
"Jadi apakah ini salah satu perusahaan milik anda Pak Bambang?" Tanya Rudy dengan sopan, Daniel yang melihat kehadiran Pak Bambang juga begitu heran dengan calon mitra kerja barunya itu, yang begitu kebetulan bertemu di perusahaan kecil seperti ini, padahal biasanya bila ingin bertemu dengan bos jalan tol itu susahnya minta ampun harus mengatur jadwal minimal seminggu sebelum mengadakan pertemuan.
"Bagaimana kerjasama kita yang telah kami ajukan pada perusahaan anda beberapa waktu lalu? Bila kita mencapai kesepakatan itu akan menguntungkan kita bertiga, karena letak perumahan tersebut sangatlah strategis dan kalau boleh saya saranin, lebih baik anda pecat saja orang ini, karena orang kayak dia attitudenya sangat kurang sopan pada orang yang lebih tinggi martabatnya dari dirinya padahal dia hanyalah dari kalangan bawah semata," lanjutnya lagi menjelaskan keuntungan proyek baru yang sedang mereka garap bersama dan dirinya mencoba memprovokasi Pak Bambang.
"Tunggu, maksudnya orang yang sedang anda dibicarakan ini adalah Nak Rehan?" Tanya Pak Bambang memastikan, sementara Rehan hanya diam memperhatikan, dia hanya ingin tau hal apa lagi yang akan diperbuat oleh anak dari mantan konglomerat yang hampir jatuh itu.
"Iya, siapa lagi kalau bukan dia, karena dia terlalu besar kepala untuk orang semacam dirinya," ucap Rudy dan kembali menatap tajam pada Rehan yang sekarang berdiri di dekat meja karyawannya, sementara Fitri dan Nida dua karyawan lainnya yang ada di dalam kantor tersebut merasa heran dengan sikap kakaknya Rena itu.
"Fit, ini kakaknya Teh Rena agak sakit kayaknya, masa costumer kak Rehan suruh memecat kak Rehan? Padahalkan Kak Rehan sendiri bosnya disini," bisik Nida pada Fitri.
"Ya gak taulah kok tanya saya?" Timpal Fitri sambil berbisik pula, jawaban tersebut membuat Nida sedikit berdecak sebal, karena dirinya nanya malah dijawab dengan pertanyaan balik, bisik-bisik kedua remaja yang baru saja lulus SMA satu tahun lalu itu pun terhenti ketika Daniel melirik ke arah mereka, si anak ketiga itu seperti mendengar percakapan mereka, padahal nyatanya tidak.
"Maaf anda sepertinya salah besar, saya bukanlah pemilik perusahaan ini, dan sebenarnya saya adalah costumer yang juga sebagai mitra bisnisnya pemilik perusahaan ini," ucap Pak Bambang mencoba menjelaskan.
"Dan orang yang anda hina-hina ini adalah pemilik sebenarnya mana mungkin saya berani memecatnya, dan kedatang saya kemari mau membahas kerjasama yang lebih besar dengan Nak Rehan, karena sepertinya kalian mempunyai kepentingan berbeda disini, jadi silahkan pintu keluarnya di sebelah sana," lanjut Pak Bambang mengusir halus kedua kakak beradik itu.
__ADS_1
"Dan satu hal lagi, jangan pernah menghina apalagi mengancam Nak Rehan, karena dia adalah kolega terdekat saya, untuk yang saya lihat dan dengar hari ini, saya memaafkannya, tapi kalau itu terjadi lagi, saya pastikan bukan hanya kerjasama kita yang akan batal, bahkan seluruh perusahaan berikat yang ada di negeri ini dipastikan tidak akan lagi mau bekerjasama dengan keluarga anda," ucapnya lagi memperingati dengan keras pada kakak pertama Rena tersebut.
Pernyataan dari Pak Bambang tersebut membuat keduanya tercekat tak bisa berkata apa-apa lagi kerongkong mereka bagai tersendat biji kedongdong, mereka pun bertanya-tanya hubungan apa yang terjalin diantara Bos jalan tol dan pemuda yang dia anggap sebelah mata tersebut, hingga membuat seorang pebisnis besar macam Pak Bambang begitu peduli padanya.
"Sudahlah, jangan terlalu dianggap serius Pak Bambang, dan Rena silahkan kamu pulang duluan saja mungkin ada hal penting yang ingin kedua kakakmu sampaikan," ucap Rehan setelah beberapa saat suasan sempat hening, entah apa yang ada didalam benak Rudy dan Daniel saat ini.
"Baiklah, kami permisi dulu, maaf telah mengganggu waktu anda dan Pak Bambang," ucap Daniel yang kali ini angkat suara.
"Kang Rehan, maafkan kelakuan dari Kak Rudy ya, saya permisi dulu, mari Pak Bambang," ucap Rena setelah kedua kakaknya pergi keluar, dia pun pamit.
"Fit, tolong buatkan minuman ya bawa ke ruang saya, ayo Pak kita duduk disana," seru Rehan pada Fitri, lalu diapun mengajak Pak Bambang ke ruang sebelah yang ada disamping ruangan Admin tersebut.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada anda dan kedua anak dari keluarga Wijaya itu?" Tanya Pak Bambang penasaran.
"Tak ada apa-apa pak, hanya permasalah sepele saja," jawab Rehan.
__ADS_1
"Hmmmz... Begitu ya, tapi bila memang Nak Rehan ingin memberi pelajaran pada kedua orang yang menyinggung anda itu, saya bisa memutuskan kerjasama yang mereka ajukan pada saya sekarang juga, dan bila perlu saya hubungi Pak Ichirou untuk membuat bisnis mereka hancur dalam beberapa bulan saja," ucap Pak Bambang dengan wajah serius.
Karena memang pada dasarnya kejatuhan keluarga Bramono yang berefek pada keluarga Wijaya itu juga ada sangkut pautnya dengan perusahaan berikat yang dipimpin oleh pak Ichirou tersebut, sebab anak pertama Bramono yang bernama Nicky pernah semena-mena terhadap salah seorang perkumpulan pengusaha yang aslinya berada ditangan Benjiro-san orang yang sangat berpengaruh di dunia bawah.
"Jangan sampai sejauh itulah, karena bagaimana pun mereka juga butuh makan untuk bertahan hidup, apalagi saya tak ingin membuat Rena bersedih dengan hal tersebut, karena memikirkan saudaranya nanti," timpal Rehan yang langsung menolak tawaran dari Pak Bambang.
"Hmmz... Ya itu tergantung anda juga sich, tapi saya salut sama anda meski dihina seperti itu anda tetap tenang menghadapinya," pujinya.
"Hahahaa... Bisa saja anda ini, saya hanya berusaha menghindari saja ngapain meladeni hal seperti itu hanya membuang-buang energi saja, lagian bukankah ada pepatah mengatakan Anjing menggonggong kafilah berlalu, biarkan mereka terus mengoceh yang penting kita terus maju untuk sebuah kesuksesan," ucap Rehan, Pak Wijaya hanya manggut-manggut setuju dengan perkataannya itu.
#Beri support dengan cara like atau coment agar Author semangat up lagi bisa kasih hadiah bunga atau vote ya.
#Biar gak jenuh nungguin Mimin up selanjutnya ada rekomendasi novel yang tidak kalah keren karya dari Author senior,, Yuks cekidot
__ADS_1