua temannya, sementara istrinya langsung ke arah rumah untuk bertemu dengan Umi Kinan.


"Ah, telat maneh mah bro, saya mah udah dari tadi naikin perabotan sama kue-kue nich, bro mah baru datang gimana sich," seru Akbar yang langsung turun dari bak mobil setelah semua sudah tertata dengan rapi.


"Hehee... Sorri bro saya kesiangan, semalam sepulang dari sini, bini ngajak jogging, jadi bangunnya agak kesiangan, andai mertua gak gedor pintu rumah, mungkin kita bablas sampai jam delapan," ucap Azis nyengir sambil garuk rambut yang tidak gatal.


"Ah, kau ini, eh ngomong-ngomong petasannya udah disiapin belum?" tanya Rijal.


"Udah kayaknya, tadi sama bocah-bocah," timpal Akbar.


~


Waktu hampir menunjukan Jam tujuh pagi, orang-orangpun semakin ramai di rumah maupun di depan gang dan sudah cukup banyak mobil berjejer dengan ditempel secarik kertas di depan dan belakang kacanya bertulisankan *Rombongan Besan kampung Padasuka*

__ADS_1


Yups... Hari ini adalah hari dimana Rehan dan Zahra akan melangsungkan janji suci yang akan terucap dalam sebuah akad pernikahan.


Acara pernikahan ini, hanya butuh kurang dari dua bulan saja sejak Rehan mengajak Zahra ke tempat wisata gunung batu dan mengungkapkan perasaan padanya, Karena pada minggu kedua setelah itu Rehan memberanikan diri datang kepada orang tua Zahra untuk menikahi putri mereka, dan dengan gembira kedua orang tua Zahra menerima lamaran tersebut.


***


Sementara di tempat tinggal mempelai wanita juga tidak kalah ramainya, dirumah dua tingkat tersebut telah banyak tetangga dan sanak saudara berkumpul untuk menyambut calon besan yang menurut kabar akan tiba sekitar Jam sembilan pagi.


"Akhirnya, teman kita satu lagi bakal Sold out, tinggal si preman pasar nich," ucap Miia sambil melirik ke arah Lena.


"Tenang aja bulan depan gue juga udah pasti bakalan nyusul, nich kalian lihat," timpal Lena bangga sambil menunjukan hari kelingkingnya yang sudah terpasang cincin tunangan.


"Wah... Berarti bulan depan giliran kita makan di rumah loe, bentar dua minggu kedepan juga saudari laki gue juga bakal ada acara hajatan nich, hahaa," seru Mia senang.


"Dasar loe, pecinta wisata kuliner hajat, pantas aja badan loe tambah semok aja," cibir Audy dan kedua temannya pun langsung tertawa.


"Tapi gue mau tanya sesuatu, yang sudah lama gue pendam Zah," ucap Lena setelah tawa mereka reda, lantas kedua temannya langsung menatap ke arah Lena.


"Mau tanya apa? kayaknya serius banget," ucap Zahra sambil membenarkan bunga yang terpasang di atas hijabnya.


"Hmmz...Apa Benar Rena meminta loe menggantikannya untuk bersanding dengan pria yang pernah dia cintai?" tanya Lena dengan ragu karena takut temannya tersinggung.


"Dan apa loe akan merasa bahagia dengan pernikahan ini yang notabenya adalah yang mungkin dia itu bukan cinta yang loe pilih sendiri pada awalnya?" tanya Audy yang juga penasaran dari semenjak dia mendengar cerita tersebut dari Lena.


"Tapi kalau gak mau jawab juga gak apa-apa, karena apapun keputusan loe, kita akan tetap dukung dan semoga loe selalu bahagia setelah menjalani bahtera rumah tangga," timpal Mia, untuk sejenak ruang terasa lengang, dan Zahra hanya menatap tak percaya dari mana mereka tau? bahwa dirinya dan Rena membuat janji seperti itu.


"Gue pernah gak sengaja denger waktu loe berbicara dengan pemuda yang kini akan menjadi suami loe, waktu kita liburan bareng ke puncak," ucap Lena yang mengerti tatapan dari temannya itu.

__ADS_1


"Hmmz... Baiklah gue akan jujur sekarang agar kalian tidak merasa khawatir, dan maaf telah menyembunyikan hal ini pada kalian, memang pada awalnya gue diminta Rena untuk menjadi kekasihnya Kang Rehan agar bisa menyembuhkan luka dihatinya, karena dia begitu merasa bersalah telah menyakiti perasaannya," ucap Zahra mulai menjelaskan.


"Tapi setelah kenal beberapa bulan dengannya, perasaan cinta itu telah tumbuh, gue cinta akan sifat baik hati dan kejujurannya, ternyata dia adalah orang yang terbaik selama ini gue cari, dan tuduhan-tuduhan yang dilontarkan oleh saudara dan ayahnya Rena waktu itu adalah hanya untuk mempermalukan Kang Rehan semata,"


"Bahkan sekarang gue berterimakasih pada Rena yang telah memberi kesempatan untuk bertemu dan mencintai pemuda seperti Kang Rehan, bahkan ucap syukur atas kebahagian itu kian bertambah setelah Kang Rehan datang ke rumah, bertemu orangtua gue untuk melamar pada bulan yang lalu, jadi kalian tidak usah khawatir, gue bahagia banget malah sekarang ini," Ucap Zahra.


Obrolan merekapun terhenti karena suara petasan yang terdengar dari arah luar, dan ternyata rombongan besan mempelai Pria telah datang dengan disambut suara Rebana dari pihak mempelai wanita.


"Ayo sudah waktunya, kita temui pangeran dari sahabat kita ini," ucap Lena sambil menuntun tangannya Zahra untuk keluar dari kamarnya.


~


Setelah acara sambutan dan doa-doa, kini semua mata tertuju pada acara utama yaitu acara proses ijan qobul pengantin, sudah banyak pasang mata yang berkumpul dan bahkan ada yang mengabadikan moment tersebut.


"Saudara Rehan bin Rashid saya nikah dan kawinkan engkau dengan saudari Zahratunnisa binti Musthopa dengan Mas kawin seperangkat alat sholat dan dua gram emas dibayar tunai" seru penghulu sambil memegang erat tangan Rehan.


"Saya terima nikah dan kawinnya Zahratunnisa binti Musthopa dengan Mas kawin seperangkat alat sholat dan dua gram emas dibayar Tu-nai," Seru Rehan menjawab dengan lantang.


"SAHHH" teriak penuh riang para hadirin yang melihat prosesi ijab qabul tersebut.


***


Sementara jauh ditempat yang berbeda, seseorang tengah duduk termenung di meja kerjanya dengan ditemani beberapa berkas yang harus ditanda tangani, seperti tengah memikirkan sesuatu.


"Aku merindukan teman-teman dan juga Kang Rehan," gumam orang tersebut yang ternyata adalah Rena, sudah hampir satu tahun Rena yang kini menjabat sebagai pimpinan perusahaan tersebut.


"Hmmz... Bagaimana ya hubungan Zahra dan Kang Rehan saat ini? apakah dia bisa menggaet hati Kang Rehan yang sempat terluka, semoga saja Zahra bisa melakukannya dengan baik," gumam Rena, diapun hendak membuka akun sosial media lamanya, tapi sedetik kemudian dia urung melakukannya.

__ADS_1


__ADS_2