
"Jadi gak bisa naik sedikit lagi Kang?" tanya seorang bapak-bapak yang hendak menjual barang-barang elektronik pada Rehan.
"Hmmz... Sudah gak bisa pak, saya sanggupnya cuman segitu, bahkan yang ini mah kerusakannya sangat parah, kalau pun diperbaiki memakan biaya yang tidak sedikit," ucap Rehan sambil menunjuk salah satu barang yang ada dihadapannya.
Sudah hampir satu jam lebih Rehan berada di rumah tersebut, biasalah proses transaksi jual-beli memang selalu tarik ulur, macam perlombaan tarik tambang yang selalu diadakan setiap bulan agustus, maka dari itu selalu memakan waktu yang cukup lama bahkan kadang kala transaksi bisa saja mendadak batal kapanpun.
Si Bapak masih menimang-nimang tawaran yang diajukan oleh Rehan, meski agak berat hati dia pun menyetujui harga yang ditawarkan oleh pemuda yang ada didepannya itu.
"Baiklah deal, lumayanlah lebih tinggi penawaranmu dari pada dua orang sebelumnya, ayo dah angkut," ucap sibapak setelah berpikir cukup lama dan langsung menjabat tangan Rehan tanda proses jual beli sudah rampung.
"Terimakasih pak, semoga uangnya menjadi berkah untuk keluarga bapak," ucap Rehan sambil memberikan sejumlah uang pada mantan pemilik barang elektronik tersebut.
"Aamiin.. Makasih Kang, nanti kalau ada barang yang hendak saya jual, saya bisa hubungi Si Akang lagi kan?" timpal sibapak yang merasa cukup puas.
"Bisa, bisa asal harganya terjangkau, kalau begitu saya permisi dulu pak" ucap Rehan dan langsung pamit untuk pulang, karena hari semakin siang dan dia belum membuka rukonya.
"Hmmz... Apa aku mulai merekrut pegawai saja ya?, agar ketika aku bepergian seperti ini ruko masih bisa tetap buka, nanti dech diskusikan dulu sama Zahra," gumamnya dalam hati dan mulai menstarter mobilnya, setelah memasukkan barang-barang elektronik yang baru saja dia beli dijok bagian belakang.
Rehan pun memacu kendaraannya dengan kecepatan sedang, tetapi ketika dia sudah melewati pertigaan ada seseorang melambaikan tangan dipinggir jalan, seperti tengah meminta tolong.
"Apa mobilnya mogok ya, tapi kan aku gak terlalu hapal tentang mekanik, semoga saja cuman habis bensinnya saja, karena kalau mesinnya trouble bisa berabe, kan di daerah sini mah jauh sama bengkel," ucap Rehan berbicara pada diri sendiri sambil menghentikan mobilnya dibahu jalan.
"Ada apa pak, apa mobilnya kehabisan bahan bakar?" tanya Rehan setelah turun dari mobilnya, tapi ketika mendekat dia terkejut karena mobil tersebut sudah banyak yang penyok dibeberapa bagian, seolah mobil tersebut sengaja dibenturkan oleh sesuatu.
"Maaf Bang, saya minta tolong, saya titip pada anda untuk menjaga anak bos saya yang ada di dalam mobil, untuk sementara waktu, nanti bila saya selamat saya akan menemui anda lagi," ucapnya dengan nafas berat dan terlihat dibahu kanan dan pinggangnya banyak sekali darah yang merembas dibalik kemaja tuxedonya.
__ADS_1
"Hah.. Apa bapak telah dirampok, kenapa tidak lapor polisi, ayo saya antar ke kantor polisi terdekat, atau ke puskesmas terdekat dulu," seru Rehan cukup panik melihat orang tersebut penuh luka.
"Jangan, jangan kesana, rebih baik anda bawa saja putri bos saya segera, saya mohon dengan sangat," seru orang tersebut yang sepertinya umurnya tidak berbeda jauh dengan Rehan.
Tanpa menunggu persetujuan dari Rehan, pemuda tersebut langsung memindahkan seorang gadis yang sepertinya berumur sekitar 17 tahun yang tengah dalam keadaan pingsan dan juga mempunyai beberapa luka.
"Nama anda siapa?" tanya pemuda tersebut setelah memasukkan gadis yang dia sebut sebagai putri bosnya.
"Rehan" Jawab Rehan secara reflek dan dia pun masih belum mengerti dengan keadaan yang tengah terjadi.
"Baiklah Rehan-san perkenalkan nama saya Yoshiro, dan Nona tadi bernama Keiko-chan kami berasar dari jepang yang sedang liburan di negara ini, tapi ada insiden yang tidak terduga dan membuat nyawa nona Keiko-chan dalam bahaya, cepatlah sudah tidak ada waktu lagi sepertinya orang-orang yang mengejar kami semakin dekat," Ucap pemuda yang memperkenalkan dirinya sebagai Yoshiro itu.
"Ouh.. Saya hampir lupa, Rehan-san tangkap ini," seru Yoshiro melempar sebuah gelang kearah Rehan, meski penuh luka dengan darah yang tidak berhenti keluar, sepertinya Yoshiro mampu menahan rasa sakit tersebut, seolah dia sudah terbiasa menghadapi situasi hidup dan mati, lalu dia pun kembali masuk ke dalam mobil yang langsung memutar arah berlawanan dengannya dan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
***
"Yoshiro-san hari ini saya ingin berkunjung ke puncak dulu sebelum besok kita kembali ke jepang," seru Keiko ketika dia baru saja turun dari lift disebuah apartement mewah di daerah ibukota, dibelakangnya terdapat beberapa orang pengawal dengan setelan jas rapi.
"Puncak? bukankah hampir seminggu ini anda telah berlibur, ayolah.. Nona kita kesini untuk meninjau perusahaan-perusahaan cabang milik kita, lagi pula di negara kita pun ada puncak yang tidak kalah menarik, seperti puncak gunung fuji, jadi nanti saja kalau sudah disana anda ke puncaknya," ucap Yoshiro sang ketua pengawal dari Keiko.
"Ck.. Bukankah, tugas itu sudah selesai, lagi pula kalau sudah disana pasti ayah menyuruhku fokus untuk belajar, jadi mumpung kita disini lebih baik kita manfaatkan waktu sebaik mungkin," timpal Keiko tidak mau mendengarkan alasan dari pengawalnya itu.
"Huhhh... Baiklah, tapi kita hanya sebentar disana dan langsung balik lagi ke hotel, karena malamnya kita akan pulang kembali ke jepang," ucap Yoshiro yang terpaksa menyetujui permintaan dari Keiko selaku putri dari Bosnya tersebut, yang memang terkenal keras kepala.
Tapi sebuah bencana yang mereka tidak sadari, telah menunggu dan mengintai sejak mereka keluar dari lobi hotel, dan mengikuti rombongan tersebut sampai keluar ibukota.
__ADS_1
"Yoshiro-san sepertinya kita telah diikuti," ucap anak buah Yoshiro melalui earpiece, yang bertugas mengendarai mobil paling belakang untuk pengawalan.
"Berapa jumlahnya?" tanya Yoshiro.
"Sepertinya tiga mobil,"
"Oke terimakasih infonya, tapi ingat jangan bertindak gegabah, karena jalanannya cukup ramai, bisa gawat kalau kita masuk berita, meskipun kita bisa memanipulasi beritanya nanti, tapi kita tidak boleh terlalu menonjol," ucap Yoshiro.
"Nona Keiko-chan sepertinya kita telah diikuti," ucapnya mencoba memperingati Keiko yang berada dijok tengah.
Tepat ketika mereka berada dijalanan yang cukup sepi ketiga mobil itu langsung menyejajarkan dan benturan kendaraan pun tak dapat dihindari lagi.
"Woii... Hentikan mobil kalian" seru galak orang yang ada didalam mobil tersebut, dan decitan rem pun terdengar ketika orang yang ada dibalik kemudi menginjak rem dengan cepat.
"Yoshiro-san bagaimana sekarang?" tanya supir sambil melirik kearah Yoshiro, sementara Keiko yang berada dibelakang mereka, bersungut-sungut karena kepalanya terantuk pada jok yang ada didepannya.
"Mari kita turun dan hadapi orang-orang yang sok jago ini, beri mereka pelajaran, aku ingin tau siapa orang yang ada dibalik semua ini," ucap Yoshiro dengan kepercayaan yang begitu tinggi, karena bagaimana pun Yoshiro-san adalah salah satu dari sepuluh Bodyguard terhebat dikeluarganya Keiko.
Kini semua orang berkumpul dengan sikap waspada dan bersiap bertarung kapan pun saja.
"Kon'nichiwa Yoshiro-san, senang bisa bertemu dengan anda, seorang samurai muda yang terkenal dengan kehebatannya," ucap orang yang memakai penutup wajah layaknya seorang ninja.
"Sepertinya kalian juga berasal dari negeri yang sama dengan kami, Siapa kalian? ada urusan apa kalian mencegat kami?" seru Yoshiro mencecar mereka dengan pertanyaan.
"Hahahaa.... Kami disini tidak ingin berurusan dengan Yoshiro-san, jadi biar urusannya lebih cepat, saya ingin anda serahkan Putri dari keluarga Benjiro itu," ucapnya lagi.
__ADS_1
"Heh.. Berani sekali kalian, langkahi dulu mayat kami, serrraaaaang..." teriak Yoshiro-san memberi perintah, meski jumlah mereka tidak sebanyak musuh yang menghadang, pasukan Yoshiro-san sedikitpun tidak gentar sama sekali.