
Terik matahari dan pengapnya udara di tempat perbelanjaan tradisioanal atau lebih sering disebut pasar, tidak membuat semua orang surut dalam lautan keramaian pasar apalagi hari ini adalah awal pekan membuat suasana tambah ramai dari hari biasanya, pedagang-pedagang berseru menjajakan dagangannya, ada yang saling tawar menawar harga.
Rena terlihat melangkah kecil diantara desakan para pengunjung lainnya, dia tengah membeli keperluan yang dibutuhkan sehari-hari, setelah mereka selesai menjual daun singkong yang berada dihalaman belakang rumah dan sisa uang hasil bekerja dari mengambil daun pisang.
"Ayo Bi," seru Rena ketika dia sudah selesai berbelanja, sementara Bi Ijah menunggunya di gerbang pasar kota kecamatan, sudah dua hari Rena mulai beraktifitas bersama Bi Ijah, mulai dari pergi ke kebun pisang, hingga menjual hasil panen sayuran meski tidak terlalu banyak, tapi itu sudah cukup untuk mereka berdua.
"Udah selesai Neng?" ucap Bi Ijah yang sekarang tidak lagi menyebutnya Non, karena Rena melarangnya, itu semua dilakukan agar Rena lebih merasa nyaman bersama dengan Bi Parijah, karena kalau masih menyebutnya Non, kesannya Bi Ijah seperti masih seorang ARTnya padahal sekarang dialah yang menumpang di rumahnya dan dia sudah menganggap Bi Ijah sebagai keluarganya.
Mereka berjalan kaki menelusuri bahu jalan menuju rumahnya, dia melihat sebuah roku bertuliskan Bengkel dan toko elektronik mana yang cukup ramai sekali, terlihat dua pegawai tengah sibuk meladeni pembeli.
"Itu ruko siapa bi? ramai sekali ya" tanya Rena setelah mereka melewati ruko tersebut.
"Ouh... Yang tadi itu rukonya milik nak Rehan, memang selalu ramai setiap harinya, selain tempatnya strategis juga, dan katanya harganya juga gak terlalu mahal, dan sudah terkenal se kecamatan ini tentang kepuasan dalam hal menyervice segala macam elektronik, begitu yang pernah Bibi dengar dari tetangga yang pernah memperbaiki televisinya disana," Ucap Bi Ijah menjelaskan tentang ruko yang mereka lewati tadi.
"Hmmz... Ternyata Kang Rehan telah sukses sampai sejauh ini, tapi memang dari dulu aku yakin dia akan menjadi orang sukses," gumam Rena dalam hati.
"Apa Neng ingin mampir dulu kesana?" tanya Bi Ijah memastikan.
"Eh, gak usah Bi, takut ngeganggu, lebih baik kita pulang aja, kan masih adahal yang harus kita kerjakan, tapi benarkah Rehan selalu memberi Bibi sembako setiap bulannya?" timpal Rena, dan langsung bertanya kembali
__ADS_1
"Baiklah kalau si neng bilang begitu, iya memang setiap bulan nak Rehan selalu memberi Bibi sembako sejak dia memiliki roku tersebut, tapi sekarang bukan hanya Bibi saja yang diberi sembakao, namun semua orang jompo sama janda disetiap kampung sekitar juga kebagian sembako," ucap Bi Ijah.
"Hebat sekali dia ya Bi, padahalkan usahanya tidak terlalu besar," timpal Rena yang merasa kagum dengan mantan kekasihnya tersebut, yang ternyata sangat dermawan meski tak sekaya keluarganya dulu.
"Itulah hebatnya nak Rehan, neng lihat dua anak perempuan yang kerja disana tadi, mereka adalah anak yatim dekat rumahnya dan hampir putus sekolah karena masalah biaya, lalu nak Rehan menawarkan kedua anak itu untuk kerja disetiap akhir pekan sampai setengah hari, agar mereka tidak sampai berhenti sekolah," ucap Bi Ijah Kembali menjelaskan, sambil terus menelusuri jalanan yang menuju rumah mereka.
"Lewat sini aja, kalau lewat jalan raya akan memakan waktu, lebih baik memotong jalan melalui pemetangan sawah," ucap Bi Ijah, merekapun belok ke jalanan setapak yang hanya cukup untuk satu motor saja, itupun masih belum di aspal sama sekali.
***
"Ah... Nyampe juga akhirnya," seru Rehan setelah memarkirkan mobilnya didekat ruko miliknya, setelah turun dia langsung membuka pintu belakang untuk menurunkan beberapa barang.
"Biar saya bantu Kak Rehan," ucap seorang gadis remaja yang menghampirinya, menawarkan diri untuk membantunya
"Siti... Kalau sudah selesai dengan lembaran fotocopy, Maaf tolong buatin Es teh manis ya, kalau kamu mau sekalian aja ya, buat tiga gelas," seru Rehan pada gadis satunya lagi, yang tengah membereskan kertas fotocopy yang telah dipesan.
"Iya Kak, sebentar lagi selesai kok," timpal Siti.
Rehan dan Jamilah pun terus menurunkan beberapa barang elektronik dan juga beberapa gulung kabel listrik yang sengaja dia beli, setelah pertemuan dengan para petinggi pemilik perusahaan tadi pagi.
__ADS_1
"Sudah istirahat dulu Jam, entar aja menatanya mah, Tadi ada yang hendak nyervice gak Ti?" seru Rehan pada kedua kakak beradik itu.
"Ada tiga orang tadi Kak, hendak nyervice Ponsel,Camera sama televisi, tapi yang di tinggalin cuma yang hendak service televisi, yang dua lainnya mah, katanya nanti kesini lagi kalau Kak Rehannya sudah ada," ucap Siti menjelaskan, diapun menyerahkan rincian pemasukan toko selama mereka berjaga dari pagi.
"Ouh... Biarin kalau begitu, lebih baik kita minun dulu, eh sebentar ada yang lupa," seru Rehan sambil berlari kecil ke arah mobilnya, dan mengambil sebuah kantong kresek berisikan gorengan dan makanan ringan lainnya.
"Nah... Kan mantap kalau ada cemilannya, ayo mari kita eksekusi gorengan sama cemilannya," lanjutnya lagi.
"Bagaimana sekolah kalian?" tanya Rehan setelah beberapa saat hening, karena mereka fokus menyantap makanan.
"Alhamdulillah lancar Kak," jawab Siti.
"Bagus kalau begitu, tapi ingat kalau ada kegiatan sekolah, kalian gak usah kerja juga gak apa-apa atau kalau kalian merasa kurang sehat jangan maksain masuk kerja ya," ucap Rehan memberi kelonggaran terhadap mereka.
"Iya Kak," seru mereka serempak.
Ketika waktu sudah menunjukan jam sebelas lewat, Rehanpun menyuruh mereka pulang, karena memang jam kerja keduanya hanya sampai setengah hari saja.
"Nih, bawa pulang," seru Rehan, memberikan kantong plastik berisikan buah pirr dan buah anggur hijau, buah-buahan tersebut adalah pemberian Pak Bambang si pemilik Mall tempat Rehan menghadiri acara dari Pak Ichirou.
__ADS_1
"Terimakasih Kak, kalau gitu kami pamit pulang dulu, Assalamualaikum," ucap Jamilah sambil mencium telapak tangan Rehan dan diikuti oleh Siti.
Mereka berdua pulang dengan mengendarai sepeda, dimana Siti yang mengayuh sementara Jamilah duduk dibelakang, senyumpun terkembang bibir mereka karena dapat buah tangan dari Bos meraka, yang mana Rehan masih termasuk kerabat jauh dari kedua gadis tersebut.