Asa Di Ujung Lembayung

Asa Di Ujung Lembayung
Dihantam Masalah part 2


__ADS_3

Dampak krisis global sangat berpengaruh terhadap sebagian perusahaan dan property, tak terkecuali perusahaan Bramono yang bergerak dalam bisnis property, saham-sahamnya yang terdaftar di bursa efek telah anjlok, membuat pembayaran kredit-kreditnya macet sampai puluhan milyar.


Sehingga pembangunan mega proyeknya yang di negeri Kanguru menjadi mangkrak, karena kontraktornya sudah mau lagi kerjasama akibat belum cairnya tagihan pembayaran selama hampir satu, itu membuat keluarga Wijaya yang bekerjasama dengannya pun kebagian buntungnya.


"Bagaimana ini pak, kok bisa jadi begini? apa Pak Bramono mempermainkan saya?" tanya Pak Wijaya ketika mereka mengadakan pertemuan disalah satu hotel bintang lima.


"Tenang saja pak Wijaya, kita tunggu sampai badai krisis dunia mereda jadi untuk sekarang jangan bahas itu dahulu," ucap santai Pak Bramono dengan penuh percaya diri.


"Ck.. Anda bisa tenang begitu, asal bapak tau karena rencana pembangunan ini, beberapa rumah sakit dan universitas saya sudah diambil alih oleh pihak lain, untuk menutupi kekurangan pembangunan tersebut, tapi apa? malah kerugian itu kian bertambah," ucap Pak Wijaya menahan geram.


"Ah iya, sebenarnya saya kesini ingin kembali meminjam uang pada Pak Wijaya, tenang saja tidak sebesar sebelumnya, hanya sebesar 100 milyar saja," ucap Pak Bramono lagi dan tidak mempedulikan keluhan besannya itu.


"Ck.. Tidak, saya tidak bisa lagi meminjamkan uang pada anda, karena keuang saya juga sedang koleps, jadi mohon maaf dan karena saya masih banyak urusan saya pergi dulu," timpal Pak Wijaya sembari berdiri dari kursinya dan langsung berjalan meninggalkan koleganya tersebut.


Setelah berada diluar dan hendak masuk kedalam mobil, tiba-tiba handphonenya berbunyi.


"Hallo... Ada apa Key? tumben kau menelpon papa," ucap Pak Wijaya ternyata orang yang menelponnya adalah anak keduanya.


"Papa, ini gawat Rena dan Niko tidak ada di apartemennya-," seru Keysa dengan nafas terengah-engah.


"Heh.. Kenapa meski panik gitu sich? kayak khawatir pada anak kecil saja, lagian mungkin mereka lagi makan diluar," ucap Pak Wijaya memotong pembicaraan putrinya tersebut.


"Ish... Dengarkan penjelasan Keysa dulu, ini masalah serius pak, karena tadi sebelum Key ke apartemen mereka, saya menyempatkan ke kantor perusahaan medical device dan Keysa sangat terkejut ternyata kita sudah tidak mempunyai saham lagi di sana," ucap Keysa menjelaskan situasi.


"Apaaa?" seru Pak Wijaya kaget, membuat supir yang hendak membukakan pintu untuknya juga terperanjat kaget, karena mendengar majikannya tiba-tiba berteriak, setelah menguasi diri agar lebih tenang, dia pun bergegas kembali menemui besannya yang masih di dalam restoran.

__ADS_1


***


Keysa dan suaminya memang sengaja berangkat ke negeri sakura untuk melihat keadaan adiknya, juga melihat bagaimana perkembangan perusahaan yang di pegang oleh Rena, dan tanpa menelpon sang adik terlebih dulu, karena dia berniat memberi kejutan pada Sang adik atas kedatangannya, yang memang sudah hampir dua tahun tidak bisa menemui mereka.


Tapi alangkah terkejutnya dia sesampainya disana selain tidak bisa menemui Rena, Keysa pun dikejutkan dengan kenyataan bahwa saham yang dimiliki keluarga Wijaya diperusahaan tersebut telah dijual.


"Ada apa ini, kenapa jadi begini, arrgh... Semakin dipikirkan malah semakin membuat kepalaku pusing saja," seru Keysa setelah keluar dari gedung tersebut.


Dia pun bergegas ke apartemen Rena untuk menanyakan kejelasan masalah yang baru dia ketahui, tapi kejutan itupun masih berlanjut, karena sesampainya ditempat yang dia tuju ternyata apartement itupun telah beralih pemilik, Keysa pun tambah panik dan langsung menelpon papanya untuk mengabari masalah yang menimpa perusahaannya.


"Sayang, sekarang apa yang akan kita lakukan?" tanya suami Keysa.


"Hmmzz.. Lebih baik kita cari hotel dulu dech, aku pingin istirahat dulu, keadaan ini membuatku terasa lelah," ucap Keysa, mereka pun meninggalkan apartement untuk mencari tempat beristirahat.


***


"Selamat Umi Kinan akhirnya udah mempunyai seorang cucu," ucap Bu Kades Nia.


"Iya Bu Kades terimakasih udah nyempetin datang," timpal Umi Kinan, ya pasangan suami istri tersebut tidak lain adalah Rehan dan Zahra.


"Yey... Kinan sekarang jadi ateu, hai dede bayi Rina," ucap Kinan penuh gembira menyapa keponakan barunya.


"Awas tuh, bau mulutnya nempel ke debaynya," timpal Rehan sambil tersenyum menggoda adiknya.


"Yey... Kak Rehan ngejek, kan Kinan udah sikat gigi tadi masa bau mulut, hah.. hah.. Tuch wangi herbal juga," seru Kinan tidak terima, berhah hah ria untuk memastikan bahwa mulutnya tidak seperti yang dituduhkan oleh Kakaknya.

__ADS_1


Memang setelah menikah dengan Rehan, Zahra kini tinggal bersama Rehan di kampung Padasuka, dan menempati rumah baru disamping rumah mertuanya yang baru saja dibangun beberapa bulan yang lalu.


***


"Sakazuki-san, sebenarnya apa yang terjadi, kenapa semuanya jadi seperti ini?" tanya Keysa setelah dia berhasil menemukan mantan orang kepercayaan Papanya itu, dan butuh sekitar lima hari untuk menemukannya, yang ternyata sudah beralih profesi menjadi seorang penjaga toko.


"Maaf Keysa-chan, saya pun tidak terlalu tau secara detail masalah tersebut, karena terakhir saya bekerja disana adalah ketika suaminya Rena-chan menggantikannya, karena waktu itu Rena-cha usia kandungannya semakin membesar, lalu ketika baru memimpin sekitar satu bulan saya pun digantikan oleh orang lain, jadi saya tidak tau apa yang terjadi setelahnya," ucap Sakazuki-san memberi penjelasan.


"Hmmzz... Apa mungkin si Nikolah yang telah menjual saham-saham perusahaan tersebut? tapi kenapa? dan juga dimana sekarang mereka berada?" gumam Keysa seperti sedang berbicara pada dirinya sendiri, lalu tiba-tiba telponnya berbunyi.


"Hallo Pak, iya pak sekarang saya berada direstoran cepat saji bersama Sakazuki-san, iya Pak, Keysa tunggu," ucap Keysa lalu menutup kembali telponnya.


"Dari Tuan Besarkah Keysa-chan?" tanya Sakazuki yang terlihat gugup karena dia merasa khawatir takut dirinya yang disalahkan.


Selang tiga puluh menit berlalu akhirnya Pak Wijaya yang ditemani ajudannya telah datang bersama dengan Pak Bramono yang juga membawa pengawal pribadinya.


Mereka pun tanpa henti menanyai Sakazuki-san tapi tetap saja, dia pun tidak tahu menahu.


"Siaall... Ini semua pasti gara-gara anak anda," seru Pak Wijaya pada Pak Bramono.


"Enak saja anda menuduh, anak saya pun tidak tau sekarang berada dimana," seru Pak Bramono tak terima.


"Sudah, sudah kalian jangan bertengkar, itu sama sekali tidak akan menyeleseikan masalah," ucap Keysa melerai dua pria tua tersebut.


"Pak Bramono, bukankah lebih baik anda menghubungi orang-orang kepercayaan anda agar kita lebih mengetahu akar permasalahannya," ucap Keysa kemudian.

__ADS_1


"Tidak, lebih baik kita lansung saja kesana," timpal Pak Bramono setelah sedikit lebih tenang, mereka pun beranjak dari restoran cepat saji, dan dengan perasaan yang berkecamuk langsung meluncur ke perusahaan milik keluarganya.


__ADS_2