Asa Di Ujung Lembayung

Asa Di Ujung Lembayung
Sifat Arogan Sang Kakak


__ADS_3

Rena terperanjat saat melihat kedua kakaknya yang secara tiba-tiba masuk ke tempat kerja dengan seenaknya, sementara kedua teman kerja Rena yang bertugas sebagai pengecek barang juga heran melihat dua orang yang belum mereka kenal masuk secara seenaknya bahkan tanpa mengucap permisi.


Seperti tidak ada sopan santunnya sama sekali, tidak seperti Rehan meski dia seorang pemilik rumah produksi tersebut, bos mereka itu tidak pernah absen mengucap salam dan menyapa semua karyawannya, ketika dia masuk ke ruangan tersebut.


"Kak Rudy, Kak Daniel? Kenapa kalian ada disini?" Tanya Rena pada kedua saudara laki-lakinya itu.


"Heh.... Kau ini, seperti melihat setan saja ketika melihat kami berdua, apa kau tidak senang?" Ucap Rudy balik bertanya, memang setelah mereka mendapatkan alamat dari Mia dan Audy, pagi harinya mereka langsung meluncur ke alamat yang tertera.


"Saya senang melihat kakak berdua, tapi ini masih jam kerja saya dan satu jam lagi jam istirahat, jadi saya mohon kakak tunggu saja di luar, agar tidak mengganggu pekerjaan disini," pinta Rena tapi sepertinya mereka tidak mengindahkan sama sekali.


"Ouh... Jadi kedua orang ini kakaknya Teh Rena ya, tapi kok beda banget kelakuan mereka, meski terlihat tampan tapi bila gak punya adab mah sama aja bohong," gumam Nida yang tampak mulai kesal dengan kedua orang tersebut, meski tak berani menegurnya dengan terus terang.


"Baguslah, kami juga senang melihat kau baik-baik saja, jadi ini tempat kerjamu sekarang pengap sekali tempatnya, pekerjaan mu semakin menurun saja, sungguh memprihatinkan," ucap Rudy lagi yang membuat Rena sakit hati.


"Apa kakak kesini hanya untuk menghina saya, kalau memang itu niat kalian sekarang juga lebih baik kalian berdua pergi," seru Rena yang mulai tersulut dengan ucapan kakak pertamanya itu.

__ADS_1


"Ada apa ini?" seru Rehan yang baru saja datang dan diberitahu oleh Pak Rt bahwa ada tamu yang hendak bertemu dengan Rena, dan ketika Pak Rt mengatakan bahwa Rena ada di dalam sedang bekerja, mereka langsung masuk begitu saja, meski sempat dicegah untuk menunggu saja, tapi kedua orang tersebut mengatakan ini sangat penting sambil ingin melihat kerja adiknya itu.


"Ouh... Ternyata kau ya? Apa kau juga bekerja di pabrik kecil ini juga? sebagai apa? Hmmz... Tunggu pasti kau bekerja sebagai kuli panggul disini ya?" Ucap Rudy bertanya dengan begitu merendahkan.


"Kalian tidak berubah sama sekali ya, masih suka merendahkan orang lain, jadi mohon maaf bila kalian berdua tidak mempunyai kepentingan di sini, lebih baik kalian pergi saja," ucap Rehan tegas, perkataan tersebut membuat Rudy berang.


"Heh... Bocah dusun, kampungan, siapa loe hah? Loe itu gak pantas berkata begitu apalagi mengusir kami, gue mau tau bosnya siapa disini biar gue saranin pada pemilik pabrik kecil ini bila ingin usahanya maju lebih baik pecat orang kayak loe ini, karena pasti akan membawa sial," Bentak Rudy sambil menunjuk-nunjuk muka Rehan, yang ditunjuk hanya menatap tajam padanya, tidak terlihat gentar sama sekali.


"Hmmz... Bocah dusun ya? Ya memang benar sich saya hanyalah bocah dusun, tapi saya bangga, karena asal kalian tau, nasi yang kalian makan, sayuran yang kalian santap atau ikan maupun daging yang tersaji di meja makan mewah kalian, itu sebagian besar, baik tenaga maupun pengelolahannya itu berasal dari kampung-kampung yang tersebar di negara ini, jadi jangan sombong hanya karena kalian orang kota, karena orang desalah yang menyuplai kebutuhan para orang kota macam kalian itu," ucap Rehan tajam dan tersulut emosi karena kata-kata dari Rudy yang merendahkan orang kampung.


"Kau..." Ucap Rudy tertahan.


"Sudah kak, jangan berbuat onar di tempat orang lain, kalau memang kalian ingin berbicara dengan Rena, ayo kita ke rumah Bi Ijah," seru Rena pada kakaknya sementara Daniel hanya berdiam diri tidak mau ikut campur.


"Ada apa ini Pak Rehan?" Tanya seseorang dan semua mata pun menoleh, alangkah terkejutnya kedua saudara Rena tersebut melihat sosok yang baru saja datang.

__ADS_1


"Pak Bambang?" Seru Daniel tertahan.


"Apa kabar Pak Bambang? Berarti pak Bambang pemilik perusahaan ya?" Tanya Rudy dengan sopan, perilakunya langsung berubah 180 derajat dihadapan orang tersebut.


Ya memang seperti itulah sebagian tabiat manusia bila mereka sudah memperoleh sedikit pangkat atau derajat, mereka akan sangat menghargai seserorang bila derajat mereka seimbang dan akan sangat menghormati bila derajatnya diatas mereka.


Tetapi andai lawan bicaranya adalah orang biasa yang tidak sederajat dengan mereka, mereka akan menghina, memandang sebelah mata (padahal tidak picek), bahkan tak segan menginjak-injak harga diri orang lain yang tak sederajat, tapi tetap itu hanya sebagian dan itu bisa disebut oknum.


Mudah-mudahan pembaca disini semuanya orang baik yang selalu menghargai sesama manusia tanpa membedakan Suku, bahasa ataupun adat, apalagi derajat, karena derajat manusia dimata Sang Maha Penguasa Alam Semesta adalah sama, yang membedakannya hanyalah amalnya semata.


#Yoks dukung Author biar semangat updetnya dengan cara like or komen, atau dengan memberikan hadiah bunga dan juga vote.


#Sambil menungu mimin updet selanjutnya mimin ada rekomendasi novel yang tidak kalah menarik yang berjudul Finding Love karya dari kak @merpati_manis. YUKS CEKIDOT


__ADS_1


__ADS_2