Asa Di Ujung Lembayung

Asa Di Ujung Lembayung
Bicara Empat Mata


__ADS_3

Rehan masih memutar-mutar sendoknya dalam gelas yang berisi wedang jahe yang masih hangat, minuman kesukaannya sejak kecil itu menebar aroma harum jahe bakar dan manisnya susu menjadi satu.


Tidak terasa waktu begitu cepat melesat, seperti desingan peluru yang ditembakan oleh seorang sniper tanpa diketahui akan melintas dihadapannya, tanpa aba-aba, detik, menit, jam, berlalu merangkai hari menjadi bulan dan tanpa disadari berubah menjadi tahun.


Dan tak terasa sudah hampir tiga bulan, sejak pertemuannya terakhir dengan Rena sekaligus kepergiannya ketika dia berbicara akan dipersunting oleh lelaki pilihan orang tuanya, tapi tak peduli rentang waktu menebar jarak dan semakin bertambah jauh, meski kenangan itu sudah dia coba kubur dalam-dalam, tapi kenangan itu kadang selalu mencuat kembali, bahkan rasa cintanya tak berkurang sedikitpun, meski rasa sakitnya pun masih terasa.


"Hey Kang sudah lama nunggu ya?" seru Zahra yang baru saja tiba.


"Ah tidak baru sepuluh menit yang lalu, mau pesan apa?" timpal Rehan.


"Hmzz... Teh Manis anget saja dech,"


"Bu... Teh manisnya satu," teriak Rehan pada ibu penjaja minuman dan macam-macam kue juada basah tersebut. Memang sejak terakhir kali Zahra berkunjung ke rukonya, Rehan penasaran dengan ucapan perempuan itu dipenghujung percakapan mereka.

__ADS_1


Sehingga dengan mengumpulkan keberanian, Rehan meminta bertemu pada malam berikutnya, dan dengan sengaja dia membuat skenario seolah-olah bertemu tanpa sengaja ketika Zahra bertugas di posyandu balai desa, dan sekarang disinilah dia bertemu disalah satu angkringan yang ada didekat kota kecamatan, untuk berbicara secara empat mata dengan bidan tersebut.


"Jadi silahkan mulai introgasinya?" ucap Zahra tersenyum setelah menyeruput sebentar teh manisnya.


"Hah?" seru pemuda yang ada dihadapannya itu merasa terkejut.


"Bukankah Kang Rehan ingin menanyakan perihal ucapan terakhir dua hari yang lalu itu kan?" ucap santai perempuan yang selalu memakai hijab berwarna dasar biru itu, sambil menopang dagu dengan dua tangannya, apakah dia penyuka warna biru, entahlah hanya dia dan tuhan yang tau, seperti maksud ucapannya barusan.


"Bagaimana Teh Zahra tau bahwa saya akan menanyakan hal tersebut?" ucap Rehan dengan nada pelan.


"Hmmz... Karena Teh Zahra sudah bisa menebaknya, jadi saya langsung saja ke intinya, siapa sebenarnya Teh Zahra dan apa hubungannya dengan Rena?" tanya Rehan penasaran.


"Baiklah saya akan jujur, saya adalah teman baiknya Rena dan saya juga mengetahui hubungan kalian berdua dari dirinya, selain itu saya juga melihat apa yang terjadi pada Kang Rehan di acara pesta ulang Rena beberapa bulan yang lalu," ucap Zahra menjelaskan.

__ADS_1


"Jadi apa tujuan sebenarnya Teh Zahra? apakah Teh Zahra itu disuruh oleh keluarga besarnya Rena untuk mengawasi saya?" timpal Rehan mulai menuduh.


"Tidak, bahkan saya tidak pernah kenal sebelumnya dengan saudara-suadarnya Rena, soalnya Rena tidak pernah cerita bahwa dia berasal dari keluarga Wijaya dan kami pun baru tahu bahwa Rena berasal dari keluarga bangsawan ibukota, ketika dia mengundang kami ke acara ulang tahunnya beberapa bulan yang lalu,"


"Rena sendirilah yang menyuruh saya untuk bertugas disini, dia merasa khawatir dengan keadaan Kang Rehan setelah dia meninggalkan orang yang sangat mencintainya," Ucap Zahra menjelasakan perihal kedatangannya.


"Kenapa, dia ingin mengetahuinya? bukankah dia sudah bahagia dengan orang yang sederajat dengannya?" tanya Rehan penasaran.


Zahra hanya menghela nafas pelan, "Ah perasaan tetaplah perasaan, rasa itu tidak akan mudah dihilangkan bukan? kalian sendirilah yang paling tau, tapi kalian berdua terlalu banyak meramu prasangka-prasangka yang belum pasti, Rena misalnya dia terlalu cemas dan ragu ketika hendak mengungkapkan alasannya, juga Kang Rehan sendiri, sepertinya takut untuk bertanya pada Rena, takut karena mendengar hal yang menyakitkan? padahal kalian sempat bertemu sebelum pernikahannya bukan?"


"Iya, tapi aku menyadari sesuatu, ternyata aku selama ini bagai mengejar Rona senja, belum sempat ku meraih berharap tuk menggapainya, namun alam keburu membungkusnya dengan gelapnya malam," ucap Rehan lirih.


"Kang Rehan tahu gak, apa yang paling indah ketika bulan hendak bersinar? Mendoakan purnama, di kala warna Lembayung Senja mulai redup tertelan oleh gelap malam, begitu juga Rena, dia selalu mendoakan Kang Rehan tetap bahagia, meski kalian tidak lagi bersama," ucap Zahra sambil tetap memandang langit yang diterangi bulan nyaris sempurna dimalam ke-14 ini.

__ADS_1


Rehan hanya terdiam mendengar perkataan dari perempuan yang ternyata adalah sahabat dari mantan Kekasihnya itu.


Semakin malam, angkringan pun semakin ramai pengunjung, banyak muda-mudi yang saling bercengkrama menikmati malam minggu yang katanya malam yang panjang.


__ADS_2